there’s something about geometry + architecture

March 25, 2011

Kota dalam Film Kolosal – Bentuk Pencitraan Teori Vitruvius

Filed under: classical aesthetics — ajengnadia @ 23:14
Tags:

Materi saat pertama kali kuliah geometri sangat mengingatkan saya terhadap film-film yang sering saya saksikan di bioskop,fim bergenre drama action kolosial seperti 300, King Arhtur, Kingdom of Heaven, dan sebaginyalah yang membuat saya menjadi lebih merasa familiar dengan workshop Theory Vitruvius saat itu. Seolah melihat gambaran nyata apa yang disarankan oleh seorang panglima perang asal negeri Yunani ini. Bukan saran atas perlunya tiga hal utama di dunia arsitektur, seperti Firmitas, Utilitas dan Venustas, tetapi saran yang ia berikan kepada Paduka Raja nya dalam membangun sebuah kota yang bertahan dalam era saat itu, yaitu era penjajahan, guna pelebaran kekuasaan. Kota yang memiliki tembok tinggi kokoh dengan gerbang yang menjulang, tower pengawas di setiap sudut kota, pembagian jalan dengan sistem grid radial, dan sebagainya. Segala hal itu berdasar atas puluhan tahun pengalaman ia berperang, menyerbu kota jajahan atau mempertahankan kota kekuasaan.

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Seperti yang saya katakan sebelumnya, semua yang dikatakan oleh Vitruvius seolah digunakan pada kota karangan sang penulis cerita. Seolah kota tersebut memiliki tipikal yang harus digunakan dalam setiap kota saat jaman tersebut. Hal yang menarik bagi saya, apakah proses pembentukan semua kota yang tercipta sama dengan apa yang dikatakan oleh Vitruvius? Jika ya, lalu mengapa menjadi suatu hal yang sulit bila semua panglima perang dapat melihat bagaimana situasi kota jajahannya?

1 Comment »

  1. sebetulnya mungkin tidak tiap kota langsung menjiplak kata-kata viteuvius..pasti ada bedanya dan rahasianya tiap kota di masa lalu itu..
    makanya kan, ada yang mengatakan kalau arsitek di masa lalu, setelah merancng istana serta segala macam isinya, lorong-lorong rahasia, dll, ia kemudian dibunuh agar rahasia istana itu tak terbongkar..
    mungkin ia memang menggunakan standar-standar vitruvius tapi kemudian ia kembangkan kembali menjadi sesuatu yang lebih rumit dan indah, sehingga musuh pun tetap sulit menebaknya

    Comment by nurrisinda — April 1, 2011 @ 08:34


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: