there’s something about geometry + architecture

April 4, 2012

Persepsi Manusia pada Bangun Ruang Tidak Sempurna

Filed under: Uncategorized — nadhilaadelina @ 00:10

Manusia seringkali mengasosiasikan sesuatu bentuk yang tidak mereka kenali dengan bentuk-bentuk dasar yang dapat mereka jelaskan. Sebagai contoh ketika kita melihat suatu bangunan yang memiliki bentuk yang cukup unik, kita akan mencoba mencari-cari bentuk sederhana yang dapat otak kita mengerti.

Bangunan di atas adalah gereja Saint Pierre de Firminy yang dirancang oleh Le Corbusier. Pertama melihat bangunan ini pasti yang terlintas di kepala kita adalah bangunan ini menyerupai kerucut atau limas. Padahal bentuknya jelas-jelas tidak seperti itu. Persepsi kita yang terbagi dua pun tergantung kita melihat bagian mana terlebih dahulu, apakah atapnya yang seperti lingkaran terpotong atau sudut di bagian yang bertemu dengan pilar yang membuat kita membayangkan limas.

Begitu pula dengan Tower House ini, kita akan langsung menggambarkan ulang bangunan ini dengan bentuk balok sempurna di pikiran kita, tanpa adanya pengurangan bagian-bagian tertentu. Ketika kita melihat bangunan ini sekilas dan mendapatkan bayangan balok di otak kita, kita cenderung akan lupa bahwa bangunan ini ternyata tidak seutuhnya balok.

Lain lagi dengan Gwathmey Residence. Rumah ini akan membuat kita berpikir akan tiga atau lebih bangun ruang dasar, yaitu silinder, kubus dan prisma, walaupun ketiga bangun ini hanya sebagian saja yang terlihat.

Ketiga bangunan ini merupakan hasil dari transformasi bentuk. St Pierre de Firminy dan Tower House merupakan contoh substractive form. Bentuk yang dikurangi cenderung lebih kuat memunculkan image bentuk asli dibanding bentuk hasil substraksinya. Sedangkan Gwathmey Residence dapat digolongkan sebagai beberapa substractive form yang digabungkan. Alam pikiran kita lantas membagi bentuk Gwathmey Residence dalam tiga atau lebih bagian dibanding melengkapi bentuk itu menjadi suatu kesatuan yang utuh. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dapat terjadi karena bangun-bangun dasar sederhana seperti kubus, bola, limas, dan silinder memiliki ciri khas yang sudah tertanam di otak kita sehingga kita cenderung menyederhanakan suatu bentuk atau melengkapi bentuk jika bentuk itu tidak sesuai dengan image yang ada di pikiran kita. Manusia umumnya melihat suatu image secara keseluruhan, dibanding dalam bagian-bagian tertentu. Sehingga persepsi kita terhadap bangun ruang yang rumit pun cenderung disederhanakan oleh otak kita. Hal ini juga menunjukkan bahwa otak manusia nyaman dengan bentuk-bentuk geometris sehingga mampu menampung memori akan pembentukan bangun-bangun geometris tersebut.

Jika dikembalikan pada persepsi masing-masing individu, apakah Anda cenderung nyaman dengan bangun-bangun yang “utuh” tersebut? Atau bahkan kita sebagai mahasiswa arsitektur cenderung ingin berada di area nyaman itu dengan membuat desain-desain dengan bentuk yang sempurna?

Referensi:

Ching, Francis D.K.(1979).Architecture: Form, Space, and Order.New York:Van Nostrand Reinhold Company

http://www.macalester.edu/academics/psychology/whathap/ubnrp/aesthetics/perception.html diakses tanggal 3 April 2012

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: