there’s something about geometry + architecture

April 1, 2012

FOOD garnished or ungarnished?

Filed under: Uncategorized — dianonurbintoro @ 09:47

“To garnish” dalam bahasa inggris berarti menambahkan atau memberi sentuhan  dekoratif kepada makanan atau minuman  (Merriam-Webster online dictionary). Sebetulnya yang akan saya bahas disini bukan hanya masalah dekoratif pada makanan namun mempertanyakan bagaimana efek dari presentasi, wujud, dan tata letak di dalam makanan itu mempengaruhi selera makan seseorang.

Pernah menonton film pixar “Ratatouille”? acara memasak di “AFC”? atau “Ala Chef”? Apabila pernah tentu sering melihat bagaimana makanan hasil olahan parachef  dihias, diposisikan, dipotong, ditumpuk, dan sebagainya agar tampilan akhirnya menarik dan menggugah selera penonton dan calon pelahap. Seandainya anda yang membaca post ini belum pernah tau apa itu yang saya sebut di kalimat pertama paragraf ini tidak perlu khawatir, salah satu contoh hasil masakannya adalah seperti ini:

This slideshow requires JavaScript.

Membuat liur anda menetes bukan gambar-gambar diatas? Saya juga. Padahal saya memilih gambar dari internet yang saya anggap menarik dan menggiurkan tanpa tahu makanan apa itu dan terbuat dari apa makanan itu. Tiga dari gambar yang saya masukkan di atas saya tidak tahu isinya apa namun saya langsung tergiur untuk mencobanya. Begitu besarnya efek dari tampilan visual sebuah hidangan sehingga orang bisa tertarik untuk memakannya tanpa ragu, atau paling tidak untuk mencoba. Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Apa ada geometri dalam penyajian makanan sehingga tidak sadar kita menganggapnya ‘indah’ ? Kita lihat lagi beberapa informasi lain yang saya dapatkan, bersama saya, Ardiano Nurbintoro.

Jika persepsi klasik akan keindahan berpegangan pada simetri dan keseimbangan maka pada tata cara presentasi makanan, menurut Gordon Ramsay chef  Inggris, justru sebaliknya yang dilakukan : Komposisi yang ada piring sebaiknya dalam jumlah ganjil untuk menghindari simetri. Pada kesempatan lain saya juga memperhatikan bahwa hidangan yang disajikan dalam restoran formal, yang porsinya juga tidak jarang kecil, diletakkan tepat ditengah piring menunjukkan adanya perhatian khusus pada simetri juga. Disini saya mempertanyakan bagaimana geometri dalam masakan digunakan karena adanya ke-tidak-konsistensian antara simetris atau tidak simetris. Apa sebenarnya semua ini yang digunakan dalam penyusunan makanan seimbang? Keseimbangan antara penggunaan simetri dan tidak simetri.

Lalu bagaimana dengan makanan yang tidak diatur dengan sedemikian rupa dan tanpa pengetahuan geometri atau komposisi? Apa kabarnya makanan yang dijajakan abang-abang dipinggir jalan yang pastinya tidak akan berbentuk seperti nouvelle cuisine? Apakah tidak menarik perhatian dan selera orang?  Ternyata tidak juga, selain masalah harga, banyak orang yang tetap tergiur dengan hidangan yang nampaknya tidak memiliki keteraturan dalam penataannya. Bagaimana perasaan anda jika melihat rujak dipinggir jalan, somay, atau mie goreng instan? Jajanan-jajanan yang tetap menarik selera makan orang itu kadang tidak disusun dengan gaya yang macam-macam namun ,untuk saya, tetap saja menggiurkan. Apakah pada makanan pengaruh rangsangan aroma lebih penting daripada visual sehingga komposisi dan macam-macam ilmu geometri tida terlalu penting? Menurut anda?

 

 

note: Saya sebenarnya terbiasa harus makan apa yang di meja makan… jadi mungkin saya memang sedikit buta geometri atau estetika untuk makanan hehehe

 

 

Sumber :

-http://www.merriam-webster.com/dictionary/garnish

http://www.bbcgoodfood.com/content/magazine/olive/

gambar:

http://www.essentialingredient.com.au/index.php/kitchen/food_presentation_secrets/

http://dustinkryan.photoshelter.com/image/I0000Vbq4Ykxxs.Q

http://en.petitchef.com/recipes/looking-at-garnishing-techniques-part-i-fid-925211

-http://www.dreamstime.com/stock-photos-lasagna-with-rosemary-garnish-image7557603

5 Comments »

  1. Menurut saya, banyak faktor secara ekonomi, sosial, maupun psikologis yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap komposisi makanan. Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dalam hal ini setiap orang akan menilai makanan yang akan ia pilih untuk dimakan. Kesimetrisan, keindahan, komposisi warna, lainnya bisa saja bukan jadi penilainan utama dari seseorang. Selain itu, pengalaman juga bisa menjadi faktor penilaian juga. Misalnya, anak yang hidup dikeluarga koki sehingga sehari-hari dihindani makanan dengan presentasi khas hotel. Hal ini menjadi dasar pemikiran dan pengetahuan terhadap sebuah makanan sehingga ia mengetahui mana presentasi makanan yang baik dan bagus sesuai pengalamanannya sehari-hari. Terima Kasih

    Comment by fariddinattar — April 1, 2012 @ 11:35

  2. Dalam menikmati makanan, tentu yang terpenting adalah indera pencecap (lidah). Saat masih kecil, manusia sering mencoba berbagai hal dan menemukan hal apa yang baik atau tidak baik, dalam konteks ini berarti makanan yang enak ataupun tidak enak. Pada umumnya, anak kecil tidak menyukai rasa asam dan pahit, hal itu adalah hal alami dan berasal dari refleks manusia untuk menghindari racun atau zat berbahaya, yang pada umumnya memiliki rasa atau aroma yang serupa dengan rasa asam dan pahit.
    Hiasan pada makanan memang terbukti dapat menggugah selera kita, namun hal itu biasanya disebabkan oleh pengalaman kita saat menyantap hidangan, seperti misalnya hidangan pasta dengan lelehan keju di atasnya, tampilan itu secara visual menggoda kita untuk menyantapnya karena kita mengingat rasa yang pernah kita cicipi sebelumnya, yaitu saat kita merasakan lelehan keju lumer di dalam mulut kita. Tetap saja kita kembali kepada pengalaman indera pencecap. Mungkin untuk orang yang tidak menyukai rasa dan aroma keju, mereka tidak akan tergugah untuk memakan makanan tersebut.
    Saat kita menyantap jajanan pinggir jalan dan kita sangat menyukainya, hiasan ala restoran bintang 5 tidak menjadi faktor terpenting untuk menggugah selera. Hanya dengan melihat semangkuk mie ayam dengan dua butir bakso tergolek manis di atasnya tentu bisa membuat kita berliur dan ingin memakannya karena sudah dapat membayangkan kelezatan yang pernah dirasakan sebelumnya.

    Comment by rrrana — April 1, 2012 @ 13:48

  3. Kalau menurut saya, ketertarikan akan suatu hidangan bergantung kepada seluruh indera yang kita punya. Sebagai contoh, misalnya kita sedang menunggu makan malam sementara makanan sedang dimasak di dalam dapur. Sebelum kita melihat apa yang sedang dimasak, kita tentu belum dapat mengetahui apa yang akan kita makan nanti. Tetapi kita punya indera penciuman, kita dapat mencium aroma masakan dari dalam dapur dan menebak-nebak hidangan tersebut. Aroma makanan adalah daya tarik pertama dari sebuah hidangan. Bila aromanya sedap, kita pasti akan sangat tergiur walaupun belum melihat makanannya.
    Setelah makanan keluar, indera penglihatan yang bekerja. Kita dapat melihat makanan apa yang dihidangkan, bentuknya, keindahannya, dan penyusunannya. Disinilah tata atur penyajian dan bentuk-bentuk geometri bekerja. Makanan yang disusun dengan indah tentu lebih menggugah selera.
    Saat kita makan, indera pengecap, peraba, dan pendengaran bekerja. Indera pengecap tentu merupakan faktor utama yang menentukan kita menyukai makanan tersebut atau tidak. Indera peraba pada lidah kita juga dapat merasakan tekstur dari makanan tersebut, lembut, keras, garing, kering, ataupun basah. Indera pendengar walau tidak terlalu berperan tetapi tetap bekerja untuk mendengarkan suara makanan yang timbul saat kita mengunyah makanan, suara yang timbul di piring ataupun meja makan itu sendiri.
    Semua faktor yang kita rasakan tersebut tergabung menjadi satu dan menentukan apakah kita akan menyukai makanan tersebut atau tidak. Bila salah satu faktor kurang cocok bagi kita, masih ada daya tarik yang dirasakan oleh indera lainnya. Bisa saja kita tidak jadi memakan hidangan tersebut, atau bisa saja kita langsung menyantap hidangan tersebut dengan lahap.

    Comment by rayprasetya — April 1, 2012 @ 19:03

  4. Saya ingin menanggapi kutipan anda mengenai pernyataan dari Chef Gordon Ramsay “Komposisi yang ada di piring sebaiknya dalam jumlah ganjil untuk menghindari simetri”. Terdapat suatu persepsi umum manusia yang menurut saya dapat menjadi alasan dari pernyataannya tersebut. Simetri, merupakan suatu hal yang mengelilingi kehidupan manusia sehari-hari. Dapat dilihat dari hampir seluruh makhluk hidup normal termasuk manusia memiliki fitur-fitur secara umum yang simetris (contoh: tangan kiri dan kanan, mata kiri dan kanan). Tentu pembahasan ini di luar konteks beragamnya tingkat asimetris ringan yang memang pasti ada di setiap makhluk hidup. Oleh karena itu, secara tidak sadar sesuatu yang simetris dipersepsikan sebagai sesuatu yang normal oleh manusia karena terbiasanya mereka melihat beragam hal yang simetris dalam kehidupan sehari-harinya.
    Sementara itu, tentu pernyataan dari Chef Ramsay di atas mengacu pada makanan fine-dining jika sampai pada tingkat pengaitan dengan komposisi visual. Tujuan utama dari makanan fine-dining adalah memberikan pengalaman yang unik dan tidak biasa kepada pelanggan untuk memuaskan ekspektasi mereka yang sudah begitu tinggi pada makanan yang memiliki harga tidak main-main ini melalui berbagai aspek dari makanan tersebut, salah satunya adalah dari aspek visual. Ketidaksimetrisan atau biasa disebut asimetri dapat menjadi jawaban dari bagaimana menciptakan suatu kesan yang unik dan tidak biasa pada manusia sebagai antitesis dari persepsi manusia bahwa sesuatu yang biasa atau yang normal adalah yang simetris. Tampilan visual dari makanan ini menjadi penting karena merupakan salah satu aspek pertama (bersama dengan aroma) yang menentukan first impression terhadap makanan tersebut. Dan sekali pelanggan sudah memiliki kesan bahwa makanan yang akan mereka santap merupakan suatu makanan yang unik dan tidak biasa melalui persepsinya terhadap keasimetrisan makanan ini, dapat terbentuk sugesti yang kemudian akan terus membuat pelanggan memiliki kesan bahwa makanan tersebut unik dan tidak biasa hingga pengalaman-pengalaman berikutnya dengan makanan tersebut.

    Comment by neyshaadzhani — April 1, 2012 @ 20:43

  5. menurut saya sih sebuah komposisi bersifat subjektif, dimana komposisi seseorang bisa dikatakan bagus oleh satu orang, tetapi mungkin jelek untuk orang yang berbeda.
    dan apakah harus simetri atau tidak, itupun juga sangat subjektif, seperti halnya pelajaran PA 3 kita, yang diajarkan metode merancang berdasarkan memasak, kita diberikan bacaan berjudul Design on the Plate (Karen A Franck) Architectural Design Vol.72 dimana di situ dibahas bagaiman menata makanan di sebuah piring saji, bagaimana bentuk piringnya (bulat, kotak, persegi panjang, dll) dan bagaimana mengatur makanannya, ditaruh di pinggir atau di tengah? berapa jumlah lauk yang ingin ditampilkan, dan semua itu bersifat subjektif
    memang di bacaan itu disebutkan lebih baik menata makanan secara ganjil, sehingga menjauhkan dari kesimetrian, tetapi ada juga yang mencontohkan ke simetrian di dalamnya (kanan dan kiri sama) tetapi saya tetap setuju bahwa itu bersifat subjektif, sama hal nya dengan arsitektur yang bersifat subjektif, tidak ada unsur kepastian di dalamnya, meskipun terdapat teori, teori itu hanya sebagai landasan berfikir saja.
    dan untuk masalah bagaimana dengan makanan pinggir jalan yang tidak memikirkan bagaimanan menatanya tapi tetap menggiurkan, mungkin karena history (latar belakang) kita terhadap makanan tersebut. otak kita menyimpan memori akan apa yang telah kita alami dan jika itu baik akan tersimpan dengan baik di dalam otak, oleh karena itu kenapa kita dengan melihat semangkuk mie instant goreng dengan telor akan sangat menggiurkan bagi kita, ditambah dengan indera-indera lain yang membantu otak mengumpulkan data-data kenikmatan semangkuk mi tersebut.

    Comment by Fatya Faizanur Rochman — April 3, 2012 @ 22:03


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: