there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Gridlock vs Speed

Filed under: ideal cities — mutiahapsari @ 17:20
Tags: , ,

“A city made for speed is made for success” -Le Corbusier

Jakarta dan kemacetan ibaratnya mie ayam dan sambal, sulit untuk dipisahkan. Hampir semua orang yang tinggal di Jakarta pasti pernah merasakan terjebak di jalanan ibukota. Hal ini bisa dikatakan salah satu masalah terbesar di Jakarta, bayangkan saja, kerugian yang ditimbulkan kemacetan di Jakarta mencapai angka 27 triliun per tahun!  Jika mengacu pada konsep ideal city Le Corbusier di atas, tentu hal ini menjadi masuk akal, begitu banyak waktu yang  bisa kita pergunakan jika Jakarta dibangun dengan memperhitungkan efisiensi dan ease of  tranportation, ketimbang untuk dihabiskan di jalanan. Saya sendiri, jika ingin mencapai daerah Sudirman yang terletak di pusat kota dari rumah saya di Cinere, perlu menyediakan spare waktu paling tidak 2 jam untuk waktu perjalanan. 2 jam yang bisa saya gunakan untuk bekerja, berkumpul dengan teman dan keluarga, atau bahkan untuk sekedar menikmati sarapan.

Tapi apakah city of speed ini merupakan suatu konsep yang ideal untuk Jakarta? Mari bayangkan, apabila jalanan yang setiap pagi dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan bermotor, pejalan kaki berlalu lalang, hingga pengamen berkeliling dari mobil ke mobil, sepi layaknya jalan tol. Bayangkan jalan yang menjadi akses transportasi benar-benar berfungsi hanya untuk sirkulasi penduduk kota.

Lalu bagaimana dengan pedagang asongan yang sehari-hari bersyukur atas kemacetan, karena orang yang terjebak macet pasti tergoda untuk membeli dagangannya? Bagaimana dengan pengamen jalanan yang hanya bisa bernyanyi jika kendaraan berhenti saat macet? Bagaimana dengan orang-orang yang bisa kita ajak berinteraksi ketika bus yang kita tumpangi harus berhenti dalam antrian di jalanan?

Dalam pandangan saya, Jakarta yang seperti itu adalah Jakarta yang dingin,  bagaikan mie ayam tanpa sambal. Hambar. Tetapi Jakarta dengan kemacetan yang tidak terkendali juga bagaikan menuang sebotol sambal ke dalam mie ayam, terlalu pedas hingga membuat perut sakit. Kemacetan yang tak terkendali akan membuat Jakarta lumpuh suatu saat nanti. Menurut saya, sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana menciptakan Jakarta dengan speed dan ease of transportation dalam takaran yang tepat. Bagaimana mengatur jalanan Jakarta dengan prinsip-prinsip ideal city dan geometri, agar Jakarta menjadi kota yang “as close to perfection as possible” tanpa kehilangan identitas dan local content yang dimilikinya.

Sumber: 

http://humanitieslab.stanford.edu/UrbanSustainability/941

http://fathur05.wordpress.com/2009/04/03/the-city-of-tomorrow-khas-indonesia/

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: