there’s something about geometry + architecture

March 26, 2011

Optical Art

Filed under: architecture and other arts,perception — Prillia Indranila @ 15:43
Tags: ,

“Optical art is a method of painting concerning the interaction between illusion and picture plane, between understanding and seeing.” Op art works are abstract, with many of the better known pieces made in only black and white. When the viewer looks at them, the impression is given of movement, hidden images, flashing and vibration, patterns, or alternatively, of swelling or warping.” (http://en.wikipedia.org/wiki/Op_art)

Ilusi optik bukanlah hal yang asing lagi bagi kita, bahkan banyak seniman yang menggunakannya dalam karyanya sehingga menjadi karya seni yang menarik, yaitu optical art. Tahun lalu saya berkunjung ke Science Center di Singapore, dan di sana banyak karya-karya seni yang berkaitan dengan sains dan teknologi, termasuk pula optical art dengan bermacam-macam jenis. Kami sempat memotret beberapa optical yang terdapat di sana, contohnya adalah seperti ini:

Optical Art

Jika kita perhatikan, gambar tersebut menunjukkan wajah seorang bapak-bapak yang memakai topi seperti topi tentara dan baju berkerah dengan huruf dan angka di kerahnya. Apakah hanya itu saja? Ternyata tidak, setelah gambar tersebut dibalik 180 derajat, maka akan menghasilkan gambar seperti ini:

Optical Art

Ternyata apabila kita melihat gambar tersebut dari posisi yang berbeda maka akan menghasilkan gambar yang berbeda. Kalau dilihat dengan cara seperti ini, yang terlihat adalah wajah bapak-bapak berkumis yang sedang membuka mulutnya dan mengenakan topi yang berbeda. Selain karya tersebut, ada satu karya lagi yang membuat saya tertarik:

Optical Art

Foto-foto oleh Annisa Marwati

Gambar tersebut terlukis di lantai. Apabila kita melihat gambar yang ada di lantai, akan terlihat gambar sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak. Namun bagaimana kalau dilihat melalui sebuah silinder yang sengaja ditaruh di depan gambar tersebut? Wah, ternyata pada silinder yang merefleksikan gambar tersebut terlihat gambar yang sama sekali berbeda, yaitu gambar seorang laki-laki. Sungguh hebat menurut saya, sampai sekarang saya pun belum mengerti benar bagaimana cara membuatnya agar bisa tepat menghasilkan gambar yang berbeda.😀

Kedua contoh tersebut merupakan optical art yang mengandalkan persepsi manusia, tergantung bagaimana cara mereka melihatnya, walaupun dengan cara yang berbeda: pada gambar pertama diperlukan posisi yang berbeda untuk melihat sesuatu yang lain, sedangkan gambar kedua diperlukan media lain yang berbeda jenis permukaan untuk dapat menemukan bentuk lain, yaitu permukaan cembung pada silinder. Hal tersebut sesuai dengan teori Gibson (1979), yaitu “Ecological approach to perception”. Jadi, apabila manusia sebagai observer-nya itu bergerak, maka persepsi akan ikut beruban. Prinsip inilah yang digunakan para seniman untuk membuat karya-karya seperti ini, walaupun pada kedua contoh di atas hanya arah memandangnya saja yang berubah.

Apabila menyangkut tentang moving observer, ada contoh menarik yang saya temukan kemarin, yaitu Roy Lichtenstein House yang terletak di National Gallery of Art’s Sculpture Garden di Washington DC, Amerika Serikat.

Lichtenstein House

Video tentang Lichtenstein House:

 

(kalau videonya nggak muncul, ini link-nya: http://www.youtube.com/watch?v=jIpdajUHVtI)

Pada foto tersebut, jika kita melihatnya dalam posisi orang yang memotret Lichtenstein House ini, ‘rumah’ tersebut seolah-olah terlihat seperti rumah dalam wujud tiga dimensi, padahal sebenarnya ‘rumah’ ini hanya berupa sebuah bidang dua dimensi. Apabila kita melihatnya seperti yang ditunjukkan dalam video, ternyata rumah tersebut seolah-olah bergerak sesuai dengan arah pandang kita seiring kita bergerak seperti benda tiga dimensi. Teori Gibson tentang kita sebagai moving observer inilah yang digunakan pembuatnya sebagai ilusi optik ini, untuk ‘mentransformasikan’ bidang dua dimensi menjadi bidang 3 dimensi.

Teori Gibson menjelaskan mengenai human behavior dalam dunia tiga dimensi, sehingga apa yang kita lihat tergantung bagaimana dan dari mana kita memandangnya, itulah persepsi. Persepsi inilah yang dimanfaatkan seniman optical art dalam membuat karya seninya sehingga karya tersebut seolah-olah bermain dengan penglihatan kita. Tertarik untuk mencoba membuat optical art?😀

Referensi:

http://www.coolopticalillusions.com/blog/2007/06/06/house-illusion-3-different-videos-artist-roy-lichtenstein/

1 Comment »

  1. wah jadi teringat teori gibson “medium,surface dan substance”. ternyata pameran yang disingapur yang gambarnya bisa dilihat di silinder besi, memperlihatkan kepada kita bahwa kita bisa melihat objek kapal-kapal di medium yang berbeda dengan syarat memnggunakan teori persepsi “ecological perseption”, yaitu mempunyai daya pandang yang berbeda dari satu view. dengan begini memperlihatkan keragaman teori yang tanpa disadari hasil karya ini menjadi bagus. bagaimana kalau ingin membuat teori persepsi ecological perseption dan teori gibson “medium, surface dan substance” yang sama dengan satu titik ya?

    Comment by ferafarwah08 — March 26, 2011 @ 16:34


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: