there’s something about geometry + architecture

June 10, 2012

Simetri dan Asimetri pada Window Display

Filed under: Uncategorized — neyshaadzhani @ 11:52

Salah satu aspek yang harus diperhatikan pada penyusunan komposisi visual dalam dunia desain adalah adalah balance, yaitu konsep keseimbangan visual dari keseluruhan elemen pada desain sehingga menghasilkan suatu kesatuan komposisi yang harmonis. Balance pada umumnya dapat dicapai dengan symmetrical balance atau asymmetrical balance. Symmetrical balance dicapai dengan melakukan pencerminan elemen desain terhadap sumbu vertikal sehingga karakter komposisi yang dihasilkan adalah formal, kaku, terorganisir, dan teratur. Asymmetrical balance merupakan balance yang melibatkan proses penataan sedemikian dari berbagai elemen dengan berat visual yang berbeda-beda menjadi saling seimbang terhadap titik tengah. Hasilnya adalah komposisi dengan karakter yang lebih dinamis dan fleksibel.

Image

symmetrical balance

Image

asymmetrical balance

Salah satu bidang dalam dunia desain yang harus memperhatikan konsep balance agar mampu mencapai komposisi visual yang penuh estetika adalah window display. Window display pada dasarnya memiliki makna lebih dari sekadar mempromosikan produk dari sebuah toko, yaitu juga untuk meningkatkan brand awareness (kemampuan konsumen dalam mengenali dan mengingat brand tersebut). Window display seharusnya benar-benar merepresentasikan identitas suatu brand karena merupakan bagian pertama dari keseluruhan pengalaman konsumen dalam toko bahkan dapat terlihat dari luar secara bebas sehingga memang memegang peranan penting dalam pembentukan persepsi terhadap brand tersebut.

Pada pembahasan kali ini, saya akan menganalisis mengenai apakah ada keterkaitan antara pemilihan symmetrical balance atau asymmetrical balance pada window display suatu brand dengan identitas yang dibawanya berkaitan dengan masing-masing karakter komposisi yang dihasilkan oleh kedua jenis balance tersebut. Saya menganalisis 3 brand di bidang yang sama dengan window displaynya masing-masing sebagai sampel dimana tiap brand tersebut sudah memiliki identitas yang kuat, nama yang besar, dengan target market tersendiri: Gucci, Louis Vuitton, dan Moschino. Brand-brand tersebut sama-sama bergerak di bidang fashion namun memilik identitas dan target market yang bervariasi.

Berdasarkan hasil analisis, dapat terlihat sebuah pola berkaitan dengan identitas ketiga brand dan pemilihan penggunaan symmetrical balance atau asymmetrical balance pada window display masing-masing.

Dapat selalu ditemukan pada window-window display Gucci yang selalu menggunakan symmetrical balance dengan karakter formal, teratur, dan kaku. Hal ini sesuai dengan Gucci yang desain-desainnya yang bergaya klasik konvensional dan target marketnya yang ekslusif dan terbatas, yaitu wanita berumur 30-65 tahun berkelas atas, sesuai dengan visi Gucci, yaitu simbol keindahan dari kedewasaan dengan garis aristokratis.

ImageImageImage

ImageImageImage

Window Display Simetris Gucci

Sebaliknya, dapat selalu ditemukan pada window-window displaynya, Moschino selalu menggunakan asymmetrical balance dengan karakter yang dinamis dan fleksibel sebagai brand yang identitasnya berkebalikan dari Gucci, dengan desain-desain inovatif, penuh warna, menyenangkan dan eksentrik yang selalu diperbaharui. Ditambah dengan target market yang beragam, ada yang untuk pasar berumur 35-50 dan ada yang untuk umur 18-40 serta high-availability-nya (berkebalikan dengan ekslusivitas Gucci) dimana memang mencerminkan suatu kedinamisan dan fleksibilitas.

ImageImageImage

ImageImage

Window Display Asimetris Moschino

Terakhir, Louis Vuitton, dengan identitas brand di antara kedua brand Gucci dan Moschino, yaitu inovatif dan modern namun tetap mempertahankan desain klasiknya dengan target market yang luas jangkauannya namun tetap mempertahankan ekslusivitas berupa pria dan wanita berfinansial mapan berumur 22-65. Hal ini diwujudkan dengan mengeluarkan desain yang bervariasi, produk dengan gaya sleek untuk generasi yang lebih tua dan gaya yang lebih casual dan funky untuk generasi yang lebih muda. Hasilnya, Louis Vuitton melakukan penyesuaian dengan menggunakan symmetrical dan symmetrical balance pada window displaynya secara bergantian sehingga kombinasi karakter yang direpresentasikan kedua jenis balance tersebut mencerminkan sebuah identitas Louis Vuitton yang mencakup kedua karakter tersebut, yaitu dinamis dan fleksibel namun tetap ada sisi formal dan konvensionalnya.

ImageImageImage

Window Display Simetris Louis Vuitton 

ImageImage

Window Display Asimetris Louis Vuitton

Dapat disimpulkan bahwa pemilihan penggunaan symmetrical balance atau asymmetrical balance pada window display suatu brand memiliki keterkaitan dengan identitas suatu brand. Hal ini didasari oleh karakter yang sudah tercitra pada symmterical balance atau asymmetrical balance yang harus disesuaikan pengunaannya pada window display dalam menyampaikan identitas brand kepada konsumen agar dapat berhasil merepresentasikan identitas tersebut.

 

Referensi:

Anonim. Moschino Clothing. Didapat 23 April 2012 dari http://www.onlineclothingadvice.com/shop/moschino-clothing/

Anonim. Retail Window Displays. Didapat 24 April 2012 dari http://www.redcliffe.co.uk/point_of_sale/boost-your-sales.htm

Carrol, Conor, Kate Hurley & Ann Treacy. Gucci, Louis Vuitton, & Vertu – Marketing Lessons from some of the World’s Most Exclusive Brands. Didapat 23 April 2012 dari http://www.highered.mcgraw-hill.com/

Heaton, Christina. The Impact and Importance of Window Display. Didapat 24 April 2012 dari http://EzineArticles.com/1356729

Kam, David. The Importance of Brand. Didapat 24 April 2012 dari http://marketingdeviant.com/the-importance-of-brand/

McDowall, Elidh. Design Without Computers. Didapat 23 April 2012 dari http://tlcstudents.ac.nz/resources/tutorials/tlc-design-without-computers.pdf

Pearsall, Judy. (2002). Concise Oxford English Dictionary. Concise Oxford English Dictionary. New York: Oxford University Press, Inc.

Qsisqsis. Brand Analysis – Louis Vuitton. Didapat 23 April 2012 dari, http://www.writework.com/essay/brand-analysis-louis-vuitton

Ti, Chihmin. (2009). The Effects of Window Display Setting and Background Music on Consumers’ Mental Imagery, Arousal Response, Attitude, and Approach-Avoidance Behaviors. Oregon: Oregon State University Press.

Woyke, Elizabeth. Gucci’s High Style and Growing Revenues. Didapat 23 April 2012 dari http://www.businessweek.com/innovate/content/feb2007/id20070205_607426.htm

5 Comments »

  1. Ulasan yang menarik.. Window display akan memajang produk unggulan beserta simbol yang akan diletakkan di bagian depan toko (etalase) sebagai identitas, biasanya etalase transparan sehingga mudah dilihat. Tujuannya memang untuk menarik perhatian konsumen yang lewat dan menciptakan daya tarik dengan memperlihatkan kualitas dari ciri khas toko tersebut.
    Untuk window display symmetrical balance, terlihat teratur, seperti pencerminan. Namun, asymmetrical balance terlihat lebih menarik dan atraktif, kedinamisannya itu membuat produk yang ditunjukkan ridak monoton. Mungkin selain sesuai dengan karakter sebuah brand, ada hubungannya juga dengan masa produksi (jangka waktu) dimana pada umumnya produk-produk baru muncul per-musim (season) sesuai jadwal atau berganti disesuaikan dengan trend pada saat itu😀

    Comment by nanabestari — June 12, 2012 @ 18:57

  2. Saya setuju dengan pendapat neysha bahwa pengaturan window display yang diterapkan pada brand-brand tersebut sangat terkait dengan visi dan identitas dari brand itu sendiri. Dari situ mungkin ada penelitian menarik yang lebih lanjut lagi mengenai umur dan pengaruhnya ke selera (tentunya masih terkait dengan simetris ataukah asimetris). Mungkinkah orang yang lebih muda akan lebih cenderung menyukai yang asimetris karena lebih terlihat berani dan unik? Atau yang dewasa akan lebih cenderung menyukai yang simetris karena lebih terlihat rapih dan seimbang?

    Comment by gitamanohara — June 12, 2012 @ 20:04

  3. Memang terlihat sekali perbedaan kesan yang ditimbulkan dari contoh – contoh window display yang neysha cantumkan dalam post ini. Namun apakah memang benar simetri atau asimetrinya adalah hal yang membuat perbedaan – perbedaan kesan tersebut? Mungkin ada faktor lain yang seharusnya juga menjadi bahan pertimbangan. Saya rasa tampilan yang simetri tetap dapat menimbulkan kesan yang ‘muda’ dan tidak kaku dengan menggunakan warna dan elemen – elemen tampilan lain yang lebih beragam dan ‘liar’, dan begitu pula berlaku sebaliknya.

    Comment by rrrana — June 12, 2012 @ 23:22

  4. Penggambaran simetris dan asimetris pada bahasan diatas membuktikan bahwa keduanya memiliki keindahan dan daya tarik tersendiri. Keduanya dapat diaplikasikan sesuai fungsinya. Dalam hal ini yaitu window display ini dapat mempermudah persepsi calon pembeli akan sebuah brand dan langsung mencocokannya dengan kepribadian dan keinginan masing-masing. Dari keduanya yang poin penting ialah bagaimana keduanya memiliki ‘balance’ yang membuat keduanya (simetri dan simetri) tetap terlihat indah.

    Comment by rarainterior09 — June 12, 2012 @ 23:28

  5. saya setuju dengan semua komen di atas.

    tapi bagi saya setelah membaca ulasan di atas, ada satu hal yang mengganggu pikiran saya.
    tentang sebuah window display dengan komposisi simetris yang asimetris atau komposisi asimetris yang simetris.

    saya sendiri belum bisa, menggambarkannya, jadi jangan ditanya ya.

    Comment by mahardikaandi — June 12, 2012 @ 23:44


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: