there’s something about geometry + architecture

March 7, 2012

Horizontal Dulu atau Vertikal Dulu?

Filed under: Uncategorized — indralim09 @ 11:14

Dalam kehidupan sehari-hari, horizontal dan vertikal atau lintang dan bujur sudah tidak asing lagi. Horizontal atau vertikal selalu relatif terhadap sesuatu. Ketika kita berdiri dengan tatapan menghadap ke depan, jika ada garis lurus dari atas ke bawah kita namakan garis vertikal dan jika ada garis lurus dari kiri ke kanan kita namakan garis horizontal. Namun, ketika kita mengubah posisi tubuh kita menjadi posisi tidur atau posisi lainnya, maka garis-garis tersebut mungkin tidak lagi merupakan garis horizontal atau garis vertikal relatif terhadap arah pandangan kita.
Jika kita diminta untuk memperhatikan garis horizontal dan garis vertikal secara bersamaan, garis apa yang kita perhatikan terlebih dahulu? Dari survei yang dilakukan terhadap lima orang yang dipilih secara acak, ketika mereka diminta untuk menuliskan tanda tambah (+), empat dari lima orang tersebut atau 80% membuat garis horizontal terlebih dahulu dan setelah itu baru membuat garis vertikal. Satu lainnya, sebut saja X membuat garis vertikal terlebih dahulu dan setelah itu baru membuat garis horizontal. Namun, ketika X diminta untuk membuat tanda tambah (+), dia berpikir terlebih dahulu, membuat gambar-gambar lain, dan setelah itu baru membuat tanda tambah (+).
Survei berikutnya yang dilakukan kepada orang-orang yang sama adalah meminta mereka untuk melihat sekelilingnya. Sebelum survei dilakukan, orang-orang ini diminta untuk menatap pengamat* dan setelah itu tidak ada instruksi tambahan. Dari lima orang tersebut, empat orang langsung melihat ke kiri dan ke kanan membentuk garis horizontal dan kembali menatap pengamat. Satu orang lainnya yaitu X sedikit menoleh ke kanan dan memutarkan pandangannya, selanjutnya menoleh ke kiri dan memutarkan pandangannya. Setelah itu X baru kembali menatap pengamat.
Dari hasil survei yang dilakukan, terlihat ada kecenderungan orang untuk lebih memperhatikan sesuatu secara horizontal daripada vertikal. Melihat kiri kanan menjadi lebih penting daripada melihat atas bawah. Apakah ini disebabkan karena mata kita memiliki visualisasi horizontal yang lebih lebar daripada visualisasi secara vertikal? Lantas, apakah ini berhubungan dengan persepsi manusia mengenai estetika? Apakah keindahan (beauty) dari sesuatu juga lebih didasarkan pada pandangan secara horizontal daripada vertikal?
Jika jawabannya adalah ya, maka muncul pertanyaan baru yaitu apakah untuk melihat suatu karya tiga dimensi masih penting untuk diperhatikan bagian atas dan bawahnya jika tidak begitu terlihat dari pandangan secara horizontal? Jika jawabannya masih ya, maka akan sangat disayangkan jika suatu karya tiga dimensi yang menempatkan nilai estetika tertingginya pada bagian atas ataupun bawah karena tidak dapat dinikmat dengan baik oleh sebagian besar orang yang lebih memfokuskan pandangannya secara horizontal.

*Pengamat adalah penulis artikel ini.

6 Comments »

  1. Pada dasarnya, manusia akan lebih aware terhadap keadaan di sekelilingnya (kiri, kanan, depan, belakang) karena jangkauan pandang mata manusia lebih ‘lebar’ bukan ‘tinggi’ sehingga kita akan cenderung memperhatikan aspek horizontal pada lingkungan sekitar kita. Namun saya tidak melihat adanya hubungan pada cara menulis tanda + karena kecenderungan itu lebih disebabkan kebiasaan masing-masing saat menulis. Seperti saat kita menulis huruf H atau T, pasti setiap orang akan berbeda-beda langkah menulisnya.
    Untuk estetika pada arsitektur, saya pikir kecenderungan kita untuk memperhatikan aspek horizontal atau vertikal sangat disebabkan oleh karya arsitektur itu sendiri. Apabila aspek horizontalnya jauh lebih kuat, misal gedung EC jika dilihat dari tempat parkir, kita tentu akan memperhatikan hingga sudut kiri dan kanannya. Namun bila kita ada di taman tengah EC dan melihat sekeliling, kita akan menemukan barisan kolom raksasa yang sangat tinggi, juga pohon-pohon yang sangat memperkuat aspek vertikal. Disini kita akan cenderung memperhatikan seperti apa puncak kolom tersebut, juga bagian gedung diatas “Second Bite” yang memperlihatkan tangga hingga ke lantai paling atas. Efek vertikal disini lebih kuat sehingga mempengaruhi kita untuk melihat estetik yang ada di bawah atau puncak gedung.

    Comment by rayprasetya — March 7, 2012 @ 13:50

  2. wah bahasannya sangat menarik di sini. kalau menurut saya, apakah kasus vertikal dan horizontal ini berhubungan dengan persepsi manusia mengenai estetika? ya ada hubungan mengenai persepsi dengan estetika. Persepsi mempengaruhi cara pandang seseorang. di sisi lain, estetika merupakan hasil dari pengidraan. hal ini berarti penglihatan yang dipengaruhi persepsi inilah yang membentuk estetika tersendiri dalam diri seseorang,namun tidak tepat kalau persepsi antara horizontal vertikal menentukan nilai estetika secara pasti dari suatu karya. sedangkan beauty dalam suatu karya, khususnya karya arsitektural, cukup dipengaruhi dengan konsep dan isunya dari pada persepsi horizontal vertikal. namun yang membuat pusing adalah out put desain haruslah mempertimbangkan aspek persepsi orang awam sehingga konsep dapat ditangkap orang awam dan benar-benar sesuai isu yang ada dalam masyarakat. oleh karena itu survey-survey seperti di atas sangatlah penting untuk mengetahui dan mengenal subjek desain. dan perlu menjadi pertimbangan bahwa cara memandang, selain dipengaruhi oleh batasan fisik manusia, juga dipengaruhi pengetahuan yang ditanamkan saat kecil. mungkin apabila dari kecil setiap anak-anak di dunia ditanamkan bahwa saat memandang sesuatu, baik sebuah gedung maupun seorang wanita cantik harus di pandang dari atas ke bawah, bukan dari kanan ke kiri, maka mungkin saja aspek horizontal akan sangat lemah di dalam kehidupan. Jadi, perlu dilakukan survey, kemudian berdasarkan survey, konsep di wujudkan dan disesuaikan isu yang ada menjdai tiga dimensi, dan apabila memungkinkan perlu dilakukan revisi karena tidak ada hal yang mutlak (dalam hal ini adalah permasalahan horizontal, vertikal, persepsi, beauty) dalam sebuah karya maupun garis.

    Comment by rita040691 — March 8, 2012 @ 02:01

  3. Terima kasih atas komentarnya. Yang perlu ditekankan di sini adalah sebuah kecenderungan dan bukan sesuatu yang mutlak. Mungkin yang perlu ditambahkan adalah jarak pandang seseorang terhadap sesuatu karena pada jarak yang berbeda tentu akan berbeda pula pandangan terhadap sesuatu. Misalnya ketika melihat sebuah gedung tinggi pada jarak yang cukup jauh namun masih terlihat, kita akan melihat gedung tersebut sebagai satu kesatuan sehingga cukup sulit bagi kita untuk menyadari kita melihat gedung tersebut secara horizontal dulu atau vertikal dulu. Ketika kita melihat gedung tersebut pada jarak pandang yang dekat, mungkin akan lebih mudah untuk menyadarinya. Jika sebuah gedung menampilkan estetikanya lebih secara vertikal daripada horizontal sehingga kita lebih memfokuskan pandangan kita secara vertikal, itu memang yang seharusnya terjadi sesuai dengan yang direncanakan oleh arsitek atau perancangnya. Namun, bagaimana jika aspek estetikanya antara yang horizontal dan vertikal yang ada dalam sebuah gedung berimbang; kedua-duanya ditonjolkan atau tidak ditonjolkan? Akankah ada kecenderungan yang dapat dijelaskan secara ilmiah? atau sekedar hanya kebetulan itu terjadi?

    Comment by indralim09 — March 14, 2012 @ 10:56

  4. Oh jadi ini maksudnya ndra.. wah, kenapa saya sebagai responden tidak diberi tahu maksudnya setelah di survey, apabila diikuti dengan wawancara responden mungkin data yang didapat bisa lebih kaya..
    Nah, saya merupakan salah satu responden yang membuat garis horizontal terlebih dahulu baru kemudian membuat garis vertikal, setelah saya disurvey oleh Indra, saya mencoba membuat tanda tambah lagi dengan cara menggaris vertikal terlebih dahulu namun saya merasa kurang nyaman dan sedikit canggung.
    Saya sendiri merasa telah memiliki ‘mark’ atas garis horizontal dimana saya merasa lebih dapat menggaris lebih lurus daripada garis vertikal, mungkin ini juga didukung dengan penggunaan buku bergaris horizontal selama saya bersekolah dari SD sampai SMA. Apabila dilihat lagi garis yang saya buat, garis horizontal digaris dengan tegas, sedangkan garis vertikal kurang tegas terlihat dengan adanya lengkungan di awal garis. Jadi saya sendiri malah merasa ini berkaitan dengan adanya pemahaman tentang garis horizontal yang tertanam secara tidak sadar akibat salah satunya buku bergaris dan terbiasa melihat ‘seolah’ garis horizontal dari buku teks bacaan manapun.
    Sedangkan tentang lebih memerhatikan sekeliling, saya setuju dengan ray, karena konteks saat survey adalah ruang studio yang elemen horizontalnya lebih kuat, melebar, sehingga responden cendrung melihat kearah horizontal. mungkin akan berbeda apabila responden di tanyakan pendapatnya saat berada di courtyard EC, dimana elemen vertikal (gedung EC) jauh lebih kuat.

    Comment by Mia — March 19, 2012 @ 15:56

  5. menurut saya, mengenai nilai estetika yang terdapat di bangunan yang mungkin diniatkan untuk dapat dinikmati manusia, maka akan sangat baik untuk mempertimbangkan kemampuan pandangan manusia dari jarak tertentu dari keberadaan si penikmat.

    hal ini terlepas dari yang mana yang duluan, apakah horizontal atau vertikal. namun menjadi penting untuk meyakinkan bahwa klimaks (nilai estetika dari bangunan tersebut) dapat dicapai oleh pandangan si penikmat tanpa ‘memaksa’ mereka menengadah terlalu tinggi atau sebaliknya, menuntuk terlalu rendah.

    hal ini terkait kenyamanan. jadi,jika estetika tersebut dimaksudkan untuk penikmat yang berjarak dekat, maka sebaiknya ia tidak diposisikan pada jarak yang terlalu tinggi, namun jika memang estetika tersebut diniatkan untuk pengamat dalam jarak jauh, maka tidak masalah jika ia ditempatkan di posisi yang tinggi, dan tentu saja, untuk hal ini, ditail bangunan dapat dikurangi. sedangkan estetika jarak dekat, di sini kita memiliki kesempatan besar untuk ‘bermain’ detail sepuasnya.

    Comment by Feni Kurniati — March 25, 2012 @ 03:36

  6. Mungkin sedikit komentar, kecenderungan untuk memperhatikan horizontal terlebih dahulu mungkin dapat dijelaskan dengan posisi mata kita yang bersebelahan kiri-kanan bukan atas-bawah. Kita lebih melihat dunia seperti dalam sebuah screen segiempat yang besar nilai horizontalnya lebih besar terhadap vertikalnya. Oleh karena itu, orientasi horizontal selalu lebih cepat disadari oleh otak kita. Karena posisi mata demikian, kita menjadi lebih adaptif untuk memindai (scan) lingkungan sekitar kita secara horizontal.
    Namun bukan berarti horizontalitas lebih penting dari vertikalitas/ vertikalitas menjadi tidak penting. Estetika bisa jadi merupakan komposisi dari keduanya, mana yang lebih dulu terlihat tergantung mana yang lebih menonjol. Seperti telah diutarakan sebelumnya pada komentar sebelumnya, terkadang kita melihat sebuah bangunan dalam jarak tertentu yang memperbolehkan kita melihatnya sebagai suatu keutuhan tampak (fasad), sehingga dapat terlihat komposisi horizontalitas, vertikalitasnya, atau juga mungkin ada bagian yang miring (diagonal). Namun ketika lebih mendekat, detail bangunan menjadi lebih terlihat. Ketika kita berada pada bagian yang vertikalitasnya lebih menonjol dibandingkan horizontalitas yang monoton, mungkin itu yang lebih ter-notice dibandingkan horizontalitasnya.
    Namun kasusnya jika kedua komposisinya berimbang, tidak ada yang lebih ditonjolkan. Menurut saya manusia akan lebih dahulu menyadari ‘horizontalitas’-nya. Perlu diingat, maksud saya horizontalitas disini tidak berdiri ssendiri tanpa vertikalitas melainkan sebuah cakupan visual (seperti sebuah screen segiempat) kita yang rasio h : v nya lebih besar dari 1. Ini dikarenakan karena manusia lebih adaptif dengan cara melihat demikian.

    Comment by arifnash — April 3, 2012 @ 08:55


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: