there’s something about geometry + architecture

June 5, 2011

Parameter Orisinalitas Karya Musik dan Arsitektur..?

Filed under: architecture and other arts — stellanindya @ 22:47
Tags: ,

Dalam karya seni, orisinalitas sangatlah penting dan bersifat sensitif. Jika ternyata seseorang dikatakan mengutip atau menjiplak karya seni, maka orang tersebut akan berurusan dengan pencipta karya seni, pihak yang berwenang, dan publik. Begitu pula pada musik.

Dalam musik terdapat peraturan bahwa pengutipan karya musik lebih dari 8 bar (secara partitur), sudah dikatakan penjiplakan. Pengutipan itu bisa berupa kutipan lirik, melodi, ataupun chord dalam lagu tersebut. Sudah ada peraturan yang jelas mengenai penjiplakan tersebut. Agak berbeda dengan karya arsitektur, yang kurang jelas parameter penjiplakannya. Dikatakan sebuah kreativitas muncul akibat melihat dan “menjiplak” karya orang lain, kemudian menambahkan ide pengembangan kita terhadap karya jiplakan tersebut. Jadilah suatu karya. Apakah hal tersebut dikatakan menjiplak, padahal tidak ada parameter penjiplakan?

Seperti di Indonesia, karya musik Indonesia seperti band-band yang banyak bermunculan akibat mengeluarkan satu single mereka. Sebut band X yang jika ditelaah, chord yang mereka gunakan untuk membuat satu lagu ternyata serupa dengan chord Canon in D karya Pachelbel, dari awal lagu hingga selesai. Sebenarnya hal ini dikatakan menjiplak. Kalau karya arsitektur, tidak terlihat secara nyata mengenai penjiplakan tersebut. Sebab, jika developer mengembangkan suatu model perumahan (contohnya), dan ternyata dimintai oleh orang banyak, maka mereka tak segan-segan memasarkan model perumahan yang hampir sama. Padahal hitungannya, model perumahan satu dengan yang lainnya hampir mirip dan kadang dikatakan sama.

Karya musik sangat ketat hukumnya. Jika dilakukan pengopian terhadap album dan disebarluaskan (seperti di glodok, mangga dua, dll) sebenarnya dilarang dan menjadi musuh para pencipta lagu. Namun ternyata karya arsitektur tidak demikian.

Sebenarnya, saya sendiri bingung sampai sebatas apakah parameter karya arsitektur itu? Begitu pula dengan karya musik. Kok sepertinya batas itu masih samar. Menurut saya, jika masih dalam pemelajaran, karya musik maupun karya arsitekur boleh-boleh saya ditiru, namun BUKAN untuk dijiplak. Ditiru, lalu tentunya kita melakukan penambahan, pengurangan, dan pada akhirnya pengembangan dilakukan untuk menjadikan suatu karya yang baru, yang kemudian kita bisa menemukan gaya kita sendiri dan menjadi orisinal kita. Saya rasa, karena hal itulah karya musik dan arsitektur dapat berkembang hingga sekarang. Jika tidak dilakukan peniruan, bagaimana mungkin hal yang serupa dapat ditemukan dalam dunia musik dan arsitektur? Peniruan itulah yang kemudian disebut mencari inspirasi. Hal ini tentu berbeda dengan penjiplakan.

2 Comments »

  1. 3M ; Melihat, meniru dan modifikasi bukan kategori Penjiplakan…..tapi pengembangan

    Comment by Osotnas Rutnaj — January 13, 2012 @ 12:54

  2. iya, bahkan mungkin sebenarnya memang hal tersebut diperlukan (melihat,meniru dan memodifikasi atau dalam pembahasan yaitu ditiru lalu melakukan penambahan, pengurangan, dan pada akhirnya pengembangan dilakukan untuk menjadikan suatu karya yang baru) karena jika kita tidak berbasis pada sesuatu yang sudah pernah dibuat maka kemungkinan kita akan melakukan kesalahan yang sama yang terjadi pada karya tersebut, jadi semacam sebagai media belajar.

    Comment by findingneverblog — March 8, 2012 @ 07:47


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: