there’s something about geometry + architecture

March 22, 2011

Nama: Arsitektur, Jenis Kelamin: ?

Filed under: contemporary theories,perception — belonia90 @ 08:43
Tags: , ,

Berawal dari sebuah catatan “coba dibaca” di sebelah sebuah kalimat “Words and Building –Adrian Forty” yang ternyata menggiring penelusuran saya pada satu dari sekian banyak hal yang Adrian Forty bahas dalam essay-essay nya itu.  “Masculin- Feminine Architecture”, sebut saja jenis kelamin, ya jenis kelamin arsitektur.

Mungkin bukanlah sebuah hal yang aneh bagi yang pernah belajar Bahasa Jerman atau Bahasa Perancis dimana setiap kata benda memiliki jenis kelaminnya sendiri, seperti dalam Bahasa Perancis, “jenis kelamin” benda yang disebut menentukan partikel apa yang menjadi pengiringnya sebagai contoh mobil yang dalam Bahasa Perancis adalah “voiture” yang entah karena image tersiratnya atau karena akhiran vokalnya yang membuatnya menjadi berjenis kelamin betina (feminine) lalu diberi partikel untuk feminine yaitu “une” (un untuk jantan/masculin) menjadi “une voiture” . Padahal jika dilihat image mobil – otomotif sering dikaitkan dengan pria – macho – jantan tapi jika dilihat dari lekuk-lekuk tubuh mobil kebanyakan ada masuk akal juga jika menyebut mobil berjenis kelamin betina. Dari sini saya mendapat petunjuk mengenai jenis kelamin, 1. Kesan (image) dan yang ke 2. Bentukan fisik

Awalnya pemikiran saya terhadap konsep masculine-feminine ini tertuju pada siapa yang membuat karya arsitektur tersebut, apakah wanita ataukah pria namun ternyata konsep masculin-feminine architecture ini tidak sepenuhnya berkutat pada hal itu. (Saya jadi teringat akan salah satu kuliah di mata kuliah lain tentang penyebutan MAN-MADE instead of WOMAN-MADE yang seakan-akan sudah menunjuk bahwa arsitektur itu diperuntukan bagi pria-lahan pria-kecenderungan bentuk-bentuk yang dibuat pria yang simple-logika-ego dibanding bentuk-bentuk wanita yang terkadang membawa hati). Ya seperti mobil tadi jika arsitektur katakanlah adalah sebuah benda bukanlah tidak mungkin dia juga mempunyai jenis kelamin. “Penentuannya” setelah saya baca dari berbagai sumber merujuk pada petunjuk saya sebelumnya yaitu kesan atau bentukan fisik.

Seperti yang saya baca dalam sebuah situs berjudul “Ruskin and the female body: the feminine as the theoretical precondition for architecture” ditulis Juni 2009 oleh Anuradha Chatterjee, disebutkan tentang DORIC dan IONIC ORDER yang jika dikesankan dan ditelusur bentukan fisiknya DORIC terlihat lebih kuat-tegas dengan garis lurus seperti figur pria-jantan dibanding IONIC yang terlihat lebih langsing (slender ia menyebutnya) lebih luwes dengan ornament melingkar spiral seperti figur wanita-feminin yang halus dan lembut.

Jantan-Betina jadi mengingatkan saya pada Jembatan Teksas yang dibuat atas filosofi Lingga-Yoni. Jembatan Teksas yang memiliki jalan masuk dari Fakultas Teknik penyambutanya dibuat seperti penggambaran dari “jantannya Teknik” (mencuat-tegas) dan jalan ujungnya yang berakhir di Fakultas Sastra (FIB) yang mayoritas dihuni wanita penyambutannya dibuat seperti penggambaran “betinanya Sastra” (melingkar setengah lingkaran-luwes). Namun sayangnya hal ini kurang terkomunikasikan baik dari kesan maupun dari bentukan fisiknya sehingga filosofi yang sebegitu dalamnya hanya bisa dinikmati dari tulisan maupun cerita lisan, dirinya sendiri kurang bisa memunculkan kesan atau filosofi dibalik fisiknya pada penjelajah jembatan ini. Filosofi ini seakan hanya menjadi penghias dari struktur besar kebanggaan ini.

Pada akhirnya arsitektur, jenis kelamin=?, jantan-betina-atau jantan betina kesan atau karakter yang lahir dari tangan dan pemikiran para jantan dan betina bukanlah masalah karena arsitektur juga adalah ekspresi, media penyaluran, dia lahir berbentuk apa atau mengesankan apa itulah yang mencitrakan dirinya. Arsitektur bukanlah untuk siapa, dia ada tidak diperuntukkan khusus bagi pria saja atau wanita saja, jantan atau betinakah dia, Arsitektur itu merangkul semua, terbuka dan menggandeng semuanya, andai arsitektur punya mata, ia membuka lebar matanya bagi siapa saja yang ingin melihat sinarnya, sayang mata dunia menutupnya sebagian hingga terkadang tidak semua sinarnya bisa sampai ke semua orang dan menjadikannya memandang sebelah mata.

Sumber:

http://findarticles.com/p/articles/mi_m3575/is_1241_208/ai_64263439/

http://findarticles.com/p/articles/mi_6973/is_1_19/ai_n54399174/

4 Comments »

  1. menurut saya, “jenis kelamin” dalam arsitektur tidak hanya ditentukan oleh bentuk fisiknya saja, tetapi juga ada elemen lain seperti material, warna, dan pencahayaan yang membentuk kualitas ruang dalam atau tampilan design secara keseluruhan. jenis kelamin arsitektur ini juga tidak dapat disangkut-pautkan kepada gender arsitek yang merancang. dalam tulisan Flora Samuel yang saya baca, di sana ia menyebutkan bahwa Le Corbusier adalah seorang feminist. yang saya ingin tanyakan, bagaimana image maskulin/feminim tersebut berdampak bagi pengguna laki-laki/perempuan? ataukah tidak berdampak sama sekali?

    Comment by sikimangifera — March 22, 2011 @ 20:21

  2. Menarik, nih teh belo!😀
    Seorang filsuf Prancis bernama Foucault berpendapat bahwa seksualitas adalah salah satu bentuk kuasa. Sebagai representasi, arsitektur tentu bisa “membahasakan” kuasa tersebut, terbukti dari adanya sisi feminin dan maskulin ini. Hal ini bisa dilihat di arsitektur rumah Jawa yang menempatkan ruang para perempuannya beraktivitas di dalam, sementara ruang untuk prianya di depan, sehingga terkesan hirarkis (pria yang berkuasa). Walaupun begitu, budaya Jawa juga menekankan “keselarasan” dimana konsep “lingga-yoni” sering kali menjadi representasi hal itu (ia pun digunakan pada sambungan2 bangunan Jawa). Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata penempatan ruang perempuan di dalam dan ruang pria di luar pun juga dimaksudkan untuk mencapai “keselarasan” dimana perempuan dengan kasih sayangnya dirasa lebih tepat jika berperan di dalam rumah tangga, sementara sang pria mencari nafkah di luar.

    Saya juga mencoba menjawab pertanyaan Siki mengenai dampak “image” dari feminin dan maskulin itu. Jika kita mendapat “image” itu dari bentuk arsitekturnya, mungkin masing-masing orang memiliki pendapat yang berbeda-beda karena persepsi adalah hal yg subyektif. Akan tetapi, jika “image” didapat dari tata letak ruang seperti yang saya bahas di atas, tentu hal ini jg berpengaruh pada aktivitas sehari-hari kita.

    Comment by feby — March 23, 2011 @ 00:37

  3. Dalam bahasa perancis, terdapat partikel yang tidak mempedulikan jenis kelamin benda tersebut yang sebenarnya. Contohnya: “orang” dalam bahasa perancis, selalu memiliki bentuk feminim “la personne”. Padahal pada kenyataannya, “orang” tidak hanya berjenis kelamin wanita saja. Begitu juga dengan “profesor” yang selalu memiliki bentuk maskulin “le professeur”. Meskipun secara tata bahasa, “orang” adalah feminim namun tetap saja merangkul (bisa dipakai oleh) kedua gender. Demikian juga dengan bangunan yang memiliki image feminim tapi tetap saja merangkul semua orang.

    Ada juga karya arsitektur yang maskulin dan juga feminim. Misalnya warnanya feminim(pink), namun tekstur dan bentuk fisiknya maskulin (misalnya bentuk yang tegas dan kokoh). Ini yang disebut androgynous- yaitu yang memiliki kedua karakteristik feminim maupun maskulin. Lalu saya jadi bertanya, apakah ada bangunan yang tidak memiliki image maskulin maupun feminim? Setelah saya cari-cari di internet ternyata bangunan-bangunan serba polos, tidak menyentuh senar-senar emosi, tidak menggugah jiwa, tidak menarik, anonim, tunggal rupa atau monoton yang tidak memiliki gender. Ini yang disebut neuter architecture. Namun menurut saya, semua ini tergantung pada manusia yang mempersepsikannya. Bisa saja yang tidak menarik atau polos ini memberi image maskulin bagi orang lain.

    Kalau mengenai dampak image maskulin/ feminin tersebut bagi penggunanya selain sebagai suatu simbol (misalnya kostan warna pink bisa memberi isyarat bahwa kostan tersebut diperuntukkan untuk perempuan) tapi bisa juga dari segi tata ruang. Saya ingin menambahkan satu contoh. Misalnya suatu rumah merupakan rumah yang didominasi oleh perempuan yang suka memasak. Bisa saja ruang dapur diletakkan di depan untuk menunjukkan kekuasaan gender wanita di dalam rumah tersebut. Begitulah pendapat saya..

    Comment by austronaldo — March 23, 2011 @ 09:57

  4. feb etniknya dimasukin nih (rumah jawa) hehe, saya setuju dengan febi “jika “image” didapat dari tata letak ruang seperti yang saya bahas di atas, tentu hal ini jg berpengaruh pada aktivitas sehari-hari kita.”. dengan tata letak ruang, kita lebih sering mengalami ruang ketimbang melihat bentukan fisik secara keseluruhan (warna tekstur bentuk dll).
    zaha hadid dibilang “desain yang gentle atau maskulin” (kalau ngga salah sih saya pernah baca artikel tapi lupa dimana saya bacanya–>maaf kurang meyakinkan). desain zaha hadid dibilang maskulin dari pengkomposisian elemen-elemen desain, yang menonjol sih adalah garis yang tegas baik horizontal maupun vertikalnya.

    Comment by ferafarwah08 — March 26, 2011 @ 17:45


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: