there’s something about geometry + architecture

June 12, 2012

Brasilia City : Analisis Berdasarkan Metode Vitruvius

Filed under: ideal cities — rrrana @ 23:43
Tags:

Saya mencoba menganalisis aspek – aspek pada kota Brasilia berdasarkan metode Vitruvius yang tertuang dalam buku “10 Books on Architecture”, khususnya pada bab IV hingga bab VII, yang membahas elemen – elemen penting dalam pembentukan sebuah kota yang ideal.

Chapter IV : The Site of a City

Dalam bab ini, Vitruvius mengatakan bahwa pembangunan kota yang baik harus diawali dengan pemilihan tapak yang baik pula. Tanah yang subur, iklim yang pas (tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin), serta di area yang tidak terlalu rendah sehingga tidaka akan mengalami banjir di saat musim hujan ataupun saat air laut pasang.

Kota Brasilia dibangun di atas lahan kosong, yang dipilih berdasarkan letaknya, yaitu di bagian tengah Negara Brazil. Namun tidak seperti tapak yang ideal menurut Vitruvius, kota Brasilia dibangun di atas lahan yang tandus dan kering. Tentu saja dalam perancangannya telah dibentuk sistem pengairan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk menghidupi kota Brasilia, namun iklim dari daerah yang gersang ini akan terasa dampaknya terutama pada musim gugur dan musim salju di Brasilia, yaitu sekitar bulan Mei hingga bulan Agustus. Iklim di Brasilia biasanya sangat kering, mencapai level kekeringan gurun sehingga penduduknya kekurangan air.

 

Chapter V : The City Walls

Chapter VI : The Directions of the Streets

Bab 5 berbicara mengenai pembangunan dinding dan benteng kota, selain membahas kekuatan struktur melalui pemaparan mengenai peletakan fondasi, Vitruvius menekankan mengenai bentukan kota dan bagaimana kota tersebut dapat dicapai oleh pihak luar (musuh, pada konteks aslinya). Menurut Vitruvius, bentuk kota yang ideal sebaiknya berbentuk sirkular, sehingga setiap bagian perbatasan kota dapat diawasi dan kedatangan musuh dari berbagai arah dapat diantisipasi.

Sedangkan pada bab 6, Vitruvius menjelaskan mengenai penempatan akses – akses jalan yang harus dibangun di dalam tembok kota, yang dikatakan sebaiknya dibangun berdasarkan arah mata angin.

Saya membahas kedua bab ini secara bersamaan karena pada konteks pembahasan mengenai kota Brasilia, bentuk dari kota ini didapat dari penempatan kedua sumbu utama yang berupa jalan atau akses utama kota Brasilia (dapat terlihat pada di bawah).

Kota Brasilia tidak berbentuk sirkular. Tampak atas kota Brasilia ini dianggap menyerupai bentuk pesawat terbang atau seekor burung, dengan dua akses jalan utama yang saling bersilang, yang satu vertical dan yang lainnya horizontal.

Rencana Awal Kota Brasilia

Sumber : http://www.aboutbrasilia.com/facts/

 

Pada konteks saat ini mungkin aspek yang dikemukakan oleh Vitruvius menjadi tidak relevan. Pada masa itu penguasa – penguasa saling berebut daerah kekuasaan sehingga penting sekali untuk menjaga keamanan dan menutup kota untuk pihak luar, namun saat ini justru sangat penting bagi pertumbuhan kota jika kota atau eilayah tersebut menjadi mudah untuk diakses oleh pihak luar, tentunya tanpa mengesampingkan factor keamanan.

Membahas kota Brasilia, akses yang dimiliki secara teori memang dapat dikatakan baik. Pembentukan kota yang dibuat memanjang vertical dan horizontal tentunya membuat semua daerah mudah untuk diakses karena dibangun untuk berada di sekitar akses utama. Namun secara kenyataannya, hal ini tentu menjadi sebuah ketidaknyamanan tersendiri karena akses utama yang tersedia berupa jalan tol besar yang hanya dapat digunakan secara maksimal oleh orang – orang yang menggunakan kendaraan bermotor. Hal ini tentunya menjadi kesulitan bagi para pejalan kaki untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya karena bentuk area yang memanjang sehingga tidak ada akses pintas seperti yang biasanya terdapat pada area – area yang berbentuk sirkular atau memiliki pola yang berkumpul pada suatu area.

 

Chapter VII : The Sites for Public Buildings

Vitruvius menyebutkan beberapa bangunan – bangunan publik yang perlu ada di dalam sebuah kota, dan di mana meletakkannya. Pada umumnya di buku ini bangunan – bangunan yang disebutkan kebanyakan berupa kuil – kuil penyembahan dewa – dewi Yunani. Selain itu juga ada beberapa tempat – tempat fungsional dan rekreasional yang disebutkan oleh Vitruvius dalam bab ini, antara lain adalah forum, pelabuhan, emporium, teater, amphiteater, sirkus, gymnasium, dan area pelatihan militer.

Secara general, dari penekanan Vitruvius dalam bab ini saya menangkap pentingnya adanya bangunan – bangunan publik di dalam suatu kota. Selain bangunan – bangunan yang memang berguna untuk kepentingan ketahanan kota (seperti area pelatihan militer dan forum tempat diadakannya diskusi atau rapat bersama), bangunan – bangunan seperti sirkus dan gymnasium serta teater yang sifatnya rekreasional pun dianggap sama pentingnya oleh Vitruvius untuk berada di dalam sebuah komunitas kota.

Pada kota Brasilia, sayangnya, secara keseluruhan terasa seperti hanya ada dua pembagian utama, yaitu area pemukiman dan area perkantoran. Sektor – sektor yang ada tidak memiliki pemusatan khusus untuk area rekreasional publik. Kalaupun ada, tempat – tempat itu sulit untuk dijangkau, khususnya untuk pejalan kaki (berkaitan dengan bentuk kota yang memanjang seperti yang sudah disebutkan pada poin sebelumnya). Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap kenyamanan penduduk kota Brasilia. Berikut adalah kutipan yang saya ambil dari www.malacaster.edu.

A major complaint among residents of the Pilot Plan is that they have only home and work. There are no centralized meeting places for leisure time. The city is very divided into sectors, and there are almost no multi-use areas. There are sectors for everything, like embassies, police departments, fire departments, government car repair shops, private car repair shops, sports facilities, warehouses, military activities, clubs, schools and churches. Travel between these sectors can be very difficult, especially for a pedestrian. Most government buildings have their own shops and restaurants, but, because of the nature of the city, if a service is not available in the building, it could be several miles away. This strict division of the city discourages the casual errand, making the city a difficult place to live in.”

 

Dari analisis tersebut, saya mendapatkan kesimpulan bahwa walaupun metode yang dikemukakan oleh Vitruvius adalah metode kuno di mana situasi yang berlangsung adalah situasi yang benar – benar berbeda dengan konteks kehidupan kota saat ini, namun tetap ada esensi dari tiap poin yang dikemukakan yang dapat diambil dan diperhitungkan untuk membentuk sebuah kota.

Kota Brasilia memiliki aspek – aspek yang bertentangan dengan aspek – aspek yang dipegang oleh Vitruvius, dan ternyata aspek – aspek tersebut menimbulkan sisi negatif dari Kota Brasilia. Mungkin sesunguhnya metode Vitruvius terfokus kepada hal – hal sederhana, seperti pemilihan tapak, pembangunan dinding dan benteng, pembangunan jalan dan bangunan publik, dan semuanya dibahas secara umum, namun ternyata banyak hal – hal sederhana yang sesungguhnya adalah hal yang krusial bagi terbentuknya sebuah kota yang sehat dan dikatakan mendekati ideal, namun manusia semakin melupakan kepentingan aspek –aspek sederhana tersebut.

 

Referensi:

http://www.aboutbrasilia.com/facts/

http://www.malacaster.edu/

http://www.innovations-report.com/

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: