there’s something about geometry + architecture

June 12, 2012

Hyperreality in Disneyland

Filed under: perception — gitamanohara @ 19:47

Disneyland dibangun atas visi dan keinginan Walt Disney akan suatu area hiburan yang ideal. Ia ingin menciptakan suatu tempat di mana keluarga dan anaknya bisa bermain dan bersenang-senang bersama, dan merasakan suatu pengalaman yang luar biasa.

“What this country really needs is an amusement park that families can take their children to. I want to have a place that’s as clean as anything could ever be, and all the people in it are first-class citizens, and treated like guests.” – Walt Disney

Pengalaman yang luar biasa tersebut dikonsepkan untuk menjadi pengalaman yang magical, di mana pengunjungnya seakan dibawa masuk ke dunia fantasi dan melupakan segala hal yang buruk. Seperti yang tertulis pada gerbang Disneyland “Here you leave Today and enter the world of Yesterday, Tomorrow, and Fantasy”.

Jean Baudrillard sendiri mengatakan, bahwa Disneyland adalah sebuah archetype dari kota (bahkan suatu Negara) dan merupakan contoh sempurna akan suatu tempat yang merupakan fantasi dan kenyataan pada saat yang bersamaan. “Disneyland is a perfect model of all the entangled orders of simulation. This imaginary world is supposed to be what makes the operation successful. But, what draws the crowds is undoubtedly much more the social microcosm, the miniaturized and religious revelling in real America, in its delights and drawbacks.” (Baudrillard, 1994)

Hal tersebut adalah suatu pengalaman hyperreality. 

“Hyperreality is a way of characterizing what our consciousness defines as “real” in a world where a multitude of media can radically shape and filter an original event or experience.”

Salah satu contohnya yaitu pada area town center Disneyland yang disebut dengan area Main Street USA. Di Main Street USA ini semua pengunjung mengunjungi area komersil, selayaknya berkegiatan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti misalnya membeli cemilan, mengambil uang di bank, dll. Rasa keseharian tersebut di Main Street USA membuat pengunjungnya merasa nyaman dengan merasakan suatu realitas, suatu kegiatan yang mereka lakukan sehari-hari, meskipun secara konsepnya mereka sedang dibawa ke dalam dunia fantasi. Terdapat keseimbangan hyperreality dan realitas itu sendiri di situ.

“In contrast to the real world, Disneyland’s environment was a city as it ought to be, a vision of the perfect union between commerce and customer, city and country. After all, residents could wander through shops offering all sorts of curiosities—the hearts of the city, as it were—and still never lose sight of spectacularly designed landscapes–the best nature has to offer.” (Rowland, 2007)

Dengan dihadirkannya pengalaman hyperreality, saya rasa pengunjung yang merasakan pengalaman tersebut terjaga kewarasannya. Mereka dibawa ke dunia yang terasa magical, namun tidak terbawa sepenuhnya dengan adanya fasilitas-fasilitas yang hadir selayaknya realitas sehari-hari.

 

REFERENCE

Lane, Richard J. 2009. Jane Baudrillard. Taylor & Francis

Baudrillard, Jane. 1995. Simulacra and Simulation. University of Michigan Press

Byrne, E and M. McQuillan. 1999. Deconstructing Disney. Pluto Press

2 Comments »

  1. hyperreality merupakan hal yang berkaitan erat dengan imajinasi dan rasionalitas. Namun di dalam kehidupan ini, imajinasi setiap orang mungkin memiliki perbedaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan itu adalah usia. Ari Prabowo dalam tulisannya yang berjudul “Psikologi Anak Terapan” menjelaskan bahwa terdapat teori yang menjadi dasar pernyataan perbedaan imajinasi berdasarkan usia tersebut. Beliau mengatakan bahwa ” Teori cakupan iklim rasio dan imajinasi setiap anak berbanding lurus dengan tahapan tumbuh kembang usianya. Pada masa anak berusia 0-10 th garis imajinasinya tinggi/besar dan garis rasionalnya rendah/kecil, hal ini sebagai parameter sasaran proses ajar kita. Begitu pula sebaliknya saat anak berusia 10 tahun ke atas tidak lagi imajinasi yang dikedepankan melainkan aspek rasionalitas. ..” Sasaran utama Disneyland sebenarnya adalah anak-anak. Namun, ternyata Disneyland mampu membangkitkan imajinasi orang dewasa. Orang dewasa merasa seperti anak-anak yang mengalami lagi fantasi-fantasi khayalnya, diluar rasionalitas yang seharusnya dirasakan lebih oleh orang dewasa tersebut.
    Mengenai fasilitas-fasilitas yang ada pada Disneyland, mungkin sebenarnya fasilitas-fasilitas itu adalah sebuah “nilai” pemenuhan kebutuhan sebagian besar orang dewasa. Namun, fasilitas-fasilitas ini dikemas sesuai dengan tema tertentu yang berkaitan dengan tema dari Disneyland tetapi tetap sesuai dengan kenyataan. Sehingga mungkin benar disinilah hyperreality diangkat dan diterima oleh pengunjung.

    sumber referensi :
    Ari Prabowo. “Psikologi Anak Terapan”. http://omahku.com/?l=en&id=7

    Comment by rizkiyasa — June 12, 2012 @ 21:05

  2. disneyland merupakan tempat liburan keluarga sekaligus untuk tempat mencari inspirasi….

    Comment by annisa — June 12, 2012 @ 21:58


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: