there’s something about geometry + architecture

June 12, 2012

Musik Acapella dan Ruang Berlayer

Filed under: Uncategorized — nanabestari @ 18:34

Menurut Don Fedorko, hubungan antara musik dan arsitektur adalah musik merupakan cara berasitektur, sedangkan lagu sebagai bangunan fisik.

MUSIK – ARSITEKTUR

LAGU – BANGUNAN

“Music of the past was dealing with conceptions and their communication, but the new music being create has nothing to do with the communication of concept, only to do with perception.”

-John Cage

Berdasarkan pernyataan John Cage, saya mengintepretasikan musik sebagai sebuah bunyi karena musik merupakan komposisi bunyi. Namun, apakah seluruh bunyi baru yang tercipta melalui instrumen musik tidak mengkomunikasikan konsep tertentu? Apakah bila bunyi baru muncul secara bertumpuk tetap menghasilkan harmonisasi sebuah musik? Bagaimanakah pengaplikasiannya dalam sebuah bangunan bila dikaitkan dengan teori Don Federko, dimana musik dan arsitektur saling berkaitan?

Musik adalah sekumpulan irama yang kompleks dari suara harmonisasi bersama untuk menghasilkan komposisi tunggal. Demikian pula, arsitektur adalah satuan kompleks tetapi harmonis dalam pengorganisasian ruangnya. Dari panca indera manusia, indera penglihat biasanya yang paling dikembangkan, tetapi indera pendengaran adalah indera yang terpenting, tidak pernah beristirahat sedetikpun. Indera penglihatan berorientasi terhadap lingkungan kita hidup, namun indera pendengaran kurang memperhatikan suara di sekitar dan menerima begitu saja. Kemampuan untuk mendengar beragam suara ini adalah yang paling penting dalam pembentukan dimensi hidup manusia. Suara bekerja 360 derajat di sekitar kita selama 24 jam sehari. Meskipun tidak terlihat, namun selalu hadir. Suara bisa menjembatani jarak dalam ruang dan waktu, diungkapkan melalui lapisan individu yang tak terhitung jumlahnya untuk memberikan informasi dan merancang untuk menghasilkan komposisi.

“Sound is invisible, but has the power to change the character of the space we occupy.”

(Schulz-Dornburg)

Musik adalah ruang. Konsep arsitektur menciptakan ruang yang menarik di mana orang bisa merasakan komposisi. Musik memberikan perasaan yang sangat individual. Misal: ruang dengan kolom kayu dan dinding padat yang ada, akan menghasilkan semacam efek echo, untuk mendukung komposisi elektronik. Kolom kayu dan langit-langit dapat melunakkan efek gema dengan menyerap sedikit dari suara yang terdengar, tapi bukan secara keseluruhan.

Ada tiga bagian utama dari komposisi: ketukan 4/4 dimana ritme akan berubah setelah setengah lagu, bass bar yang mengandung satu setengah nada dan dua seperempat not, serta panjang lagu dan relativitas kestabilan. Instrumen yang paling populer antara lain: gitar, bass, dan drum.

Arsitektur disajikan dengan cara yang sama: irama ketukan sebagai dinding atau kolom, bass bar sebagai jiwa dari instalasi, dan relativitas sebagai jenis lagu. Banyak orang mengatakan bahwa bass adalah instrumen yang paling penting dalam band.

“The solo instrument can always be drunk, but bass and drums must be always sober.”

-Keith Richards

Proses penemuan bunyi diawali oleh sebuah ide yang dapat terinspirasi kapan pun melalui pengalaman apapun termasuk penginderaan. Ide kemudian diterjemahkan ke dalam material tertentu dengan berbagai teknik. Setelah itu proses modifikasi bunyi dilakukan untuk mencari bunyi yang tepat. Ide awal berkembang menjadi konsep bunyi tertentu, lalu berbagai kemungkinan dapat dikembangkan mulai dari bentuk, dimensi, dan tekstur.

Proses penemuan ide sampai dengan pengembangan menuju konsep juga dilakukan secara sadar maupun tidak sadar ketika membuat suatu rancangan arsitektur. Tahap ini merupakan tahap yang terpenting karena pada tahap ini semua ide dan gagasan bebas dikembangkan sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang inovatif diluar prediksi awal.

Proses penemuan ide.

Acappella adalah salah satu jenis musik yang tidak menggunakan instrumen apapun, semua suara (vokal dan ritme musik) dihasilkan hanya berasal dari mulut seseorang. Disini saya mengambil sebuah preseden, seorang musisi acapella bernama Mike Tompkins.

Pada usia 8 tahun, Mike mulai belajar beatboxing. Mike lulus dengan penghargaan musik vokal dari sekolahnya dan melanjutkan pendidikan pasca-sekolah menengah di Ontario Institute of Audio Recording Technology (OIART).

Pada tahun 2008, Mike lulus dari OIART dengan sebuah gelar diploma untuk produksi musik, menerima tanda kehormatan, serta dua penghargaan lainnya.

 Gambar : Mike Tompkins, musisi acapella.

Selama 10 tahun terakhir, Mike telah merencanakan dan menjadwal penggarapan produksi musik, termasuk rekayasa dan pencampuran beberapa album (seperti Shad K’s “The Old Prince” pada nominasi Juno Award).

Mike Tompkins menyanyikan sendiri lagu yang akan di-acapella-kan dan juga menyuarakan instrumen-instrumen yang diperlukan. Ia melakukan semuanya satu-persatu yang nantinya akan digabungkan menjadi satu.

Gambar : Instrumen-instrumen yang disuarakan oleh Mike Tompkins dalam lagu-lagu acapellanya.

 

Gambar : Urutan instrumen yang dikerjakan hingga akhir lagu, satu-persatu, lalu digabungkan semua dengan cara menumpuk.

Urutan instrumen optional, bergantung pada lagu. Namun satu hal yang paling penting disini adalah, keseluruhan instrumen itu akan digabungkan menjadi satu yang sebelumnya dilakukan satu-persatu per instrumen hingga selesai, dilakukan dengan cara bertumpuk berlapis (layering).

“Musik merupakan bentuk dari komposisi bunyi yang merambat melalui gelombang udara sehingga sampai ke telinga pendengar.”

(Martin, 1994)

Setelah kualitas bunyi yang diharapkan tercipta, maka bentuk yang bisa berupa geometri (geometrical shape) kemudian tercipta. Begitu pula yang terjadi pada arsitektur. Sebuah ide melahirkan konsep keruangan yang akan dikembangkan. Kualitas keruangan yang hendak dicapai yang akhirnya memberi jalan lahirnya sebuah geometri.

Pengaplikasiannya dalam sebuah bangunan bila musik dan arsitektur saling berkaitan adalah bila seni bermusik acapella ini dilakukan dengan menumpuk instrumen-instrumen yang disuarakan, maka pembentukan ruang dalam sebuah bangunan yang terjadi adalah dengan melakukan tahapan pembagian elemen-elemen ruangnya yang nanti akan disatukan di akhir, seperti musik acapella yang telah saya bahas di atas.

Layer merupakan pola desain arsitektur yang strukturnya aplikatif sehingga dapat diuraikan ke dalam kelompok subtanks hingga berada pada tingkat abstraksi tertentu. Layering memungkinkan kita untuk menggunakan kembali fungsi secara tepat dan berurutan.

Preseden sebagai pembanding yang akan saya gunakan adalah Korean Pavilion pada Shanghai Expo. Pada tahun 2010, perusahaan arsitektur Korea telah menciptakan layering dari tanda-tanda dan simbol yang mengubah paviliun Korea menjadi sebuah Shanghai Expo, dengan adanya taman dan hadir secara interaktif dan mengesankan, baik secara susunan maupun bentuk multidimensi bangunan.

 

 

 

Gambar : the Korean pavilion at the Shanghai Expo. (www.designboom.com)

Tahapan awal proyek arsitektur ini dilakukan dengan mengeksplorasi isu-isu seperti sistem spasial, bentuk, matriks, bahan bangunan, teknik keberdirian, dan tipologis untuk memungkinkan penemuan baru akan faktor potensial lainnya.

Proyek ini mempertimbangkan tanda-tanda, pemetaan, dan bahasa dalam konsep desain. Dapat dikatakan bahwa tanda sebagai unsur musik dan eksisting bangunan sebagai unsur arsitekturalnya.

 

 

 

Gambar : Proses pembentukan eksisting bangunan.

 

Acapella Mike Tompkins

Keseluruhan instrumen disuarakan satu-persatu per instrumen hingga selesai, lalu digabungkan menjadi satu dengan cara ditumpuk dan menghasilkan harmonisasi suara yang indah, menjadi sebuah musik tanpa instrumen, murni mengandalkan vokal.

Konsep Bentuk Korean Pavilion

Konsep bentuk bangunan berdasarkan tanda dan simbol (sebagai ikon) yang disusun sebagai dasar masing-masing terlebih dahulu lalu disatukan menjadi satu kesatuan bangunan utuh dengan proses layering.

Antara acapella dan layer bangunan memiliki kesamaan proses pembentukan, hanya berbeda dalam penyebutan elemennya saja. Dimana dalam musik adalah lagu, dalam arsitektur adalah bangunan.

Dalam musik, terdapat instrumen-instrumen yang dilakukan secara acapella. Dalam arsitektur terdapat tanda-tanda dan simbol yang berfungsi sebagai struktur bangunan.

Musik dan arsitektur dapat mempengaruhi satu dengan yang lainnya, tetapi dapat juga berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu masing-masing. Keduanya memiliki filosofi yang sama meskipun berdiri masing-masing sebagai disiplin yang berbeda.

 

Sumber:

Martin, Elizabeth (1994). Architecture as a Translation of Music. New York: Princeton Architectural Press.

Music in Architecture by Zbigniew Piotrowicz & Soneil Inayat.

Riad, Mahmoud. 2010. The Place of Listening (Architecture: City, Music, and Culture). Lap Publishing.

Rubel, Barry. 1995. Patterns for Generating a Layered Architecture. Addison Wesley, Reading, MA.

Wittkower, Rudolf. 1949. Architecture Principles in the Age of Humanism, 4th edition. W.W. North & Company, New York.

Xenakis, Iannis. Music and Architecture. Pendragon Press.

http://www.designboom.com/Shanghai-Expo/Korean-Pavilion/

 

1 Comment »

  1. Musik dan arsitektur ternyata memang memiliki kesamaan, dan salah satunya yang anda bahas adalah mengenai metode pembentukannya.
    Musik yang anda pilih untuk dibahas adalah acappella dari musisi Mike Tompkins dan metodenya adalah layering, anda membandingkannya dengan Korean Pavilion dengan metode yang sama. Sebenarnya saya ingin memberikan tanggapan, bahwa tidak semua musik acappella menggunakan metode layering, mungkin hanya untuk musisi seperti Mike Tompkins saja yang menggunakannya. Dan pada tulisan anda disebutkan bahwa
    “Setelah kualitas bunyi yang diharapkan tercipta, maka bentuk yang bisa berupa geometri (geometrical shape) kemudian tercipta.”
    Mungkin anda bisa memperjelas bentuk geometri seperti apakah yang tercipta dari musik Mike Tompkins sehingga bisa dilihat persamaannya dengan bentuk geometri yang tercipta pada Korean Pavilion. Karena geometri yang dapat dirasakan pada musik berbeda dengan yang ada pada bangunan arsitektural. Geometri pada musik kita dengar, melalui harmoni. Sementara pada bangunan arsitektural, harmoni dan simetri dapat kita lihat dan rasakan.
    Terima kasih…🙂

    Comment by xandratysta — June 12, 2012 @ 20:05


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: