there’s something about geometry + architecture

June 13, 2012

Kota untuk Mobil

Filed under: ideal cities — nadhilasuhaila @ 00:54

Dari semua kota di Indonesia yang pernah saya datangi, Medan, Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, sampai kota yang lebih kecil seperti Ternate, Pematang Siantar dan lain-lainnya, jalan yang ada untuk mobil dibuat lebar, sedangkan jalan untuk pejalan kaki cukup sempit dan banyak yang tidak nyaman untuk digunakan. Banyaknya jalan untuk mobil tidak sebanding dengan jalan untuk manusia.

Pada zaman orde baru maupun orde lama, banyak jalan-jalan diperbesar agar dapat dilewati oleh mobil dalam jumlah yang banyak. Pelebaran ini membuat keuntungan sendiri, karena semakin mudah dan cepat akses seseorang, semakin sukses bisnis atau kerjanya. Hanya saja, lama –kelamaan jalan untuk manusia dilupakan.

Di Indonesia, budaya jalan masih kurang. Masyarakat berusaha membeli mobil atau motor pribadi . Sangat sedikit masyarakat yang mengandalkan transportasi umum, hal ini juga berhubungan dengan kurang memadainya fasilitas transportasi umum. Seperti transportasi yang ternyaman atau terhindar dari macet, seperti kereta api dan busway sering tidak memenuhi kapasitas penumpang sehingga orang berdesak-desakkan di dalammnya. Walaupun begitu masih banyak orang yang memilih transportasi umum dan berjalan sehari-harinya di jalanan kota.

Bila dibandingkan dengan beberapa negara maju, negara tersbut juga menggunakan mobil. Hanya saja transportasi umum mereka sangat baik. Jalan untuk pejalan kaki dan mobil seimbang. Pejalan kaki dapat berjalan dengan nyaman. Bahkan mayoritas masyarakat disana memilih berjalan kaki dibandingkan dengan mobil.”Who needs car in New York city….”, salah satu statement dalam film How I Met Your Mother. Sedangkan disini, saya sering mendengar, “Gak ada yang punya mobil y??”. Percakapan ini biasanya keluar kalau sedang ingin pergi ke tempat yang cukup jauh.

 

Gambar diatas merupakan jalan di Midtown Street New York. Terlihat bahwa sedikit sekali mobil pribadi. Walaupun jalan untuk mobil luas, orang masih mudah untuk berjalan atau nyebrang.

Untuk di Indonesia saya mengambil contoh jalan Sudirman Jakarta. Banyak jalan untuk mobil di Indonesia cukup luas. Terlihat bahwa jalan ini memang khusus untuk mobil, taman tengah sebagai boundry . Kalau jalan ini sedang tidak macet, mobil disini biasanya melaju dengan cepat, akan berbahaya kalau orang tidak memakai jembatan penyebrangan.

Jalur pejalan kaki di Indonesia kebanyakan masih kurang nyaman untuk dipakai. Terkadang terlalu sempit, banyak pedagang kaki 5 atau mobil yang parkir di jalan tersebut. Contohnya jalan Malioboro di Jogja. Jalan tersebut merupakan tempat wisata. Kawasan tersebut cukup asyik untuk tempat jalan-jalan, hanya saja jalur perjalan kakinya cukup membingungkan. Jalur pejalan kaki yang berada di koridor gedung  penuh dengan orang yang jualan, jalur tersebut menjadi sempit dan luas yang tersisa tidak sebanding dengan orang yang lewat. Jalur berikutnya merupakan lapangan parkir. Terdapat satu jalur lagi, yaitu jalur kuda. Yang manakah yang paling nyaman, orang, mobil atau kuda? Saat itu saya dan teman-teman saya memilih jalan kuda karena jalan orang sangat penuh, begitu juga jalan pada parkiran mobil.

Selain itu, bangunan-bangunan yang ada di kota Indonesia selalu mendahulukan mobil duluan untuk masuk. Pejalan kaki melewati jalur mobil untuk masuk ke bangunan. Terkadang jalur tersebut sangat tidak nyaman karena harus hati-hati dengan mobil yang lewat ataupun mau parkir. Tidak banyak bangunan yang pintunya langsung berhubungan dengan jalur pejalan kaki, biasanya terdapat lapangan parkir dulu di depannya. Adanya lapangan parkir yang luas di depan bangunan membuat boundry sendiri antara penghuni bangunan dengan orang di jalan. Kehidupan di jalan tidak terasa dan keakraban antara masyarakat di luar bangunan dengan yang di dalam menjadi berkurang.

Kota di Indonesia lebih banyak dibangun untuk kenyamanan dalam bermobil dibandingkan untuk jalan kaki. Seakan-akan kota-kota tersebut dibangun untuk mobil. Mungkin saat perencanaan dulu, jalan-jalan yang besar dapat mempermudah akses, hanya saja timbul masalah baru yaitu macet. Orientasi masyarakat yang menggunakan mobil semakin bertambah, jalan terus ditambah diperbesar. Mungkin sebaiknya mengambil solusi lain dengan memaksimalkan penggunaan transportasi umum dan berjalan kaki. Seperti di Seoul, jalan tol pada akhirnya dijadikan taman cheonggyecheong. Jalan disana menjadi lebih hidup. Masyarakat lebih menikmati kota. Kalau di mobil, kita hanya menikmati kota dengan visual saja…

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: