there’s something about geometry + architecture

April 4, 2011

Impossible Figures

Filed under: perception — dewibudiyanti @ 20:29
Tags: ,

Mata menangkap dan merekam hal-hal yang telah dilihatnya. Ketika kita sering melihat berbagai hal berulang kali. Maka ketika kita melihat sesuatu, walaupun tidak terlalu jelas maka mata kita akan memunculkan memori-memori yang lama sehingga kita dapat langsung mengetahui benda yang kita lihat. Jika pun benda itu tidak sama, maka memori yang lama itu akan menggugah kita untuk membandingkan kemiripan kedua benda itu (yang ditunjukkan dari memori dan yang dilihat secara langsung)

Contohnya adalah jika seseorang melihat atau memikirkan sebuah kubus yang memiliki warna berbeda setiap sisinya maka beberapa orang akan mengingat ‘oh, Rubiks ya’ karena keduanya memiliki warna dan bentuk yang serupa. Lalu misalnya ada sebuah coffee table dan dining table, kita akan menganggap kedua fungsinya sama karena bentuk keduanya serupa, berdasarkan memori kita sebelumnya.

But we don’t always see what we see, begitulah kata beberapa orang. Tidak semua yang kita lihat itu benar, beberapa hanya merupakan ilusi mata saja. Apa yang kita anggap benda A bisa saja ternyata benda B, atau mungkin malah bukan keduanya.

Contohnya adalah pada gambar  ini. Gambar ini menceritakan tentang sebuah gerbang. Ketika kita melihat bagian atas gerbang tersebut maka kita dapat memastikan bahwa gerbang itu menghadap ke kiri. Namun ketika kita hanya melihat bagian bawah gerbang maka kita pun menganggap gerbang itu menghadap ke kanan. Ketika melihat keseluruhan gambar akan sulit menentukan sebenarnya dimanakan arah sebenarnya gerbang itu menghadap.

Contoh ke-2 adalah gambar trident di bawah ini. Ketika melihatnya secara sekilas kita akan menganggap bahwa ujung persegi panjang di bagian kiri adalah di persegi di kanan, dan persegi di tengahnya adalah perpanjangan dari tengah-tengahnya. Namun setelah kita lihat lebih jauh, yang terlihat bukanlah persegi panjang namun sebuah balok. Lalu berubah lagi dengan balok yang ujungnya menjadi silindris dan menghadap ke atas. Lalu setelah kita lihat lebih lanjut maka kita akan menyadari bahwa balok kiri tidak berujung balok yang di kanan. Keduanya tidak berhubungan dan bukan dari bagian yang sama.

Apa yang dilihat oleh mata tidak selalu benar. Kita harus lebih teliti ketika melihat segala sesuatu. Sebenarnya kedua gambar di atas tidak dapat ditemukan kebenarannya. Karena setiap orang akan memiliki pemikiran dan alasan masing-masing untuk setiap pendapatnya. Menurut saya, yang membuat sesuatu menjadi benar adalah seberapa paham kita atas apa yang kita lihat. Dan kebenaran itu tidak selalu hanya ada satu.

2 Comments »

  1. membaca tulisan ini mengingatkan saya terhadap teori persepsi. saya teringat akan film yang pernah saya tonton berjudul 12 Angry Man, dikisahkan tentang seorang wanita yang bersaksi telah menyaksikan pembunuhan dan yakin betul telah melihat pembunuhnya yakni seseorang A. namun ternyata, wanita ini tidak benar-benar melihat A (karena pada saat ia melihat, ia tidak menggunakan kaca mata), namun karena ia terlanjut berpersepsi bahwa sudah tentu A, maka ia seolah melihat A yang membunuh.

    “seberapa paham kita atas apa yang kita lihat”

    saya kurang setuju dengan pendapat anda. sebab, pemahaman kitalah yang menimbulkan persepsi. padahal persepsi bukanlah fakta. sedangkan kebenaran=fakta.

    Comment by imaniarsofi — April 5, 2011 @ 20:32

  2. Berdasarkan teori, kedua bentuk yang ada diatas merupakan salah satu bentuk dari ilusi optik kognitif, tepatnya ilusi paradoks. Yaitu ilusi yang terjadi disebabkan oleh suatu benda paradoksial atau benda yang tidak mungkin terjadi. Contoh lain dari ilusi optik tipe ini adalah tangga mustahil dan segitiga penrose.

    Menurut saya kedua benda tersebut lebih bicara soal suatu ketidakmungkinan dibandingkan kepada perbedaan persepsi. Karena keduanya tidak menimbulkan persepsi yang berbeda. Jika diperhatikan baik baik, semua pasti setuju dan memiliki satu kesimpulan yang sama yaitu : gambar ini memang tidak mungkin.

    Tetapi secara keseluruhan saya setuju dengan bahasan diatas. Bahwasanya kita seringkali melewatkan atau bahkan menambahkan sesuatu dalam proses ‘melihat’. Seringkali kita tidak benar-benar melihat apa yang kita lihat.

    Seperti yang dibahas dalam salah satu lecture yang dibawakan oleh Denny Darko dalam TEDex. Disana ia berbicara tentang bagaimana mata dapat memanipulasi pikiran, karena bukan hanya ‘we don’t always see what we see’ lebih parah lagi seringkali ‘we only see what we want to see’. Maka sewajarnya jika seorang yang satu bisa memiliki persepsi yang begitu berbeda dengan orang yang lain. Karena jangankah persepsi yang abstrak dan berada dalam alam pikir, sesuatu yang riil dan nyata saja bisa dilihat secara berbeda oleh mata yang berbeda.

    Comment by thazageorly — March 24, 2013 @ 22:09


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: