there’s something about geometry + architecture

April 4, 2012

Linier atau Zig-Zag?

Filed under: Uncategorized — taniamanaf @ 11:06

Semasa SMA, beberapa teman saya tertarik untuk mengikuti seleksi Paskibraka tingkat kota. Saya sering menemani mereka berlatih dan mengamati mereka dari pinggir lapangan. Salah satu hal yang menarik adalah tes berlari zig-zag.

Saat itu, terdapat beberapa marka jalan dengan warna oranyenya. Marka jalan itu disusun dengan jarak hampir satu meter antar tiap markanya. Dan mereka harus berlari dengan pola selang seling atau berlari zig-zag.

Dari tiga orang yang berlatih, saya ingat satu orang teman saya kesulitan. Jadi terkadang dia melewati markanya begitu saja. Dan dua orang teman saya yang lainnya menjadi lebih lambat saat berlari zig-zag.

Saat itu saya iseng bertanya,”Memangnya buat apa ada tes seperti itu?” Secara sederhana teman saya menjelaskan kalau ketika lari zig-zag tingkat kesulitannya lebih tinggi. Dia harus melakukan dua hal sekaligus, yaitu berlari dan berpikir. Sehingga secara otomatis juga dibutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi dalam melakukan lari zig-zag tersebut dibandingkan ketika dia berlari lurus ke depan.

Lalu, saya pun mempertanyakan,”Mengapa manusia berjalan lurus ke depan dan bukan zig-zag?” “Apakah itu merupakan sebuah hal yang akhirnya menjadi zona nyaman kita?”

Saya sempat berspekulasi. Dikatakan dalam teori matematika bahwa garis lurus (linier) didefinisikan sebagai jarak terdekat antara dua titik. Sehingga, bila rintangannya dibuat zig-zag maka jarak tempuhnya akan semakin jauh sehingga sama saja dengan mempersulit diri sendiri.

Namun, apakah ada penjelasan yang lebih singkat daripada soal jarak saja?

Dalam teori evolusi, tahap sebelum menjadi manusia adalah tahap simpanse. Simpanse ini sendiri sudah sama dengan manusia di mana simpanse merupakan organisme bipedal yang berjalan tegak dengan dua kaki sebagai tumpuan.

Dr. Brian Richmond dari College Columbus George Washington University mengadakan penelitian terkait dengan hal ini. Penelitian tersebut terdiri dari tiga tahap. Pada tahap pertama disediakan sejumlah makanan bagi sekumpulan simpanse. Namun, pada tahap berikutnya makanan yang disediakan terus dikurangi sehingga tingkat persaingan lebih tinggi.

Pemilihan simpanse sebagai subjek didasari atas pertimbangan refleks dari simpanse itu sendiri. Dengan pengkondisian seperti itu, lebih mudah menilai refleks dan naluri hewan. Pada manusia, banyak sekali variabel yang akan menjadikan penelitian tersebut menjadi lebih kompleks. Misalnya saja sikap kurang kooperatif, rasa malas, dan juga terutama karena manusia sudah memiliki akal pikiran yang lebih ketimbang simpanse.

Pada saat suplai makanan lebih banyak simpanse-simpanse tersebut belum berjalan benar-benar lurus masih terkadang serong bahkan juga zig-zag saat sudah mengambil suplai makanan yang diberikan. Namun, saat suplai makanan dikurangi, terutama di tahap ketiga, perilaku mereka berubah.

Pertama, mereka berebutan makanan dan berusaha mengambil makanan lebih banyak. Setelah itu, mereka yang membawa makanan lebih banyak langsung berjalan lurus (upright) menuju pohon naungan mereka dengan membawa banyak makanan di tangan mereka.

Pada saat berjalanan, manusia menggeser seluruh berat badannya dari satu kaki ke kaki lainnya secara bergantian. Dalam keadaan berjalan normal (lurus), kedua kaki berada di tanah hanya 25% dari waktu keseluruhan. Sehingga, sebagian besar dari waktu kita digunakan untuk menyeimbangkan tubuh kita pada satu kaki ketika berjalan.

Guna menyeimbangkan badan, berat badan manusia harus tertumpu secara stabil di atas pinggul. Ada tiga hal yang bisa dilakukan manusia dalam menjaga kestabilan tubuhnya saat berjalan. Di antaranya adalah :

  1. Menjaga agar kepala berada di garis tengah tubuh
  2. Menjaga berat tubuh atas pada pinggul
  3. Menjaga kaki tetap stabil untuk menopang berat tubuh

Berikut ini ada penjelasan mendetail mengenai struktur tubuh manusia itu sendiri.

Kepala

Pada tubuh manusia terdapat foramen magunum di bawah tengkorak. Bagian ini lah yang signifikan dalam menyeimbangkan kepala dan menjaganya tetap tegak.

Rusuk

Beberapa lengkungan pada rusuk berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Pada manusia, terdapat lengkung lumbar tambahan di atas pinggul yang berfungsi untuk menarik tubuh atas kembali ke atas pinggul saat membungkuk, berat mereka menarik mereka maju.

Pinggul

Bilah iliac manusia di dalam pinggul, berpuntir ke dalam untuk mendukung organ dalam saat manusia tegak. Puntiran itu membuat otot gluteal dapat menyeimbangkan badan saat pejalan berdiri pada satu kaki dengan menariknya melawan gravitasi.

Paha

Tulang paha manusia membentuk sudut ke dalam. Sudut tulang paha mengarah ke dalam sehingga berat tubuh ditopang oleh garis tengah tubuh. Hal ini membuat berjalan lebih efisien karena manusia tidak memutar tubuh sisi demi sisi pada tiap langkah. Tulang paha manusia juga panjang, meningkatkan panjang langkah agar berjalan lebih efisien.

Lutut

Sendi lutut tersusun dari beberapa tulang: tulang paha, tibia, dan patella. Manusia memerlukan lutut yang stabil saat berjalan. Bagian atas tibia lebih datar pada manusia untuk mengurangi rotasi lutut. Kedataran dapat pula dilihat pada dasar tulang paha.

Kaki

Pada manusia, ibu jari membesar dan sejajar dengan jari kaki lainnya, membantu keseimbangan. Kaki manusia memiliki dua lengkungan: lengkung transversal menyebarkan berat tubuh pada tapak kaki saat berdiri dan berjalan. Lengkung longitudinal (tumit ke kaki) menyebarkan berat tubuh, menyerap hentakan, dan mendorong berat untuk maju.

Pada saat berjalan lurus badan kita senantiasa mengacu pada posisi di atas sehingga membuat fungsi dari tulang-tulang tersebut menjadi lebih stabil. Sehingga, kaki manusia pun lebih stabil dalam menopang berat badan. Hal itu sebenarnya membuat berjalan atau berlari lurus lebih stabil dan dirasa nyaman untuk badan.

Saat berlari zig-zag badan terus meneruskan menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan beratnya. Karena topangan massa sifatnya tidak stabil. Terkadang terlalu ke kiri, kadang juga terlalu ke kanan.

Di samping itu, berjalan atau berlari lurus tentunya membuat efesiensi jarak tempuh juga. Sehinggga itulah mengapa mungkin manusia memiliki kecenderungan untuk berjalan atau berlari (mengambil jarak tempuh) secara linier.

Sumber

esai uts

geometri dan arsitektur

tania miranti/0906640425

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: