there’s something about geometry + architecture

April 4, 2012

SPATIAL VISUAL 3D

Filed under: Uncategorized — anggaaditianto @ 06:36

Bermacam-macam pengalaman ruang dapat dirasakan. Tentunya sebagian besar dilakukan secara langsung.Namun bagaimana jika ada pengalaman ruang secara tak langsung tapi berusaha berwujud nyata tanpa perlu mengunjungi ruang yang bersangkutan? Jawabannya ialah teknologi visual 3D (tiga dimensi).Tulisan berikut berusaha mengungkap perkembangan teknologi visualisasi 3D sebagai pengalaman spatial dan perkembangan media untuk melihat atau menerjemahkan visual tersebut supaya dapat tertangkap mata berupa kacamata.

Teknologi Anaglyph ialah dasar dan awal dari penemuan visual 3D serta metode yang umum dipakai. Pada sistem ini dua gambar saling diproyeksikan melalui dua filter yakni berwarna merah dan biru cyan.Kemudian penonton menangkap gambar 3D tersebut dengan mengguanakn kacamata (yang biasanya berbahan karton berlensa mika) berwarna merah di kiri dan biru cyan di kanan. Alhasil, sesudah menonton menggunakan kacamata ini rasa pusing dalam kepala akibat menangkap visual secara tak lazim tersebut. Kekurangan lainnya kacamata ini takdapat digunakan oleh orang yang hanya memiliki sebelah indera mata.

Memanfaatkan teknologi 3D sudah tentu berpengaruh pada jalan cerita sebuah film. Bukan hanya terdiri atas dialog- dialog sederhana saja. Biasanya teknologi ini erat hubungannya dengan film action, sci-fi, dan genre lainnya menggunakan visual efek yang dahsyat. Pada awal masa kejayaan visual 3D in, aplikasinya pada film seringkali menggunakan adegan demi adegan berlebihan seolah ingin menunjukkan film sebagai ruang yang mampu berinteraksi dengan penonton walaupun satu arah. Kendati demikian teknologi ini sempat redup karena kekurangan di berbagai aspek.

Perkembangan teknologi visual 3D pun kian berkembang dengan Sistem Polarisasi. Untuk menghasilkannya, terdapat dua gambar yang saling diproyeksikan ke layar yang sama melalui polarizing filter dan perspektif yang berbeda beberapa derajat. Material terbaik yang dipakai untuk layarnya ialah sejenis lembaran metal, selain itu kualitas proyeksi menurun. Penonton dapat menikmati versi 3D-nya tetap melalui kacamata yag memiliki sistem polarizing filter juga, hanya saja orientasinya berbeda sehingga proyeksi terbalik dari layar ke kacamata pada akhirnya mampu ditangkap oleh mata dengan baik. Kacamata yang berkembang dan banyak dipakai hingga saat ini ialah RealD Circular Polarized glasses. Kacamata ini punya keunggulan yang lebh handal dari predesornya. Jika pada kacamata sebelumnya posisi kepala dan mata harus benar- benar menghadap layar guna mencerap gambar 3D secara maksimal,tidak halnya dengan kacamata ini yang tetap menangkap gambar walaupun dengan posisi miring. Bentuk kacamata yang semakin relevan dengan umumnya semakin diterima masyarakat. Tidak sekedar kotak kaku apalagi berbahan karton, kacamata ini memiliki warna lensa yangsama di keduanya dan sudah seperti kacamata hitam sunglasses yang sangat populer. Teknologi ini sudah diterapkan di bioskop-bioskop dalam negeri.  Kelemahan pada teknologi ini ialah hasil gambar yang gelap jika menggunakan kacamata (karena lensa kacamata circular polarized gelap seperti kacamata hitam), solusinya ialah meningkatkan tingkat cahaya pada sumber proyektor. Teknologi tak berhenti sampai di situ, beragam  perkembangan mulai dari konversi format hingga teknologi 3D tanpa kacamata.

Tidak hanya teknologinya saja yang berkembang tetapi skenario dalam film dengan format 3D pun semakin kreatif. Jika di antara kita masih ada yang berpikir bahwa gerakan-gerakan hiperbola semacam melempar atau menyerang ke arah kamera (sudut pandang penonton), sebenarnya sudah jarang ditemukan. Penggunaan 3D kini digunakan secara lebih bijak dan dewasa seperti mengajak penonton lebih merasakan kedalaman ruang suatu set lokasi dengan apik dan detail. Serta menghadirkan suasana yang lebih realistis. Itulah mengapa pada awal teknologi ini masuk tidak ada subtitle atau  teks penerjemahan film yang bersangkutan mengingat hal tersebut akan sangat mengganggu prinsip,  turunnya citra dan kesan meruang kian meluntur.Spatial visual 3D sesungguhnya merupakan hal menarik yang dapat berkembang jauh lebih pesat dari saat ini. Tetapi batasan dan perbedaan bahwa kita tak dapat mengalami bentuk ruang secara nyata dengan gerakan dan sentuhan tetap menjadi border utama dari aktivitas meruang itu sendiri.

Internet reference:

http://en.wikipedia.org/wiki/3D_film

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: