there’s something about geometry + architecture

April 5, 2012

Persepsi Akan Sebuah Realitas

Filed under: perception — arifrw @ 00:08

Selama ini kita percaya dunia yang kita lihat ini adalah dunia yang nyata. Namun bagaimana sebetulnya kita mempersepsikan dunia nyata ini? Apakah kenyataan yang kita lihat sama dengan kenyataan yang orang lain lihat? Menurut Albert Einstein dan Douglas Adams, apa saja yang kita lihat di sekeliling kita saat ini dipersepsikan sebagai realitas.

Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one.” – Albert Einstein

Everything you see or hear or experience in any way at all is specific to you. You create a universe by perceiving it, so everything in the universe you perceive is specific to you.” – Douglas Adams

Saya kemudian mencoba melihat fenomena ini diterapkan pada film “Inception“. Secara garis besar film ini bercerita tentang bagaimana sekelompok orang menanamkan ide baru ke dalam pikiran orang lain melalui mimpi yang berlapis-lapis sehingga orang tersebut menerima ide yang ditanamkan di dunia nyata. Di film ini saya banyak menemukan bagaimana setiap orang terjebak dalam persepsi mereka akan realitas.

ImageImage

Dalam scene di atas misalnya, tokoh Ariadne dan Cobb sebenarnya sedang berada di mimpi lapis pertama dan kota tempat mereka berada dapat berjalan secara horizontal maupun vertikal. Mobil-mobil bisa bergerak dari atas ke bawah, bawah ke atas, begitu pun dengan manusia. Hal ini tentu saja tidak nyata bagi kita, tapi bagi mereka yang sedang berada di kota itu, itulah realitas mereka. Karena area itu yang sedang mereka lihat dan mereka bisa berjalan secara vertikal secara nyata di mimpi tersebut.

Image

Scene selanjutnya adalah daerah gunung es. Area ini sebetulnya mimpi di lapis ketiga, dimana sebetulnya para tokoh di dalamnya sedang bermimpi bersama-sama di mimpi lapis kedua yaitu di dalam hotel. Mungkin kita berpikir seharusnya yang nyata bagi mereka adalah hotel tersebut, tetapi di saat berada di gunung es itu, itulah yang menjadi realita mereka. Mereka bisa menggunakan ski dengan nyata, merasakan dinginnya salju, bahkan kesakitan saat tertembak. Pengelihatan dan pengalaman ini menjadikan area gunung es dipersepsikan sebagai kenyataan saat itu.

Image

Scene terakhir yang saya coba lihat adalah mimpi lapis keempat, dimana tokoh Saito menjadi sangat tua karena ia menganggap mimpi itu sebagai dunia nyatanya. Hal ini diakibatkan memori akan dunia nyata sebenarnya dengan mimpi menjadi samar sehingga ia terjebak dalam persepsinya sendiri akan realitas. Rumah bergaya jepang dan pantai di sekitarnya lah yang menjadi realitas bagi Saito, sementara tokoh Cobb dapat menyadari bahwa itu bukan realita melainkan mimpi lapis keempat dan berhasil menyelamatkan Saito.

Beberapa adegan di film ini membuat saya berpikir bahwa realitas sebetulnya memang hanya apa yang diri kita persepsikan dari penglihatan, mungkin bukan sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi di sekitar kita. Jadi, apakah tempat tinggal kita dan seluruh kegiatannya saat ini adalah dunia yang benar-benar nyata?

Sumber:

http://www.lifehack.org/articles/lifehack/your-perception-is-your-reality.html

http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=looks-can-deceive

Eco, Umberto. 1973. “Travels in Hyperreality”

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: