there’s something about geometry + architecture

June 15, 2012

Maze dan Kesadaran Spatial

Filed under: perception — nadhilaadelina @ 15:16

Maze merupakan suatu jenis puzzle berbentuk jalur-jalur yang bercabang-cabang dan berliku-liku. Untuk menyelesaikan puzzle ini, seseorang yang masuk ke dalam maze harus dapat menemukan pintu keluar dari maze. Namun, menemukan pintu keluar di dalam maze membutuhkan usaha dan kesadaran akan arah.

Bermain di dalam maze dapat melatih sense kita mengenai arah dan juga kesadaran spasial kita. Saat kita berada di dalam maze, kita sangat sudah kita lewati dan mana yang belum. Biasanya kita mencoba mengingat dengan mengetahui ruang yang sudah kita lewati berdasarkan bukaan-bukaan dan batasan dari ruang itu. Atau, kita melakukan cara curang dengan menandai ruangan yang sudah kita lewati. Namun, bukan itu yang merupakan tujuan dari memecahkan suatu maze. Berbeda dari labirin, yang hanya memiliki satu jalur namun memiliki twist dan jalur yang berliku-liku, tapi tetap menanatang sense of direction kita, maze mengasah kemampuan kita mengenal area secara keseluruhan.

Pengasahan sense of direction ini dapat dikaitkan dengan topologi peta. Cara orang mengetahui lokasi biasanya dengan mengetahui objek apa saja yang ada di tempat tersebut, ada juga yang mengetahui jarak tempat dari tempat lain. Cara mengetahui lokasi dan area yang lebih baik adalah mengetahui spasial lokasi tersebut dan dapat mempetakannya dengan baik, walaupun objek di lokasi itu sudah berubah. Dengan bermain maze, kita diasah kemampuannya untuk mengetahui ruang-ruang, jalur-jalur yang kita lewati dan mengetahui lokasinya dalam kesatuan utuh maze tersebut. Jadi, saat sense of direction kita sudah cukup terasah, kita dapat mengetahui ketika kita berputar-putar dalam maze di bagian maze mana kita berada.

Di beberapa taman kanak-kanak, permainan maze dalam bentuk dua dimensi di atas lembaran kertas sudah diaplikasikan agar anak dapat mempertajam dan mengembangkan kemampuan akan keruangan. Menurut saya permainan ini sebaiknya diaplikasikan dalam tingkat pendidikan dini agar kesadaran spasial dapat dikembangkan sejak kecil. Apakah pembaca sependapat dengan saya?

2 Comments »

  1. Menurut saya, apa yang Anda bahas dalam postingan ini ada kaitannya dengan peta kognitif, sebuah teori yang disampaikan oleh Kevin Lynch (1960). Sama-sama ‘peta’ memang. Meskipun topologi peta cenderung fisikal (berwujud nyata) dan peta kognitif cenderung tidak disadari karena berada di dalam pikiran manusia, menurut saya keduanya memiliki peran dalam kesadaran spasial dan sense of direction yang Anda sebutkan.

    Menurut Kevin Lynch (1960), ada lima elemen peta kognitif, yaitu:
    1. Path (Jalur yang dilalui)
    2. Node (Titik pertemuan aktivitas berbeda/persimpangan)
    3. Edge (Batas yang menghalangi)
    4. District (Area yang homogen)
    5. Landmark (Sesuatu yang menonjol dan eyecatching)

    Berdasarkan penjelasan mengenai sense of direction pada maze yang Anda jelaskan pada post di atas, saya berpikir bahwa elemen peta kognitif tersebut terdapat di dalamnya. Kelima elemen tersebut membantu manusia untuk mencari jalan keluar dari maze yang membuat mereka ‘tersesat’.

    Elemen yang paling penting dan hampir selalu ada dalam maze antara lain adalah path, node, dan edge karena unsur utama dari sebuah maze adalah adanya jalur dan dinding yang membatasinya. Sementara untuk elemen district sangatlah jarang muncul dalam suatu maze karena jalur yang terbentuk cenderung acak dan berbeda satu sama lainnya. Landmark pun tidak muncul karena apa yang terasa dan terlihat pada maze sangatlah seragam dan serupa, untuk menantang para pemain mencari jalan keluar dengan hanya mengandalkan skill membaca jalur dan jalan.

    Jika ada landmark yang menjadi aksen dan menarik, mungkin akan lebih mudah bagi pemain untuk menghafal jalan dan mencari jalan keluar. Tapi jangan terlalu banyak, nanti tantangannya berkurang :p

    Comment by ditanadyaa — March 23, 2013 @ 16:41

  2. pembahasan yang menarik, mengenai labirin yang mampu melatih sensitifitas akan nalar keruangan.. tapi dengan pengolahan dua dimensi untuk media pembelajaran anak usia dini mungkin, dampaknya hanya sebatas pengembangan nalar mereka mengenai arah atau orientasi.. karena untuk euforia makna keruangan yang lebih luas itu sendiri saya fikir baru akan tersentuh dengan maksimal ketika subjek merasakan dan mengimajinasikannya sendiri.. itu mungkin akan lebih tepat guna untuk orang yang sudah lebih dewasa dengan pengetahuan arah yang lebih baik dari pada anak-anak usia dini.. sedikit menambahkan pernyataan dita, aspek landmark juga bisa dimunculkan sebagai titik tujuan yang bisa jadi orientasi keberhasilan para pemainnya.. itu bisa saja memunculkan alur perjalanan yang dapat memicu ketertarikan tersendiri bagi pemainnya.. seperti halnya komposisi baik yang tidak hanya memiliki kesatuan dan keseimbangan, tapi juga memiliki ritme dan aspek estetik lain, yang bisa hadir dari adanya alur perjalanan dengan aksen landmark tersebut…🙂

    Comment by dwiputerilarasati — March 29, 2013 @ 23:49


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: