there’s something about geometry + architecture

March 23, 2011

Ideal?

Filed under: ideal cities — yolasembiring @ 15:21
Tags:

Sekarang ini, banyak dijumpai perumahan-perumahan kelas menengah ke atas yang menawarkan berbagai fasilitas-fasilitas mewah yang mendukung keamanan dan kenyamanan penghuninya.  Fasilitas tersebut mulai dari petugas keamanan 24 jam, dinding pembatas dengan daerah luar perumahan yang tinggi, pintu gerbang masuk ke tiap blok yang hanya memiliki 1 akses dan dijaga ketat oleh petugas keamanan, bahkan hingga rumah yang kedap suara sehingga suasana di dalam rumah bebas dari gangguan suara-suara yang berasal dari luar rumah. Secara tampilan fisik perumahan tersebut juga terlihat asri, banyak rerumputan hijau dan bunga-bunga hias serta pohon-pohon yang menambah apik suasana, jalanan yang rapi dan rumah-rumah yang berderet teratur.

Para pengembang berusaha menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat meyakinkan calon pembeli bahwa perumahan tersebut aman dan nyaman untuk dihuni. Konsep ini sebenarnya seperti konsep-konsep ideal city dan utopia yang dicetuskan oleh beberapa orang ternama.

The Island of  Utopia oleh Thomas More:

… the fine appearance and the orderlines of the streets, houses, and gardens…

Kevin Lynch

… the ideal city reflects order, precision, clear form, extended space, and perfect control

Rosenau

… an ideal city represents a religious vision of  a secular view, in which social consciousness of the needs of the population is allied with a harmonious conception of artistic unity

Eaton

… cities whose life begins (and usually ends) in the form of ideas and which are often presented as being as close to perfection as possible..

Yang ditawarkan oleh perumahan-perumahan tersebut sama seperti apa yang dikemukakan oleh konsep-konsep ideal city di atas; fine appearance, perfect control, harmonious conception of artistic unity, as close to perfection as possible.  Tanpa harus ditegaskan, semua orang yang membaca iklannya akan tahu bahwa perumahan tersebut ditujukan bagi kalangan menengah ke atas, yang mempunyai cukup uang untuk membayar fasilitas-fasilitas tersebut.  Tidak ada tempat bagi kalangan menengah ke bawah, kecuali menjadi pekerja rendahannya.

Konsep ideal city tersebut ditujukan untuk diterapkan mencakup semua bagian kota, bukan sebagian saja. Hadirnya perumahan jenis seperti ini secara tidak langsung akan membagi-bagi mana kawasan untuk kalangan menengah ke atas dan mana kawasan untuk menengah ke bawah, justru menimbulkan pengkotak-kotakan di dalam kota itu sendiri. Adanya pengkotak-kotakan ini justru akan memperjelas perbedaan yang ada dan menjadi jauh dari harmony in unity seperti salah satu konsep ideal city. Seperti yang dituliskan dalam buku Jane Jacobs, The Death and Life of Great American Cities, kaum menengah ke bawah dan kaum menengah ke atas hidup untuk saling berdampingan mengisi kota dan membuat kota menjadi hidup.

Ditambah lagi perumahan-perumahan menengah ke atas tersebut biasanya di kelilingi tembok-tembok tinggi yang membuat batas antara perumahan dan dunia nyata menjadi sangat tegas. Dalam buku Vitruvius, The Ten Books on Architecture, tembok yang tinggi dibangung sebagai pertahanan terhadap kota tersebut dari musuh. Fungsinya untuk melindungi kota secara keseluruhan, bukan sebagian dan membentuk batas-batas di dalamnya. Sudah saatnya pembangunan perumahan-perumahan sejenis itu mulai dipikirkan lagi, agar kedepannya tidak semakin banyak yang membawa konsep ideal city ke bagian kecil dari kota saja, tetapi bagaimana suatu perumahan seharusnya dapat mendukung konsep ideal city secara keseluruhan di satu kota.

3 Comments »

  1. ada kiranya konsepsi mengenai ideal city kadang hanya sebagai pemenenuhan apa yang dilihat secara kasat mata, seperti yang dikatakan barnett, “no smell, filth, danger or noise, no old house, no cemeteries, no prisons, no slaughter houses with ugly appearance. Instead there are good house with broad and lighted streets”, sangat jelas dijelaskan bahwa ideal city dimana semua harus bersih, baru dan sempurna. namun keberadaan segala yang positif ini tidak bisa di nilai positif ketika kehilangan pembanding si nilai negatifnya. bila melihat dari kesehariannya, maka akan mudah diprediksi bahwa ideal city yang tercipta dengan perumahan seperti yang dijelaskan yola di atas dengan pendekatan idela city yang disebutkan para tokoh tadi, adalah susunan penduduk dengan gaya hidup individualis dan persaingan yang sangat tinggi, bahkan bisa disinyalir, antar neighborhood belum tentu saling mengenal.ketika tidak saling mengenal ini, artinya maka tidak saling menjaga, maka harapan ideal city mudah gagal, karena kriminalitas mudah masuk dalam susunan masyarakat yang lemah.

    Comment by triwahyuni89 — March 23, 2011 @ 21:45

  2. 4 kutipan dari konsep ideal city yang anda sebutkan berasal dari orang-orang Barat. dan memang ideal city sendiri merupakan sebuah konsep yang, menurut saya, kurang tepat jika diterapkan pada masyarakat kita. pada akhirnya, order yang anda maksud, atau pun orang-orang Barat ini maksudkan, akan menjadi disorder jika diterapkan pada masyarakat kita. jika mendengar cerita bagaimana kehidupan di perumahan-perumahan seperti ini, dari teman-teman, gotong royong(salah satu contoh dari ciri masyarakat tradisional kita) hampir menjadi kata yang tidak pernah eksis di dalamnya. padahal, gotong royong merupakan salah satu ciri masyarakat kita yang harusnya bisa membentuk order kita sendiri, tanpa harus menerapkan konsep-konsep orang Barat yang dapat menghilangkan ciri dari masyarakat kita sendiri.

    Comment by buyunganggi — March 25, 2011 @ 02:41

  3. ideal city ,,,
    hal yang terpikirkan oleh saya ketika melihat kata itu adalah seberapa kuat konsep ideal city itu mampu bertahan pada masa sekarang ? dalam artian bahwa ideal city menurut Vitruvius atau Jane Jacobs,masih dapatkah diberlakukan dengan konteks kota “kekinian”. Kalaupun ada adaptasi, seperti apa bentuk adaptasi itu ? Ataukah mungkin memang konsep ideal city itu tidak ada, hanya sebatas angan kita sehingga setiap orang bisa memiliki mimpi dan aturan sendiri mengenai ideal city…..

    Comment by miktha24 — March 25, 2011 @ 08:45


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: