there’s something about geometry + architecture

March 23, 2011

Planning Ideal City

Filed under: ideal cities — triwahyuni89 @ 15:00
Tags: ,

The ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home : a place for everything and everything in its place. (Lofland)

Ideal city dianggap sebagai pencapaian atas kesempurnaan hidup. Dimana semua keinginan dan kebutuhan manusia bisa didapat dalam satu kota yang ideal. Terhindarnya manusia yang hidup di dalam system ideal city jauh dari rasa ketidaknyamanan atau dapat dikatakan Ideal City merupakan pendekatan mengenai kesejahteraan. Mungkin ini hanya sedikit pembuka dari Lofland yang akhirnya membuat tokoh-tokoh terkenal setingkat Le Corbusier dan Ebenezer Howard ikut memutar otak untuk mendapatkan konsepsi Ideal City. Le Corbusier melihat Ideal city lebih kepada bagaimana semua yang ingin didapatkan mudah dicapai, penghematan lahan, serta kegiatan ekonomi yang dapat berjalan dengan baik. A contemporary city (1922) dan berlanjut dengan Plan Voisin (1925) menjadi contoh dari rencana ideal city yang ditawarkan oleh Le Corbusier.

Di sini sangat jelas bahwa Le Corbusier lebih senang dengan system grid yang ia anggap akan mempermudah untuk di lay-out, mudah untuk dipahami dan mudah untuk membagi lahan kota, setidaknya Le Corbusier pernah mengutarakan mengenai grid design : “Streets are often on a rigid grid design, or if not a grid, at least a pattern that looks very well-thought-out when observed in a scale model.”, opininya mengenai system grid memang banyak kita jumpai pada pola kota-kota sekarang ini. Namun, sayangnya pada dua ide mengenai Ideal city ini, Le Corbusier memaksakan para penghuninya untuk tinggal di gedung-gedung tinggi dan semua kegiatan terjadi di sana. Konsep ideal city yang modern memaksa bentukan dari bangunan terjebak pada bangunan tingkat tinggi yang berada dalam superblock dan memaksakan kehadiran taman sebagai penembus dosa akan vertical city yang dibangun ini. Dua rencana milik Le Corbusier ini dianggap hanya diperuntukan bagi kaum elit, sedangkan penduduk dengan ekonomi biasa tidak dapat menjadi bagian dari Ideal city yang dicanangkan Le Corbusier. Berbeda dengan konsepsi Ideal City dari Le Corbusier yang lain, yaitu Radiant City. Radiant City lebih merakyat, dalam hal ini, keberadaan apartemen bukan dilihat dari kekayaan namun lebih kepada kebutuhan, dimana kaum elit dan yang tidak elit dapat berkegiatan bersama dalam satu tempat. Le Corbusier menawarkan kebebasan dalam radiant city. Karena di dalam apartemen ini, ia memastikan para penghuni dapat menikmati tiap kemudahan yang ada, seperti restaurant yang memungkinkan para penghuni memesan makanan untuk di antar ke kamarnya atau adanya jasa laundry yang tentu memudahkan mereka. Bila ingin menikmati suasana alam, jangan sungkan ke rooftop garden. Namun dengan konsep Le Corbusier, penghuni menjadi tidak mengenal dunia luar, karena vertical city yang ia buat membuat penghuni akan berkegiatan tanpa berpindah keluar dari lingkungannya.

Berbeda dengan Le Corbusier, berbeda pula dengan Ebenezer Howard yang mengajukan dengan “The Town-Country Magnet”

Bila melihat dari bentuknya system yang digunakan jelas berbeda dengan Le Corbusier, di sini lebih terlihat bagaimana pembagian yang jelas terlihat dimana ada hunian, dimana letak industri, dimana letak pertanian yang menjadi sumber hidup mereka. Howard lebih memikirkan bagaimana menyatukan kota dan desa, memikirkan bagaimana menaikan kualitas hidup di desa dan di kota. Seakan-akan howard menskenariokan bagaimana proses kehidupan hasil dari rural yang bisa digunakan di area kota. Dan central park sebagai pusatnya merupakan tujuan tempat berkumpulnya orang-orang, bukan sekedar sibuk dengan kawasan hunian mereka saja. Howard tidak membatasi sebuah kota yang ideal adalah kota yang bersih sampai steril, namun ia lebih menekankan kehidupan yang sejahtera karena intervensi yang ia lakukan.

Referensi :

http://www.uky.edu/Classes/PS/776/Projects/Lecorbusier/lecorbusier.html

http://www.contemporaryurbananthropology.com/…/Howard,%20Garden%20Cities.pdf

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: