there’s something about geometry + architecture

March 23, 2011

Organic Order?

Filed under: locality and tradition — buyunganggi @ 15:34
Tags:

Pada awal Februari 2011, saya pertama kali datang ke angkringan(tempat makan/warung kopi khas Jogja) di salah satu sudut di jalan Margonda. Angkringan tersebut mereproduksi teras/trotoar sempit di depan sebuah showroom mobil. Saat itu hanya terdapat gerobak makanan dan dua buah tikar gulung yang di gelar di samping gerobak, plus dua orang mas-mas pramusaji. Seminggu kemudian, tikar gulung bertambah menjadi empat. Dan beberapa hari berikutnya, ketika saya kembali lagi berkunjung, sudah terdapat kantilever sederhana yang terbuat dari terpal plastik yang disambungkan ke atap showroom sebagai penahan tampias air hujan.

Seorang tukang parkir, 6 tikar plus tikar cadangan, dan tambahan pramusaji adalah perkembangan angkringan ini ketika saya kembali dua hari berikutnya. Dan puncaknya, akhir bulan Februari, terdapat 8 tikar gulung(plus cadangan, dengan catatan tidak memungkinkan lagi digelar karena sudah sampai batas toko sebelah yang masih buka pada malam hari), sekitar 5 orang pramusaji, 2 orang tukang parkir(di kiri kanan sudah ada tanda batas parkir dari toko sebelah, saking penuhnya), panahan tampias yang lebih lebar, serta pangamen dan pengemis yang berdatangan silih berganti. Terhitung hanya sekitar sebulan angkringan ini menjadi salah satu tujuan favorit masayarakat sekitar. Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi hal ini?

Jika dilihat secara kasat mata, fenomena keramaian tempat makan ini merepresentasikan keberhasilan dari si penguasaha warung ini dalam berbisnis maupun berarsitektur. Bagaimana pun, sebelum membuka angkringan ini sang pemilik pasti telah memikirkan hal-hal mengenai para calon konsumen maupun konteks sosial  serta keruangan yang ada di tempat tersebut, walupun mungkin hanya secara sederhana. Akan tetapi, yang patut dipertanyakan, kenapa angkringan yang berasal dari Jogja bisa begitu cepat diterima dan cukup berhasil menarik minat masyarakat Jakarta. Padahal, Christoper Alexander (1977) mengatakan “it is shown there, that towns and buildings will not be able to become alive, unless they are made by all the people in society, and unless these people share a common pattern language, within which to make these buildings, and unless this common pattern language is alive itself .“ Dengan kata lain, sebuah bangunan akan bisa menjadi hidup jika bangunan tersebut dibuat sendiri oleh orang-orang yang ada dalam sebuah masyarakat tertentu, dan jika masyarakat tersebut memiliiki sebuah pemahaman yang sama mengenai ‘pola bahasa’ untuk membuat bangunan ini, dan dan juga jika ‘pola bahasa’ (atau mungkin juga bisa disebut budaya/kebiasaan setempat) ini harus tetap lestari di tengah-tengah masyarakat tersebut.

Dalam the Oregon Experiment (Alexander, 1975), disebutkan bahwa organic order is the kind of order when there is a perfect balance; between the needs of the parts, and the needs of the whole. Mungkinkah angkringan tersebut telah meyeimbangkan order yang ada di jalan Margonda? Atau kah prinsip partisipasi(Alexander, 1975) berperan dalam hal ini?

Sebenarnya, tidak diperlukan orang Jogja untuk membangun dan kemudian mereka nikmati sendiri angkringan tersebut. Berpegang pada prinsip user – oriented, Muf Art & Architecture, dalam Occupying Architecture(Hill, 1998), berhasil membangun sebuah shared ground yang mengakomodir kebutuhan masyarakat sekitar, the Tate(Museum baru yang melatarbelakangi dibangunnya shared ground), serta masyarakat baru yang akan mnendatanginya. Muf mewawancarai 100 penduduk lokal, bertanya tentang keinginan mereka terhadap pembangunan shared ground yang sesuai menurut mereka. Video rekaman ini kemudian dikenal dengan “100 desires for SouthWark Street”. Mengacu pada strategi ini, sebenarnya hanya diperlukan pengenalan terhadap konteks sosial, politik, dan material yang mendalam terhadap sebuah masyarakat agar arsitektur yang kita hasilkan dapat berfungsi dengan baik(Brandt, 1998).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: