there’s something about geometry + architecture

April 4, 2012

Teori Klasik pada Tas Klasik

Filed under: classical aesthetics — ariestaokke @ 11:20
Tags: ,

Dalam matematika, dua kuantitas dalam golden ratio yaitu jika rasio antara jumlah dari dua kuantitas tersebut dan kuantitas yang terbesar sama dengan rasio antara kuantitas yang lebih besar dan lebih kecil.

Golden ratio sering dinotasikan dengan huruf Yunani phi (Φ atau φ). Golden section menggambarkan hubungan geometris yang mendefinisikan hubungan konstan ini. Golden ratio merupakan sebuah konstanta matematika yang irasional, sekitar 1,6180339887. Angka tersebut didapat dari deret Fibonacci yaitu sebagai berikut: 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, ..

Sebuah golden rectangle adalah persegi panjang yang sisinya memiliki golden ratio 1: Φ

Golden spiral di bawah ini dibuat dengan membuat persegi dari dimensi deret Fibonacci. Golden spiral didasarkan pada pola persegi yang dapat dibangun dengan golden rectangle. Jika kita mengambil satu titik dan titik kedua adalah seperempat dari jarak titik pertama, titik kedua lebih panjang Phi kali dari pusat daripada titik pertama ke pusat.

Teori klasik seperti yang sudah dipaparkan di atas secara tidak langsung ternyata fit dengan beberapa fenomena seperti pada bangunan arsitektur maupun manusia serta alam ciptaan Tuhan. Lalu bagaimana dengan hasil karya seni lain? Seperti misalnya pada rancangan tas klasik yang sejak pertama kali dirancang hingga sekarang masih diproduksi. Apa yang menyebabkan tas tersebut masih diproduksi? Pastinya karena desainnya yang tidak lekang oleh jaman. Lantas mengapa desain tersebut tidak lekang oleh jaman sehingga tas tersebut masih digemari? Hal ini bisa dikarenakan estetikanya. Salah satu yang mempengaruhi estetika dalam seni adalah proporsi.

Salah satu tas wanita paling ikonik di dunia adalah tas Chanel dimana pegangan tas terbuat dari rantai. Tas Chanel 2.55 masih sebagai tas yang populer hingga kini walaupun diluncurkan sejak awal tahun 1955. Chanel 2.55 rantai tas yang mewakili lambang gaya dan simbol kemapanan tertinggi.

Pada gambar di atas ini, ternyata proporsi tas Channel 2.55 sesuai saat saya men-trace dengan golden spiral. Dimensi tas secara keseluruhan fit dengan sisi luar golden spiral, yaitu golden rectangle. Bagian “klep” penutup tas yang berlambang juga fit dengan garis dalam golden spiral (lihat gambar a). Jarak penutup tas dari bagian bawah juga fit dengan garis pada golden spiral.

Tas klasik selanjutnya adalah tas rancangan Louis Vuitton. Pertengahan abad ke-19, Eropa memasuki “era bepergian” dengan munculnya kereta listrik, mobil dan rute kapal laut yang menyeberang sampai Amerika. Louis Vuitton kemudian terinspirasi untuk membuat koper dengan konsep travelling in style, yang dimulai pada tahun 1867. Selain model koper, tas Louis Vuitton lain yang masih diproduksi hingga saat ini dengan model yang sama yaitu LV Speedy Bag.

Pada gambar di atas ini, saat gambar koper di-trace dengan golden spiral, yang benar-benar fit hanya pada bagian sisi luar golden spiral. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi koper, entah dibuat perancangnya membuat secara sadar atau tidak, sesuai dengan proporsi pada golden rectangle. Elemen pada koper yang merupakan bagian detail sebaga penambah fungsi estetis (lihat gambar c), hampir fit  dengan garis di dalam golden spiral (lihat gambar d).

Pada gambar di atas, proporsi LV Speedy Bag sesuai saat di-trace dengan golden spiral, walaupun juga tidak keseluruhan sesuai. Sisi luar golden spiral, yaitu golden rectangle fit dengan dimensi tas tidak secara keseluruhan yaitu hanya sampai dengan bagian pada pegangan tas (lihat gambar g).  Jarak pegangan tas hampir fit dengan garis dalan golden spiral (lihat gambar f).

Pada gambar di atas, terlihat bahwa prinsip golden spiral dan golden rectangle yang berdasar kepada golden ratio dari deret Fibonacci juga ditemui pada tas-tas bermerk yang muncul selanjutnya dan juga menjadi trend. Prinsip proporsi tersebut juga tidak semua benar-benar fit. Beberapa contoh fit secara dimensi keseluruhan yang berdasarkan golden rectangle. Ada juga yang fit di bagian peletakan detail, seperti elemen estetis (corak, dll), pegangan tas dan penutup tas.

Teori klasik seperti golden ratio, golden rectangle, serta golden spiral ternyata terkandung dalam beberapa karya seni seperti seni merancang tas. Prinsip proporsi yang mengacu pada teori-teori tersebut menghasilkan desain tas yang memiliki nilai estetika tinggi dan tetap long-lasting dan digemari pecinta tas dari masa tas tersebut pertama dibuat hingga saat ini. Berdasarkan pembuktian saya pada gambar tracing golden spiral terhadap tas-tas klasik tersebut seperti Chanel dann LV, secara umum prinsip proporsinya mengikuti teori tersebut, baik mengenai dimensi tas secara keseluruhan ataupun bagian peletakan elemen estetis dan fungsional. Bahkan prinsip klasik ini juga diikuti oleh perancang-perancang tas masa kini. Namun, apakah para desainer pernah mempelajari teori ini secara sadar, ataukah secara tidak sadar mereka belajar dari pengalaman dan menerapkan konsep teori ini ke dalam desain?

Sumber:

http://archnetwork.wordpress.com/?s=golden+section

http://mathworld.wolfram.com/GoldenRatio.html

http://britton.disted.camosun.bc.ca/goldslide/jbgoldslide.htm

http://www.xgoldensection.com/xgoldensection.html

http://www.goldennumber.net/hand.htm

http://collectionunique.blogspot.com/2011/11/kisah-coco-chanel-255.html

http://kue-unik.com/2010/10/cake-tas-louis-vuitton/

http://www.world-mysteries.com/sci_17.htm

1 Comment »

  1. Ini merupakan bahasan yang menarik di mana ternyata benda-benda fashion yang melegenda pun bisa dicari perhitungannya. Tapi saya jadi bertanya, kira-kira apakah sebenarnya persepsi kita tentang indah itu sendiri secara tidak sadar sama? Sehingga di satu titik, meskipun indah itu subjektif tapi ada saatnya indah bisa menjadi hal yang objektif.

    Comment by taniamanaf — April 4, 2012 @ 11:23


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: