there’s something about geometry + architecture

April 2, 2012

Komposisi di Lift

Filed under: Uncategorized — nadhilasuhaila @ 22:15

Biasanya saat berada di lift kita tidak memperdulikan posisi dimana kita berada. Mungkin kalau kita sendirian, kita cenderung memilih di dekat tombol lift. Atau meilih berada di bawah AC agar merasa lebih dingin. Di lift EC, terjadi sedikit keanehan bila saya dan teman-teman saya naik lift. Posisi kami membentuk pola yang simetris, tanpa kami sadari.

Pada awalnya kami memiliki kebiasaan untuk bersender di dinding atau mengambil posisi di pinggir.  Hal ini terjadi karena

.seringnya membawa banyak barang, tas ataupun maket. Kami memilih untuk berada di pinggir agar memberi ruang kepada orang yang lain ingin masuk. Memberi kemudahan juga bagi orang lain membawa banyak barang agar dia tidak perlu bergeser-geser lagi. Saat membawa maket atau bahan maket, akan susuah untuk bergeser. Kalupun ingin bergeser harus hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada barang.

.lantai paling atas. Studio berada di lantai 4. Untuk saat ini lantai 5 kosong, sedangkan lantai 6 jarang dimasukin orang-orang. Selain lantai 4, lantai 3 yang sering dimasukin.  Agar tidak perlu bergeser saat orang ingin ke lantai 3 atau pun masuk ke lift dari lantai 3, kami memilih untuk berada di bagian belakang atau pinggir.

.ngobrol. saat di lift, biasanya kami tetap berinteraksi atau pun bercanda, akan lebih mudah untuk bertatap muka bila berada di pinggir.

.suka bersender😀

Kebiasaan ini terus berlanjut tanpa disadari. Walaupun tidak membawa banyak barang kami cenderung berada di pinggir. Posisi di pinggir ini seringnya membentuk pola yang tidak disengaja dan selalu simetris.

Saat jumlah orang masih sampai 9 orang, posisi mereka rapi, teratur, dan tidak sempit. Terkadang orang-orang tersebut berbaris sesuai dengan tipenya masing-masing. Pernah terjadi, orang-orang tersebut berbaris sesuai dengan warna bajunya, gender atau pun tinggi badan.

Pola pada lift ini juga terbentuk akibat lift tersebut berbentuk persegi, memiliki empat sudut dan sisi dengan ukuran yang sama. Persegi sendiri selalu berbentuk simetris  (sumbu simetris dari tengah). Bila lift EC berbentuk persegi panjang atau bentuk lain, belum tentu komposisi ini terbentuk.

Karena sudah terbiasa dengan komposisi di lift yang seperti ini, bila berada di lift tidak terbentuk pola yang simetri maka kami langsung membentuk formasi seperti di atas. Bila ada yang tidak mau bergeser, maka yang lain akan terus memaksa atau ngomel kenapa dia tidak mau pindah atau betapa lebih baik jadinya komposisi di lift ini bila dia pindah tempat. (Hal ini hanya terjadi dan dilakukan oleh beberapa mahasiswa ars’09, jadi bila ada orang lain hal ini belum tentu terjadi atau dilakukan).

4 Comments »

  1. Haha, iya, saya sendiri juga sering melakukan hal tersebur saat memasuki lift bersama-sama. Mungkin selain yang dipaparkan diatas, salah satu alasan mengapa terbentuk komposisi tersebut ialah mengenai jarak nyaman antar manusia. Saat di lift hanya berdua atau bertiga, jika kita menempati posisi yang terlalu berdekatan sementara lift masih lapang, akan terasa tidak nyaman karena ada batas-batas ruang nyaman di sekitar tubuh kita, sehingga otomatis kita mencari spot yang batas amannya terjaga, yaitu dengan positioning-positioning diatas. Namun seandainya lift sedang penuh pun, batas nyaman diri kita akan kita sesuaikan dengan kondisi yang ada, sehingga agak berdempetan pun tidak apa-apa.😀

    Comment by mezanomuhammad — April 2, 2012 @ 22:46

  2. Saya ingin berkomentar tentang penuturan Dhila soal bagaimana orang selalu membentuk formasi berdiri yang simetris, secara tidak sengaja (atau sengaja). Pertama, saya ingin berbicara mengenai pengalaman saya menaiki lift Engineering Center di Teknik UI ,Depok. Ketika saya menaiki lift itu saya masuk bersama seseorang lain yang tidak saya kenal, saya sebagai orang yang masuk terlebih dahulu mengambil posisi di dekat tombol lift dan orang lain itu di belakang saya menempel ditembok. Karena saya tidak kenal saya ingin bisa melihat gerak-gerik orang asing yang di belakang saya untuk keamanan, dan seperti Ayah bilang: Memunggungi musuh tidaklah aman (hanya perumpamaan). Jadi sekarang posisi saya berseberangan dengan orang itu. Yang ingin saya katakan disini adalah kemungkinan salah satu alasan mengapa menempel ditembok adalah karena adanya potongan ruang pribadi di antara dua individu yang menyebabkan mereka memilih untuk mengambil jarak terjauh mungkin. Karena bentuk liftnya juga simetris maka formasi orang pun secara terpaksa menjadi simetris.
    Lalu kedua, di lift EC bukan AC tapi kipas🙂

    Comment by dianonurbintoro — April 2, 2012 @ 23:05

  3. Benar sekali apa yang dikatakan dhila, saya juga biasanya lebih memilih posisi di pojok belakang karena berada tepat di bawah AC🙂
    Menambahkan komentar dari mezano, pemilihan posisi pada lift juga bisa dilihat dari teori personal space.
    Personal space menurut Sommer (1969) merupakan batasan maya yang mengelilingi tubuh seseorang yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang. Personal space ini dapat berubah-ubah tergantung dari beberapa faktor misalnya kedekatan, usia, dan gender. Personal space seseorang akan lebih besar ketika berada pada ruang yang lebih besar dengan kepadatan yang rendah. Inilah sebabnya saat kita berada di satu lift dengan orang yang tidak kita kenal, kita akan lebih menjauh.

    Comment by lifafebriani — April 4, 2012 @ 14:17

  4. nice post! saya juga mengalami hal yang sama dengan pendapat-pendapat di atas. Jika menurut pribadi saya sendiri, hal tersebut memang terjadi sesuai dengan kenyamanan kita masing-masing. Jika ada lahan yang lebih luas jadi kenapa harus berhimpitan dengan yang lain, sehingga jarak yang tercipta untuk menjaga kenyamanan tersebut mungkin secara tidak sengaja menimbulkan hal yang simetris. Pengalaman pribadi saya sendiri, jika kita berada dalam lift sendirian maka memang kita cenderung memilih tempat di dekat tombol lift dan jika berdua (sudah ada orang yang menempati dekat tombol lift sebelumnya) maka saya lebih memilih tempat di seberang pojokan secara diagonal terhadap orang tersebut. Hal ini dikarenakan saya tidak mengenal orang tersebut jadi saya menempati jarak terjauh yang bisa dijangkau dalam lift tersebut yakni berdiri pada titik terujung pada sumbu diagonal lift. Jika saya berdiri tepat sejajar disamping orang tersebut maka akan sangat terasa canggung sekali dalam keadaan sunyi senyap berada di lift tanpa suara, dan memang posisi yang paling aman adalah pada posisi diagonal yang tidak berada pada belakang (bisa menimbulkan kecurigaan orang dan tidak bisa melihat angka lantai dalam lift) orang asing tersebut maupun disamping orang asing tersebut. Dan ternyata memang bentuk geometri tersebut sangat erat sekali hubungannya dalam menentukan ketenangan jiwa, kenyamanan posisi, dan tingkah laku manusia sehari-hari. Dan kita seperti tidak pernah lepas dari bentuk-bentuk geometri yang secara langsung maupun tidak langsung telah kita lakukan.

    Comment by meirisyananda — April 5, 2012 @ 01:03


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: