there’s something about geometry + architecture

June 13, 2012

Ideal City in Fiction: Minas Tirith

Filed under: ideal cities — rayprasetya @ 00:18

Minas Tirith, tentu nama yang sudah tidak asing bagi para penggemar trilogi “The Lord of the Rings”. Kota yang sangat megah ini berdiri dengan segala pesona, keindahan, dan kebesarannya. Menurut film ini, Minas Tirith merupakan kota para raja sehingga visualisasi yang ditunjukkan adalah sebuah kota yang sangat gagah dan siap menundukkan musuh-musuhnya. Di samping kegagahannya, kota ini juga memiliki poin estetik yang tinggi. Kota ini digambarkan berwarna putih, bersih, dan terang.

Minas Tirith

Apakah yang membuat pencipta dari The Lord of the Rings merancang Minas Tirith sedemikian rupa sehingga menjadi lambang kota ideal baginya? Sebenarnya persepsi setiap orang akan sebuah kota ideal sangat beragam. Ada yang mendambakan kota kecil yang indah dan damai, hingga kota megah yang penuh dengan lambang kebesaran. Berikut akan saya coba bahas beberapa poin kota ideal yang muncul dalam Minas Tirith.

Minas Tirith Plan

Pertama, dari masterplan kota tersebut. Minas Tirith dibangun bersandar pada sebuah tebing gunung yang tinggi, membuat kota ini aman dari belakang dan hanya bisa diserang dari arah depan saja. Lalu bentuk dari dinding kota ini radial/melingkar dengan istana raja terletak di puncak tengah. Dengan ini, pandangan ke segala arah menjadi jelas sehingga musuh yang datang dari kejauhan langsung terlihat. Selain itu, kota ini seperti kue tart melingkar yang bersusun-susun. Di setiap susunan dilindungi lagi oleh tembok besar, membuat kota ini sangat kokoh dan tidak mudah ditaklukan. Menara-menara diletakkan di sekeliling tembok dengan interval yang sama dan pintu gerbang hanya ada di tengah. Setelah melalui gerbang utama di tengah, gerbang lapis kedua diletakkan menghadap tenggara dan barat daya, membuat musuh harus berjalan jauh di depan dinding agar proses penaklukan kota ini menjadi semakin sulit lagi.

Secara pertahanan militer, Minas Tirith sudah dapat membuat musuh menjadi gentar karena sangat strategis dan sulit ditaklukan. Pada film tersebut, pertahanan Minas Tirith tergambarkan dengan sangat baik saat mereka mampu memukul mundur musuhnya yang jumlahnya jauh lebih banyak, walupun sebagian kota tersebut hancur.

Gambar diatas mungkin sudah dapat menunjukkan dengan jelas bagaimana Minas Tirith juga mampu menjadi kota yang sangat iconic dan tidak mudah dilupakan. Tebing raksasa yang memotong bagian tengah kota seakan menjadi lambang utama yang selalu mengingatkan kita pada kota ini. Diatas tebing tersebut terdapat pohon putih Gondor yang menjadi lambang kerajaan dan kebanggaan rakyat disana.

Mungkin hal-hal seperti inilah yang membuat kota ini menjadi ideal. Namun, ke-ideal-an sebuah kota seakan hanya mampu diwujudkan dalam dunia fiksi. Apakah kita juga mampu mewujudkan sebuah kota ideal dengan banyaknya masalah urban yang terus menerus muncul di zaman yang semakin sulit ini? Mungkin kita harus belajar lewat dunia fiksi. Masih banyak lagi contoh lain selain Minas Tirith dari The Lord of the Rings ini yang dapat membuat kita belajar untuk membuat sebuah tempat ideal bagi kita sendiri.

2 Comments »

  1. pembahasannya menarik tentang minas tirith sebagai kota ideal. Saya juga baru menyadari bahwa lapisan berlapis di kota ini sebagai salah satu strategi pertahanan..ini mengingatkan saya pada adegan di filmnya dimana musuh harus capek-capek naik untuk sampai ke istana raja di puncak,,hehehe. Kebetulan beberapa hari yang lalu saya membaca literatur tentang ideal city dan salah satu pendapat datang dari Plato, Precilies, Lycorgus, and Thocydides yang mengatakan “The strength of the city lies not in it’s wall but in it’s people”. Nah, yang mau saya tanyakan adakah aspek penduduk di minas tirith mempengaruhi kota sehingga dapat di sebut sebagai kota yang ideal?🙂..

    Comment by monalisadeborah — May 1, 2013 @ 23:24

  2. Pada dasarnya, Minas Tirith merupakan kota yang berada di dalam sebuah dunia fantasi. Dunia Lord of The Rings digambarkan sebagai dunia yang penuh sihir, keajaiban, makhluk-makhluk fantasi seperti naga, peri, kurcaci, troll, dsb. Minas Tirith merupakan ibukota Kerajaan Gondor di dalam cerita tersebut dan merupakan kota milik manusia. Ya, manusia yang sama seperti kita. Di dalam cerita tersebut, manusia digambarkan sebagai makhluk yang paling lemah, karena usianya pendek, tidak seperti kaum peri; tubuhnya lemah, tidak seperti kaum kurcaci; dan mereka sangat mudah dipengaruhi oleh kuasa kejahatan, terlihat dari Isildur dan Boromir yang menginginkan cincin kekuatan bagi mereka sendiri.
    Melalui film ketiganya, manusia di kota tersebut berkumpul dengan pasrah karena mereka sudah terpojok dan dikalahkan oleh pasukan Sauron. Digambarkan pula ekspresi ketakutan para tentara yang berdiri di atas dinding Minas Tirith saat musuh menggunakan makhluk-makhluk raksasa dan bisa terbang. DIbandingkan kekuatan tersebut, manusia seakan tidak ada apa-apanya dan merasa kalah. Namun kota tersebut adalah tempat tinggal mereka, rumah terakhir para manusia. Jika kota tersebut jatuh maka mereka juga akan ikut dimusnahkan. Ini merupakan salah satu hal yang memotivasi keberanian mereka untuk bersatu melawan musuh.
    Kemudian ada pemimpin pasukan manusia yaitu Gandalf yang dengan lantang menyuarakan, “Stand and Fight!” sehingga moral pasukan naik karena mereka mengetahui ada penyihir kuat yang bertarung bersama mereka. Pada akhirnya, walaupun korban jiwa sangat banyak, manusia yang lemah itu berhasil mempertahankan Minas Tirith.
    Mungkin disinilah letak faktor kekuatan dari manusia itu sendiri. Dibalik tembok yang kokoh, jika manusia tersebut takut dan menyerah, kota tersebut akan tetap jatuh. Sekali lagi, ini merupakan suatu cerita fantasi, dimana sikap manusia digambarkan sebagai perilaku yang gagah berani dan berani berkorban demi tanah yang menjadi rumahnya. Faktor dunia fantasi memungkinkan imajinasi menciptakan sebuah kota yang sangat ideal, baik dari segi fisik kotanya juga segi penduduk di balik dindingnya. Kembali lagi kepada kalimat terakhir artikel diatas yaitu kita harus banyak belajar melalui dunia fiksi fantasi untuk membuat kota ideal bagi kita sendiri.

    Comment by rayprasetya — May 1, 2013 @ 23:56


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: