there’s something about geometry + architecture

April 4, 2011

Graffiti dan Ideal City

Filed under: architecture and other arts,ideal cities — mahasiswainterior @ 20:27
Tags: , ,

Tulisan ini akan membahas mengenai graffiti yang menurut saya adalah salah satu pembentuk ideal city.

Sebelumnya, graffiti adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Dalam perkembangannya kini, graffiti sering digunakan sebagai sarana ekspresi ketidakpuasan terhadap keadaan sosial maupun politik. Karena itu, banyak orang yang beranggapan bahwa graffiti merupakan salah satu bentuk vandalism/perusakan sarana umum yang merusak atau mengotori ruang publik.

Pandangan yang demikian menurut saya adalah pandangan yang terlalu sempit dan sebelah mata. Bagi saya, graffiti yang banyak berkembang di Jakarta belakangan ini justru merupakan sebuah alternatif untuk menciptakan Jakarta sebagai kota yang ideal bagi para penduduknya. Seperti yang disebutkan dalam kuliah sebelumnya yaitu :

ideal city : an alternative to the chaotic situation, which can be achieved through social reconstructing and ordering of the chaotic environment.

Sebagai contoh penjelas, sebut saja salah satu grafiti Popo (seorang seniman Graffiti yang cukup ternama di Jakarta) yang bertajuk “Jangan Pucat Liat Jakarta Macet” tepat di tembok sebelum gerbang tol Lenteng Agung I di Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Gambar tersebut memperlihatkan Popo yang sedang kesal ketika berada di dalam kendaraan menyerupai UFO atau pesawat luar angkasa yang terjebak dalam kondisi kemacetan.

Sang seniman mengaku terinspirasi oleh masyarakat yang sering sekali mengeluh tentang kemacetan, padahal hal tersebut memang sangatlah sering terjadi di Jakarta. Melalui graffiti yang ia buat, ia ingin mengkritik pemerintah, sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih sabar menghadapi kemacetan yang terjadi setiap hari tersebut.

Graffiti disini menjelaskan bahwa ideal city harapan masyarakat adalah kota yang tidak macet dan memiliki arus lalu lintas yang lancar. Mengingat hal tersebut tidak pernah terlaksana selama bertahun-tahun lamanya, sang seniman berusaha melakukan social reconstructing, dengan berusaha mengubah cara pandang masyarakat, dan membuat masyarakat lebih menerima hal tersebut.

Selain sebagai kalimat penenang bagi orang-orang yang dilanda kemacetan, kalimat ini juga berfungsi ganda sebagai kalimat sarkastik yang ditujukan bagi pemerintah. Dengan demikian, sang seniman telah berusaha ‘merapikan’ lingkungan yang tidak seharusnya (ordering of the chaotic environment)

Bagi saya, yang dilakukan oleh Popo sang seniman graffiti ini adalah salah satu bentuk penyuaraan diri mengenai ideal city dengan menggunakan versinya sendiri. Walaupun hingga sekarang, tidak ada tindakan langsung dari pemerintah untuk menjawab kritikan tersebut, setidaknya Popo dan seniman graffiti lainnya telah berusaha memasukkan konsep ideal city mereka ke dalam hati orang-orang yang melihat karya mereka. Ideal city disini memang bukan yang dilihat secara fisik, namun dengan dapat menerima kondisi Jakarta apa adanya sekarang, orang-orang telah membentuk ideal city baru bagi dirinya masing-masing yang terasa lebih harmonis dan menyenangkan.


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Grafiti

http://bataviase.co.id/node/524679

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: