there’s something about geometry + architecture

June 5, 2011

rasa aman

Filed under: ideal cities — imaniarsofi @ 22:45

Ari adalah seorang mahasiswa. Setiap hari sepulang kuliah ia pulang ke tempat tinggal sementara, yakni kosan. setiap akhir minggu, ia baru akan pulang ke rumahnya yang sesungguhnya di kota sebelah. Kehidupanya dalam lingkungan kosanya dia bilang biasa saja. Memasak dan mencuci laundry sudah ada yang mengurus, dan termasuk layanan dalam kosan yang ia tempati.  Katanya, tinggal pesan saja, makanan langsung datang.

Sebenarnya, kosan Ari termasuk yang menengah bayaranya. Tidak terlalu mewah, tidak juga murahan. Hal yang membuat ia senang adalah pagar tinggi menjulang yang membentengi bangunan itu. Serta ada pula penjaga yang meronda setiap malam. Ia merasa aman, sehingga tidk was-was terhadap barang-barang pribadi miliknya.

Suatu pagi, Ari berangkat kuliah seperti biasa. Setelah memanasi motor di halaman kosan, ia berniat segera berangkat. Namun tiba-tiba ia teringat ponselnya yang sedang di setrum di dalam kamarnya. Ia merogoh saku untuk memastikan, apakah sudah ia cabut dari cargernya dan ia masukkan ke sakunya? Ah ternyata belum.  Bergegaslah ia kembali ke kamar untuk mengambil  ponselnya. Dan setelahnya, bergegas pula ia kembali ke halaman kosan. ternyata ia menemui kenyataan bahwa motornya sudah tidak ada. ia cari-cari penjaga kosan, ternyata tidak sedang berada di tempat. Ia keluar gerbang dan menegok kanan kiri, berharap ada jejak jejak motornya, ternyata tidak ada. yang terlihat hanya orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri atau berdua-dua menuju kampus, atau tempat lain.

Jauh di seberang jalan kosanya, penjual toko kelontong mengamatinya. Aku yang sedang membeli korek api juga melihat sosoknya. Lalu penjual itu berkata :

‘wah neng, bulan ini sudah 5 kali mahasiswa kemalingan motor.  Padahal yang maling bukan orang sekitar lho.’

Lalu aku menanyakan mengapa warga sekitar tidak menggubris atau mengamuk pada malingnya?

‘Yah, buat apa, mahasiswa saja tidak merasa menjadi bagian dari warga sini. Jangankan menyapa, berkata santun saja tidak pernah, sok-sokan lebih tinggi derajadnya. Padahal kalau dipikir, siapa coba yang sebenarnya tamu?’

***

Dari kisah diatas saya ingin menjelaskan bahwa bangunan kosan terkadang dibentuk seperti ideal city. Dimana pagar yang tinggi sebagai suatu bentuk keamanan untuk memenuhi salah satu aspek kenyamanan penghuni. Namun, bentuk keamanan tersebut terkadang justru menimbulkan jurang pemisah antar warga sehingga menyebabkan sikap saling tak acuh yang berujung kepada ketidak amanan.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: