there’s something about geometry + architecture

April 5, 2012

interior of the city

Filed under: Uncategorized — lorinalumombo @ 01:23

”The ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home. A place for everything and everything in its place” – Lofland

Lofland telah menyatakan bahwa kota yang baik adalah kota yang ter-‘order’ dengan baik seperti di rumah. Dalam mendesain sebuah rumah diawali dengan pembagian zoning yang berdasarkan kepada kebutuhan penghuni rumah. Sehingga jika kita menganalogikan sebuah kota adalah sebuah rumah, maka pen-zoning-an kota menjadi hal yang penting. Hal ini juga mengacu kepada kutipan lain dari Lofland; “the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities”. Kemudian kota mulai terbagi-bagi menjadi beberapa zona.

“Streets are often on a rigid grid design, or if not a grid, at least a pattern that looks very well-thought-out when observed in a scale model” – Le Corbusier

“The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form par excellence. It represents the most common and universal pattern of urban history, a reflection of order” – Eaton

Dua kutipan dari Le Corbusier dan Eaton ini mengacu tentang penerapan pola grid pada sebuah kota. Pola grid dianggap sebagai sebuah metode yang baik untuk mengarahkan sebuah kota menjadi kota yang ideal. Jika kita masih menganalogikan kota ini sebagai sebuah rumah, maka grid ini mengingatkan saya pada kolom-kolom yang biasanya terdapat pada denah eksisting bangunan, yang mana kehadirannya mau tidak mau harus diterima.

Kolom pada bangunan eksisting tersebut terkadang menjadi acuan dalam mendesain ruang interior, karena keberadaannya di dalam ruang tidak dapat diacuhkan. Namun keberadaan kolom ini juga tidak serta merta menjadi pembatas dalam mendesain. Mungkin persepsi ini dapat berlaku juga pada ‘ruang interior’ kota yang telah dikotak-kotakkan oleh grid yang ada. Menurut saya, kota yang menggunakan pola grid pada ‘interior’-nya bukan berarti akan menjadi kota yang monoton seperti yang pernah disebutkan oleh Jane Jacobs. Pengotak-ngotakan yang terbentuk oleh grid atau mungkin oleh zona yang ada belum tentu akan membatasi kreativitas para arsitek dalam mendesain ‘ruang interior’ tersebut. Grid ini hanya menjadi ‘partisi’ agar terbentuk ‘interior’ kota yang lebih rapi dan teratur.

Dalam interior, grid dapat dianalogikan sebagai area sirkulasi yang merupakan elemen penting interior. Sirkulasi ini dapat mengantarkan pengguna ruang dari ruang satu ke ruang lainnya, atau dalam ruang lingkup kota mengantarkan pengguna dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Namun terdapat perbedaan antara sirkulasi dalam interior dan sirkulasi dalam kota. Dalam interior, bagian dari sebuah ruang juga dapat menjadi area sirkulasi untuk perpindahan menuju ruang lainnya, sedangkan di dalam kota, sebuah ruang atau dalam hal ini sebuah bangunan tidak bisa menjadi akses untuk menuju bangunan lainnya. Pengguna harus melalui area sirkulasi yang sebenarnya untuk mengakses bangunan lain. Apakah metode sirkulasi dalam ruang interior ini dapat diterapkan pada sebuah kota? Sehingga nantinya, kita dapat mengakses suatu ‘ruang’ di dalam kota melalui ‘ruang’ yang lainnya tanpa harus melalui area sirkulasi. Lalu saya teringat kepada sebuah konsep kota ideal menurut Le Corbusier, yang memberikan ruang khusus untuk pedestrian di bagian dasar kota. Konsep yang dipaparkan oleh Le Corbusier ini hampir menyerupai metode sirkulasi pada ruang interior.

Lalu apakah dengan begitu kota yang ideal akan dapat direalisasikan? Hal tersebut tentu kembali kepada asumsi masing-masing orang.

 

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Grid_plan

1 Comment »

  1. keteraturan terkadang memang penting untuk memudahkan perencanaan suatu kota walaupun keteraturan tidak menjamin kesesuaian terhadap manusia yang tinggal di dalamnya. Keteraturan terkadang lebih terfokus terhadap visualisasi tetapi bukan pengalaman ruang. Oleh sebab itu, kita perlu hati-hati dalam memahaminya dan kita perlu tahu jelas perbedaannya. coretan perencana atau arsitek bisa mengubah kehidupan manusia bahkan dalam besar. Penzonaan juga merupakan simplifikasi yang sering dilakukan. Penzonaan terhadap suatu kota atau wilayah tidak salah dilakukan. Tapi, daerah dengan fungsi tunggal terkadang menjadi paradigma yang mengikuti pemikiran arsitek terutama pada masa arsitektur modern, padahal manusia selalu menggunakan ruang secara multifungsi walaupun dalam daerah tertentu ada fingsi yang lebih menonjol..Jadi, kita perlu lebih kritis lagi dalam menggunakan grid yang menciptakan keteraturan dan penzonaan agar pengalaman ruang yang sesungguhnya oleh manusia yang tinggal di dalamnya juga tidak terlupakan. Kita perlu sadari bahwa hampir sepanjang hidup kita, kita menikmati kota dari bawah bukan dari atas dengan pandangan mata burung. Hal ini pula yang diungkapkan Jane Jacobs mengenai perlunya bottom-up planning ketika mengkritik modernisme yang terjadi.

    Comment by indralim09 — May 17, 2012 @ 19:35


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: