there’s something about geometry + architecture

April 3, 2012

Architecture/Music

Filed under: architecture and other arts — arifnash @ 16:55

Baru baru ini saya melihat video David Byrne talk on TED:‘ How architecture helped music evolve’, dalam video ini dibahas bagaimana arsitektur mempengaruhi perkembangan musik. Ide yang diutarakan yaitu begini, bahwa ada musik tertentu yang terdengar baik di satu tempat namun justru tidak baik di tempat lain. Mengapa demikian? Apakah musisi secara sadar/tidak sadar menciptakan suatu karya musik berdasarkan konteks (venue) tertentu? Jika memang secara tidak sadar, venue yang seperti apa yang dipersepsikan seorang musisi dalam karya-karya musiknya?

Gambar 1

Gambar (1) disamping adalah interior gereja gothic, terlihat atap yang tinggi, ukiran pada pilar yang menjulang tinggi ataupun pada dindingnya. Bentuk-bentuk lancip, dsb. Musik yang cocok pada venue ini yaitu angelic music, nada-nada yang panjang, (coba dengar, Music: “Spem In Alium” by Thomas Tallis), jarang berubah not.

Gambar 2

Gambar (2) berikutnya adalah sebuah ruang dimana Bach menulis salah satu komposisi musiknya. Pada ruang ini tidak lebih besar dibandingkan gereja gothic sebelumnya, tidak banyak terdapat detail ukiran yang dapat menimbulkan pantulan, reverberasi. Sehingga musik yang di optimalkan dengan ruang seperti ini yaitu lebih kompleks dibanding musik di gereja gothic. Musik seperti angelic musik mungkin kurang optimal jika di mainkan di sini. Musik yang cocok dimainkan disini mungkin lebih banyak pergantian not nada, dsb. (Music: “Fantasia On Jesu, Mein Freunde” by Johann S. Bach).

Ruang pada gambar (3) di bawah ini, adalah dimana musisi Mozart menulis salah satu komposisi musik nya. (Music: “Sonata in F,” KV 13, by Wolfgang A. Mozart). Jika dibandingkan dengan dua musisi sebelumnya dengan visualisasi ruang dekoratif seperti ini Mozart menciptakan musiknya yang lebih berwarna banyak nada-nada yang dimainkan, ritme lebih kompleks. Seperti kayanya elemen dekoratif, Mozart membuat musiknya lebih kaya (frilly music).

Gambar 3

Jika ditelusuri lebih lanjut, dari musik klasik seperti Bach, Mozart hingga musik zaman sekarang (seperti anda lihat dalam video) akan terlihat perkembangan musik sejalan dengan venue yang berkembang dalam memperdengarkan karya musik. Venue yang lebih modern zaman sekarang semisal diskotik, untuk memperdengarkan karya musik biasanya mereka menggunakan sound system dengan amplification sehingga musik dapat terdengar lebih keras dibandingkan keriuhan/bising dari orang-orang yang ngobrol di sana. Venue yang demikian menyebabkan musisi membuat musik yang cocok untuk tempat tsb, misal electronic music, nge-beat dsb.

Saya menelusuri lebih lanjut di internet, dan saya mendapati bahwa musisi musik klasik seperti Mozart, Beethoven ternyata memang menciptakan musik terinspirasi dari bangunan-bangunan klasik style gothic, renaissance, baroque. Dari sini dapat disimpulkan bahwa arsitektural, atau lingkung bangun sekitar, mempengaruhi seorang musisi dalam bermusik. Atau mungkin secara tidak sadar musisi memiliki setting tertentu dalam pikirannya untuk karya musiknya. Bentuk visualisasi setting/ image venue untuk musiknya tsb biasanya tersirat mungkin dalam video clip atau cover albumnya seperti gambar berikut, ini adalah cover album beberapa musisi yang mungkin saja menyiratkan tentang musiknya ataupun apa yang Ia bayangkan ketika Ia sedang bermusik (Mungkin ini juga menjawab pertanyaan diawal: bagaimana musisi mempersepsikan venue untuk musik-musiknya?).

[dari kiri ke kanan]

1). Deltron 3030 (Self-Titled) [75 ARK, 2000]. Deltron 3030 adalah group hip-hop. Dalam album ini Ia mencitrakan musiknya dengan sebuah imaginasi bangunan setting masa depan tahun 3030. Bangunan spherical ini mirip Perisphere di New York World’s Fair of 1939-1940, sebuah modernistic struktur sphere ekstrem dg diameter 180 ft)

2). Rocket Scientists, Brutal Architecture [Kinesis, 1997]. Rocket Science adalah group rock yang banyak dipengaruhi oleh band: Yes, King Crimson, The Beatles, and Rush. Gambar ‘cover’ albumnya yang ini mencitrakan musik rock nya yang bising, keras, terkesan seperti brutal struktur arsitektur.

3). Jason Moran, Artist in Residence [Blue Note, 2006]. Seorang musisi terkenal  jazz-pianist Jason Moran merilis ‘Artist in Residence’ pada tahun 2006. Dalam cover albumnya yaitu Herzog & de Meuron’s Walker Art Center yang terdistorsi. Terinspirasi dari pengalamannya sebagai ‘artist in residence‘ disana.

Referensi:

  1. http://www.charlotteviewpoint.org/article/2429/Architecture-and-music—A-duet

  2. http://www.ted.com/talks/david_byrne_how_architecture_helped_music_evolve.html

  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Artist-in-residence

  4. http://www.architizer.com/en_us/blog/dyn/3646/sonic-buildings/

  5. http://en.wikipedia.org/wiki/1939_New_York_World%27s_Fair

  6. http://en.wikipedia.org/wiki/Trylon_and_Perisphere

  7. http://www.walkerart.org/magazine/2005/herzog-de-meuron

3 Comments »

  1. post yang menarik, tapi hal ini juga menimbulkan pertanyan, apa yang dimaksud dengan venue disini? apakah itu tempat ketika musik itu diperdengarkan? atau ketika diciptakan? atau venue yang lain?bagaimana dengan passion dari pencipta musik?apakah musik harus selalu disesuaikan dengan konteks? apakah musik selalu ditujukan untuk bisa dinikmati oleh orang banyak sehingga ia harus bisa menyesuaikan dengan ruang tempat ia diperdengarkan? bagaimana dengan ruang ketika dia diciptakan?
    Terima Kasih, hhe

    Comment by nadiafzna — April 3, 2012 @ 21:08

  2. venue? berdasarkan yang saya tangkap dari video (jika anda sudah menontonnya), venue bukan merupakan suatu ‘tempat’ melainkan lebih kepada ‘device’ bagaimana musik itu sampai ke telinga pendengar/penciptanya sendiri. musik diciptakan dengan mendengarkannya, dalam video dijelaskan bagaimana ternyata konteks spasial berpengaruh terhadap warna musik yang dihadirkan didalamnya, pada konteks yang megah dan tinggi seperti gothic church ternyata musik dengan nada panjang, jarang berubah not sangat indah terdengarnya (dear pembaca: saya sarankan untuk melihat videonya, dengan begitu anda dapat mendengarkan musik nya juga). namun apakah akan terdengar demikian jika dihadirkan dalam konteks yang lain? seperti pada ruang yang lebih sempit, atau ruang lapangan terbuka, atau bahkan mp3 player sekalipun?? tentu tidak bukan? musik yang anda dengar lewat konteks lain pasti sudah berkurang keindahannya – mp3 tidak dapat menghantarkan indahnya alunan musik orkestra, tidak seperti concert hall.

    Comment by arifnash — April 9, 2012 @ 07:44

  3. saya juga sudah menonton videonya, jika anda baca pertanyaan saya dengan baik, yang saya pertanyakan ialah arti venue itu yang memurut saya pada post anda belum terjelaskan,,
    jika menurut anda venue adalah device, bagaimana dengan venue sebagai inspirasi? seperti yang saya tanyakan lagi, apakah musik harus selalu disesuaikan dengan konteks?
    terima kasih

    Comment by nadiafzna — April 10, 2012 @ 11:15


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: