there’s something about geometry + architecture

March 23, 2013

TIPOGRAFI : DARI TULISAN HINGGA BANGUNAN

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — tasyae @ 16:27
Tags:

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari komunikasi karena manusia merupakan makhluk sosial. Sejak zaman purba, komunikasi terus berkembang mulai dari lisan hingga tulisan dalam berbagai wujud seperti guratan, ukiran, gambar, tulisan tangan, percetakan. Penemuan percetakan pada pertengahan abad ke-15 mempengaruhi perkembangan tipografi dengan Johan Gutenberg sebagai pelopor pembaharu tipografi yang menemukan huruf cetak timah tepatnya pada tahun 1455. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tipografi merupakan ilmu cetak atau seni percetakan. Adapun hal-hal yang menjadi perhatian utama dalam tipografi adalah typefaces, x-height, baseline, leading, kerning, tracking, point size, ascenders, descenders.

Glosarium:

  • Typeface : tipe huruf, saat ini biasanya orang menyebutnya font
  • X-height : tinggi huruf dasar, tidak termasuk ascenders dan descenders
  • Set width : lebar huruf secara keseluruhan
  • Baseline : garis pembatas dasar untuk x-height
  • Leading : jarak vertikal antarbaris tulisan
  • Kerning : jarak horizontal antara 2 huruf yang saling berdekatan dalam 1 kata
  • Tracking : jarak horizontal antarhuruf secara keseluruhan dalam 1 kata
  • Point size/pixel size : ukuran huruf dalam satuan points/pt atau pixels/px
  • Ascenders : bagian dari huruf kecil (bukan kapital) yang berada di atas x-height, seperti pada b, d, f, h, i, j, k, l, dan t
  • Descenders : bagian dari huruf kecil (bukan kapital) yang berada di bawah x-height, seperti pada g, j, p, q, dan y

Ukuran-ukuran yang digunakan pada tulisan mempengaruhi cara membacanya. Terlalu kecil ruang yang terbentuk antarhuruf, antarkata, ataupun antarbaris, maka tulisan tersebut akan menjadi lebih sulit dibaca. Begitu pula jika ruang yang terbentuk terlalu besar sehingga sebaiknya terdapat ruang yang cukup dan tiap hurufnya menggunakan proporsi. Namun, karena tipografi ini berkaitan dengan seni, tidak adanya batasan-batasan yang melarang tujuan penggunaan ukuran-ukuran tersebut, misalnya jika memang tujuannya ingin menghadirkan efek padat pada tulisan, penggunaan tracking dan leading yang ketat dapat menjadi pilihan.

Sebelumnya telah disinggung mengenai proporsi huruf, tetapi taukah Anda proporsi huruf itu sendiri? Secara umum proporsi huruf dapat digolongkan berdasarkan bentuk dasar yang membungkusnya menjadi seperti berikut.

Sedangkan jika berdasarkan elemen-elemen penyusunnya yang dominan, huruf dapat dikelompokkan menjadi seperti berikut.

  • Garis tegak : E F H I L T
  • Garis tegak dan diagonal : A K M N V W X Y Z
  • Garis tegak dan lengkung : B D G J P R U
  • Garis lengkung : C O Q S

Namun, tidak selamanya hal ini berlaku karena saat ini typeface sudah banyak dan beragam. Ada typeface yang bentuk dasar tiap hurufnya merupakan persegi, ada typeface yang tiap hurufnya tersusun dari garis lengkung, ada typeface yang elemen penyusun tiap hurufnya berupa titik, dsb. Walaupun demikian, dengan mengetahui geometri huruf-huruf tersebut, kita dapat lebih mudah dalam menyusunnya, misalnya huruf H dapat dikolaborasikan dengan bentuk-bentuk dasar yang menyiku atau huruf S dengan bentuk lingkaran dan kurva.

Geometri huruf-huruf ini pun tidak terjadi begitu saja. Terdapat beragam pendekatan dengan menggunakan jangka dan penggaris yang telah dilakukan tokoh-tokoh pada zaman renaissance, seperti seorang ahli matematika Italia Luca Pacioli dengan bukunya De Divina Proportione (1509), seniman Jerman Albrecht Dürer dengan bukunya Underweysung der Messung (1525), dan “men of the book” dari Perancis Geoffroy Tory dengan bukunya Champ Fleury (1529). Di dalam Champ Fleury dengan subjudul “The Art and Science of the Proportion of the Attic or Ancient Roman Letters, According to the Human Body and Face”, Geoffroy Tory menulis “The crossstroke covers the man’s organ of generation, to signify that Modesty and Chastity are required, before all else, in those who seek acquaintance with well-shaped letters.”

Perkembangan penggunaan tipografi ini sudah meluas mulai dari yang paling dasar yaitu pada media massa ( koran, buku, flyer, poster, dll.), media elektronik (televisi, online broadcast, dll.), hingga arsitektur. Pada awalnya, penerapan tipografi pada arsitektur berupa denah bangunan yang dirancang oleh arsitek Johann Steingruber yang kemudian dibukukan dalam bukunya berjudul Architectonisches Alphabeth (1773). Tiap bangunan memiliki karakteristiknya masing-masing yang diakibatkan oleh penyusunan program ruang di dalamnya dan tentunya bentuk denahnya itu sendiri.

Selain denah, di bawah ini terdapat contoh-contoh penerapan tipografi pada eksterior (fasad) maupun interior. Penerapannya dapat berupa estetika visual secara langsung, yaitu sekadar tulisan-tulisan yang menempel pada permukaan. Jika lebih kompleks lagi, penerapan tipografi dapat mempengaruhi penghawaan dan kualitas ruang di dalamnya. Saat ini banyak dijumpai karya arsitektural yang kulitnya menggunakan susunan huruf secara acak dengan leading dan tracking/kerning yang ketat. Penerapan tipografi juga merambah ke aspek struktural walaupun biasanya bukan sebagai struktur utama, kecuali untuk produk-produk furnitur yang ukurannya tidak terlalu besar dapat mengadopsi bentuk huruf secara utuh sebagai struktur utamanya. Lalu, bagaimana perancang memasukkan unsur tipografi dalam karyanya? Apakah sama seperti yang dilakukan Luca Pacioli, Albrecht Dürer, Geoffroy Tory dengan membentuknya dari garis-garis lurus dan lengkung yang terhitung ataukah sesuka hatinya? Jika dilihat sekilas, menurut saya perancang tetap menggunakan perhitungan yang lebih fokus kepada x-height, leading, tracking, dan set width. Kebanyakan untuk tiap hurufnya menggunakan typeface yang sudah ada sehingga tidak perlu membentuk huruf dari awal. Khusus untuk masjid Al-Irshad, tiap hurufnya terbentuk oleh  grid-grid yang kemudian disesuaikan dengan luas permukaan dindingnya.

(baris atas dari kiri ke kanan: The South Korea Pavilion, Fougères Biblioteque, Marzahn Recreational Park, Fukutake House, Wales Millennium Centre, Masjid Al-Irshad Bandung; baris bawah dari kiri ke kanan: House of Terror, New Jersey Performing Arts Center, The Minnaert Building (University of Utrecht), The Number House, The Marion Cultural Centre, Barbara Kruger, typographic furniture)

Sumber:

7 Comments »

  1. Post yang sangat berisi dan menambah informasi, sepanjang post saya terkesima akan fakta yang Anda paparkan. Keren😀

    Lalu saya jadi bertanya-tanya, apakah tipografi ini hanya berlaku untuk huruf Latin saja? Bagaimana dengan huruf/aksara lainnya di dunia, bagaimana penerapan aturan-aturan tipografinya? Karena setahu saya, aksara bahasa lain, contohnya Hangul (aksara Korea), menggunakan komposisi tersendiri dalam menyusun 1 kata yang terdiri dari 2-3 karakter. Bahkan karakternya pun menggunakan bentuk geometris seperti lingkaran, persegi, serta garis-garis vertikal dan horizontal.

    Apa yang saya tanyakan di atas terkait dengan penggunaan teks sebagai fasad bangunan. Seperti yang kita ketahui, interior Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia juga menggunakan teks sebagai elemen di dindingnya. Pada dinding tersebut juga dicantumkan tulisan dengan menggunakan aksara selain Latin. Jika memang tipografi juga berlaku pada aksara selain Latin, apakah ada perbedaan pada pengaturan tracking, leading, dan kerningnya?

    Atau malah aksara selain Latin dianggap sebagai suatu jenis typeface?

    Ditunggu ya jawabannya. Saya penasaran sekali😀

    Comment by ditanadyaa — March 23, 2013 @ 18:34

  2. yap, setuju kalau postnya sangat menarik.

    yang ingin saya tanyakan itu, diberikan banyak contoh mengenai tipografi ini pada arsitektur.
    Apakah penerapan tipografi pada arsitektur ini termasuk arsitektur yang ideal menurut anda?
    Dan, apakah pada masa tipografi ini mulai digunakan pada arsitektur ini, dianggap sebagai arsitektur yang baik pada saat itu, dan bagaimana hal itu jika ditinjau pada masa sekarang ini.

    terima kasihh.😀

    Comment by tanjungandy — March 23, 2013 @ 21:27

  3. postnya menarik dan menggelitik saya untuk mengulik beberapa hal mengenai ini.
    Menurut saya, pemakaian tipografi pada fasad bangunan pada bangunan menjadi menarik karena selain menjadi aspek estetika, nilai plusnya adalah juga bisa menjadi shading cahaya agar cahaya tidak langsung masuk ke dalam bangunan, dan bahkan bisa memberikan efek dramatis pada bangunan dengan bias cahaya yang melewati tipografi tersebut.

    Penerapan tipografi pada bangunan ini menurut saya unik karena berani ‘beda’ dari bangunan pada umumnya, karenanya bangunan ini juga bisa menjadi attractor karena terlihat menonjol dan ada pesan yang ingin disampaikan langsung lewat bahasa bangunan itu sendiri. Sepertinya juga perancang tidak sekedar memainkan x-height, leading, tracking, dan set width pada designnya, namun bentuk tipografi mulai dari besar hurufnya, susunan komposisi, proporsi antar tipografi sepertinya dipikirkan dengan matang seiring dengan pesan dan bahasa yang ingin dikomunikasikan bangunan oleh si arsitek kepada orang-orang. Seperti contohnya pada bangunan New Jersey Performing Arts Center pada foto yang anda masukan diatas, komposisi yang dinamis dan attractive dengan kemiringan dan besar kecil tipografi yang pas secara tidak langsung menyampaikan makna dibalik bangunan tersebut yang bergerak di bidang seni. Selain itu mungkinkah ini salah satu bentuk inspirasi dari bangunan-bangunan di las vegas yang terlebih dahulu berani mengekspos tipografi sebagai bagian dari fasad itu sendiri?

    terima kasih🙂

    Comment by anthyadwita — March 23, 2013 @ 22:28

  4. menarik sekali.. pengetahuan yang benar-benar baru.. selama ini saya kira tipografi yang digunakan pada bangunan-bangunan arsitekttural tidak ada perhitungan didalamnya. yang penting indah! ternyata yang membuat itu menjadi indah adalah aturan-aturan tersebut yang kebanyakan dari masyarakat kurang mengetahuinya. cukup menjadi inspirasi untuk desain-desain berikutnya.. terimakasih eeeeepppppp😀
    tapi ep bagaimana bila kita tidak mengikuti aturan-aturan tersebut dalam penggunaan tipografi pada bangunan arsitektural? apakah akan indah???

    Comment by ratihnirmalasari — March 24, 2013 @ 11:37

  5. Wah..ternyata metode tipografi ini memang banyak digunakan dalam dunia arsitektur. Saya tertarik dengan salah satu bagian post ini, yaitu tipografi yang diterapkan pada denah bangunan. Apakah tipografi ini memang memiliki makna tertentu pada bangunan tersebut? atau justru penggunaan salah satu huruf tersebut disesuaikan dengan program ruang bangunan? Selain itu, hal ini juga menarik dengan tipografi yang banyak digunakan pada fasade bangunan dari satu sisi. Saya juga pernah melihat tipografi ini juga digunakan sebagai petunjuk (way finding) dalam bangunan. Misalnya, petunjuk untuk memberikan arahan “OUT” di area parkir basement. Tipografi ini berintegrasi sekaligus bukan hanya pada satu bidang bangunan, seperti pada yang tertera di dinding pada umumnya. Namun, tipografi ini ditulis pada lantai dan dinding, sehingga dapat dipersepsikan sebagai satu kesatuan kata “OUT”. Apakah ada perbedaan persepsi, jika tulisan ini hanya pada satu sisi saja, seperti pada fasade bangunan tersebut dengan ditulis pada dua bidang sekaligus? Hal ini juga membawa saya berpikir bahwa sebenarnya hal penting lainnya adalah bagaimana kita mengalami ruang tersebut dan memaknai tipografi tersebut. Jika tipografi tersebut memang diaplikasikan pada denah sesuai dengan program ruang yang dibuat oleh arsitek, apakah orang yang mengalami ruang pada bangunan tersebut juga akan merasakan tipografi? Tipografi menggunakan huruf menjadi penyampai pesan tertentu secara visual. Justru saya menjadi tertarik, pesan apa yang ingin disampaikan oleh arsitek dalam tipografi bangunan ini?

    Comment by valencia93 — March 24, 2013 @ 15:43

  6. Tulisan ini sangat padat informasi dan sistematis! Bagus sekali ep (Y)

    Informasi tentang karakteristik huruf yang Anda paparkan di atas sangat menarik, terutama di bagian yang membahas tentang komposisi ukuran, kepadatan, dll. Namun ada salah satu pernyataan Anda cukup membuat saya bertanya-tanya, yaitu:

    “Namun, karena tipografi ini berkaitan dengan seni, tidak adanya batasan-batasan yang melarang tujuan penggunaan ukuran-ukuran tersebut, misalnya jika memang tujuannya ingin menghadirkan efek padat pada tulisan, penggunaan tracking dan leading yang ketat dapat menjadi pilihan.”

    Pernyataan Anda tersebut mengindikasikan bahwa pengaturan pada tipografi dapat menyajikan efek atau kualitas tertentu, sesuai dengan tujuan yang diinginkan perancangnya. Hal ini tentunya sangat bersinggungan dengan arsitektur. Namun jika saya perhatikan dari contoh yang Anda berikan, rata-rata pengaplikasiannya melalui fasad bangunan. Lalu bagaimana dengan kualitas ruangan di dalamnya? Apakah tipografi bisa mengekspresikan juga kualitas ruang dalam yang diinginkan?
    Pertanyaan ini timbul terutama ketika saya terpikir bahwa lewat huruf pun pesan yang ingin disampaikan perancang bisa langsung tersampaikan lewat tulisan. Lantas apakah kemudian peranan tipografi masih diperlukan dalam menyampaikan pesan yang sudah bisa tersampaikan sendiri lewat kombinasi huruf tersebut (kata)?

    Mohon penjelasan lebih lanjutnya🙂
    NB: mungkin bisa lebih terjelaskan apabila pengaturan tipografi ini dikaitkan dengan efek dan persepsi yang diciptakannya.

    Comment by sitibararah — March 24, 2013 @ 18:37

  7. Terima kasih~😳

    Terutama untuk ditanadyaa dan sitibararah, saya jelaskan kembali bahwa tipografi adalah ilmu yang mempelajari typeface (tipe) dan penyusunannya. Jadi, jawaban untuk pertanyaan pertama ditanadya adalah tipografi tidak hanya pada huruf latin/roman, tetapi juga pada huruf korea/hangul, kanji, hiragana, katakana, arab, dll. Huruf-huruf tersebut bukan typeface karena typeface itu lebih kepada bagaimana bentuk huruf-huruf tersebut, ya bisa dibilang desain huruf, misalnya seperti tulisan tangan, seperti goresan kuas, atau memang mengikuti sumbu x dan y. Selain itu, typeface juga mencakup bentuk-bentuk yang digunakan, seperti lingkaran, oval, garis yang melengkung di tepinya, dll. Untuk penerapan tipografi tiap huruf pada dasarnya sama. Selanjutnya dapat Anda google sendiri ragam typeface pada suatu huruf tertentu😉

    Kemudian saya akan menjawab pertanyaan tanjungandy yang pertama sekaligus ratihnirmalasari. Menurut saya, karena dalam arsitektur, ide bisa didapatkan dari berbagai sumber. Nah, salah satu contohnya tipografi ini. Kita harus mengetahui tujuan awal penggunaan tipografi tersebut karena aturan-aturan yang akan digunakan selanjutnya berdasarkan tujuan awal. Selama adanya kesesuaian di anatara tujuan dan aturan-aturannya, suatu arsitektur dapat dikatakan baik. Namun, jika tidak sesuai, mungkin saja masih akan indah, tapi adanya kekeliruan persepsi yang timbul. Karena tidak sesuai dengan tujuan awal, bisa dikatakan arsitektur tersebut kurang baik.

    Berdasarkan sumber-sumber yang saya baca, sejujurnya saya belum tahu pasti bagaimana perkembangan tipografi ini pada arsitektur. Mungkin di saat tipografi mulai berkembang itu, penerapannya termasuk baik karena merupakan inovasi pendekatan lain dalam merancang. Ya, mungkin saja terinspirasi dari Los Angles, seperti yang dipertanyakan anthyadwita. Mungkin berawal dari penggunaan tipografi pada signage yang kemudian diaplikasikan ke bangunan. Namun, terkadang terlihat memaksakan, seperti denah alfabetis yang memiliki fokus utama pada bentuk bangunannya. Arsitektur di masa lalu kebanyakan memang sifatnya blak-blakan, agak berbeda dengan masa kini yang dalam mendesain lebih implisit, lebih menantang pemikiran. Dengan perbedaan pandangan seperti ini, penerapan tipografi pada arsitektur di masa lalu bisa saja dibilang kurang baik. Akan tetapi tidak adil rasanya jika baik tidaknya penerapan tipografi pada arsitektur tidak dilihat berdasarkan keadaannya di saat itu. Kembali lagi pada konteks, semakin sesuai dengan konteks, semakin baik.

    Menjawab pertanyaan pertama valencia93, berdasarkan yang saya baca, tiap huruf itu kan memiliki bentuknya masing-masing, seperti huruf I hanya lurus, huruf O melingkar menutup, atau huruf S yang melengkung dengan ujung yang tak saling bertemu. Hal ini berpengaruh terhadap sirkulasi dan privat-publik di dalamnya. Sebagai contoh, bangunan dengan denah huruf E dapat dijadikan rumah atau apartemen dengan akses masuk utama di tengah kemudian ruang-ruang menyebar semakin ke ujung semakin bersifat privat. Jadi, penerapan tipografi pada denah dapat menuntun peletakan ruang-ruangnya berdasarkan persepsi yang dihasilkan secara langsung dari denah tersebut. Tipografi yang dirasakan pada bangunan alfabetis ini sebatas keruangannya saja karena bentuk hurufnya hanya dapat dilihat melalui udara. Sepertinya sang arsitek ingin membuat bangunan yang berbentuk alfabetis dan ingin menyampaikan bahwa dibaliknya, tiap huruf tersebut menyimpan karakteristiknya tersendiri.

    Pertanyaan valencia93 yang kedua: Apakah ada perbedaan persepsi? Tentunya persepsi di sini berkaitan erat dengan perspektifnya. Ketika tulisan berada di banyak bidang secara terpotong-potong dan pada satu posisi akan terlihat jelas maka memang tulisan tersebut hanya diperuntukkan dalam satu kondisi. Lain halnya jika tulisan hanya berada pada satu bidang, tulisan tersebut akan terdistorsi seiring bergeraknya kita, entah mendekat, menjauh, atau melewatinya.

    Sitibararah, jika Anda perhatikan lebih seksama, pada baris atas gambar ketiga dari kiri (Marzahn Recreational Park) menunjukkan ruang di balik kulit tipografi. Seperti yang dikatakan anthyadwita, “…bisa menjadi shading cahaya agar cahaya tidak langsung masuk ke dalam bangunan, dan bahkan bisa memberikan efek dramatis pada bangunan dengan bias cahaya yang melewati tipografi tersebut.” Biasanya penggunaan tulisan pada bangunan di masa kini adalah sebagai simbol atau identitas. Tipografi akan memberi efek tambahan kepada tulisan tersebut, tergantung apa yang diharapkan.

    Demikian jawaban dari saya. Mungkin ada yang ingin membantu melengkapi?🙂

    Comment by tasyae — March 29, 2013 @ 23:03


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: