there’s something about geometry + architecture

March 24, 2013

Ada Apa di Balik Bento?

Filed under: architecture and other arts — valencia93 @ 15:01
Tags: , ,

Pernahkah Anda makan bento? Bento sudah cukup populer di Indonesia sebagai makanan cepat saji asal Jepang. Di Indonesia sendiri, kita memang mengenal bekal makanan yang dibawakan oleh ibu saat kita pergi ke sekolah. Bekal makanan berisi nasi dan lauk-pauk juga memang dikemas dalam kotak makanan. Toh, apa bedanya Bento ala Jepang dengan bekal makanan yang pernah kita nikmati saat sekolah dulu?

Image
Sumber: http://images1.friendseat.com/2009/10/Bento-Box-Lunch-Image-via-Donald-Clark-Flickr.jpg

Kualitas bento dapat dilihat dari tekstur dan warna makanan. Hal ini disesuaikan dengan jenis kelamin, tinggi badan, aktivitas harian, dan usia masing-masing. Jumlah kebutuhan kalori setiap harinya dapat dihitung dengan menemukan berat badan ideal terlebih dahulu. Kemudian, dikalikan dengan 25 kkal untuk wanita dan 30 kkal untuk pria.

Berat Badan Ideal = 0.9 (tinggi badan – 100)

Jumlah kalori = Berat Badan Ideal x 25/30 kkal

Image

Image

Sumber: http://item.rakuten.co.jp/yellowstudio/c/0000000352

Ada 3 hal yang menjadi panduan dalam mengatur komposisi bento. Perbandingan 3:2:1 dalam bento digunakan untuk mengatur jumlah makanan. 50% terdiri dari karbohidrat, 33 % merupakan porsi untuk buah dan sayuran, sedangkan 17 % porsi protein. Yang kedua adalah tidak ada permen, makanan berlemak dan cepat saji. Panduan lainnya adalah tidak ada ruang kosong. Ruang kosong dalam kotak dapat diisi dengan aksesoris makanan lainnya, seperti wortel, mentimun, dan lainnya.

Selain memanjakan lidah kita, bento memiliki syarat lainnya, yaitu keindahan visual. Untuk mendapatkan keseimbangan makanan, setiap bento harus menyatukan 5 (lima) elemen yang menjadi aturan tidak tertulis merangkai bento. Hal tersebut melingkupi warna, metode, rasa, pengindraan, dan sudut pandang. Seperti pada gambar di samping, salmon teriyaki bento mengikuti lima panduan tersebut. Warna merah didapat dari jahe jepang (jinjya) dengan rasa sedikit pedas, warna kuning dari renyahnya tempura goreng yang asin, warna hijau dari sayuran yang direbus, warna hitam dari saos soya dan salmon yang dipanggang, dan warna putih dari potongan sushi dan nasi.

“… and beauty, when the appearance of

the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion…” (Vitruvius, Morgan’s Translation, 1960)

“The concept of proportion is in composition the most important one, whether it is used consciously or unconsciously.” (Matila Ghyka, 1952)

Image
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-DucACVJrINA/TlDlXTJ-rvI/AAAAAAAAAMg/aSeoWZW6c2E/s1600/salmon%2Bteriyaki%2Bbento-box.jpg
Image
Sumber: http://www.allthingsforsale.com/img/bento/bentobox.jpg

Menurut Vitruvius dan Ghyka, proporsi merupakan hal terpenting dalam komposisi yang menciptakan keindahan itu sendiri. Makanan bento dikelompokkan dalam tempat-tempat kecil dan disatukan kotak bento. Desain geometri segi empat bento mengemas makanan dengan perbandingan 3:2:1 yang telah disebutkan di atas. Bentuk dan besaran kotak bento pun beragam. Dalam analisa bentuk di samping, persegi panjang ABCD mempunyai proporsi sama dengan DCEF. Image

Pengaturan komposisi bahan, warna dan tekstur makanan memberi keindahan visual pada beno. Dibalik keindahan tersebut justru didukung oleh proporsi bentuk dasar kotak bento. Desain kotak bento juga memiliki pengaruh besar dalam menampung makanan tersebut. Proporsi kotak bento bukan hanya menimbulkan keindahan, namun juga sesuai dengan kebutuhan kalori tubuh setiap kali makan. Bekal makanan yang satu ini berbeda dengan bekal lainnya menjadi lebih menarik, bukan? Dalam pikiran kita, yang jelas setelah makan kita akan merasa kenyang. Sekarang manakah yang lebih penting, keindahan makanan atau mengisi perut agar kenyang?

Sumber: (Diakses pada 22 Maret 2013)

Vitruvius, Terjemahan Morgan, 2006, Ten Books on ArchitectureeBook Version, [Online], (www.gutenberg.org)

http://desxripsi.blogspot.com/2012/11/bento-seni-merangkai-bekal-ala.html#axzz2OMS37zL7

http://health.okezone.com/read/2012/10/05/486/699722/redirect

http://lunchinabox.net/2007/03/07/guide-to-choosing-the-right-size-bento-box/

http://www.okefood.com/read/2012/06/09/299/644279/large

http://www.pangaeashop.com/Choosing_A_Box.html

http://www.pangaeashop.com/Packing_bento.html

http://www.pangaeashop.com/What_is_Bento.html

3 Comments »

  1. wahh.. saya baru tau kalau ternyata proporsi diterapkan juga pada makanan..
    saya kira hanya sesuai dengan kebutuhan kotak mana dalam bento tersebut yang memerlukan space lbh besar dibanding kotak lainnya.
    apakah dari kotak-kotak bento tersebut ada yang menggunakan golder rules? baik itu rectangle, circle, atau triangle?
    Terima kasih.😀

    Comment by tanjungandy — March 24, 2013 @ 18:12

  2. post nya menarik ya, membicarakan makanan..😀

    dari post diatas, saya kutip pernyataan : “setiap bento harus menyatukan 5 (lima) elemen yang menjadi aturan tidak tertulis merangkai bento. Hal tersebut melingkupi warna, metode, rasa, pengindraan, dan sudut pandang.”

    yang ingin saya coba tanyakan adalah, sudut pandag seperti apa yang diharapkan dari si pembuat bento terhadap bento buatannya.. seperti yang diketahui adalah sudut pandang setiap orang kan berbeda2. kita misalkan sebagai mahasiswa arsitektur melihat sebuah bento bukan dari sisi berapa kalori yang kita dapat jika kita menghabiskan satu porsi bento, namun kurang lebih kita melihatnya dari segi proporsi, harmonisasi warna, dll.

    satu pertanyaan lagi, seberapa besar pengaruh perbandingan 3:2:1 terhadap selera makan seseorang? bagaimana jika perbandingannya berubah?

    terimakasihh..

    Comment by annasresaldi — March 25, 2013 @ 13:45

  3. Terima kasih atas pertanyaannya, teman-teman…🙂
    andi: kemungkinan itu selalu bisa terbuka. Bila ditelaah lebih lanjut, bentuk dan jenis dari kotak bento itu sendiri bermacam-macam dengan ciri yang sama, yaitu berbentuk kotak. Pada contoh yang saya berikan merupakan kotak yang berbentuk simetris. Golden rules yang dapat diterapkan pada semua hal yang dapat menciptakan keindahan. Apakah semua yang memiliki golden rules baru dapat disebut dengan keindahan? Sangat terbuka kesempatan bagi teman-teman yang masih penasaran dan ingin menerapkan golden rules pada kotak bento ini. Bukankah dari kesimetrisan kotak bento juga dapat menciptakan keindahan?

    “… and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” (Vitruvius, Terjemahan Morgan, 1960, Bab III)

    Keindahan menurut Vitruvius dapat berasal dari proporsi dengan aplikasi prinsip-prinsip kesimetrisan. Memang konteks dalam tulisan ini pada masa Romawi dimana keindahan dapat tercipta dari keteraturan dan kesimetrisan. Tulisan ini berlaku pada masa Arsitektur Klasik, namun apakah tulisan ini masi dapat digunakan pada masa sekarang? Menurut saya, tulisan Vitruvius membantu kita dalam memndefinisikan keindahan itu sendiri. Desainer kotak bento sendiri mungkin telah membaca aturan proporsi menurut VItruvius ini. Bisa juga tidak dan desain kotak bento yang dihasilkan ini memang hasil kreasi yang menurut desainer tersebut indah dan dapat mendukung fungsi sekaligus keindahan dari makanan tersebut. Semua kembali pada diri sendiri. Apakah kotak bento ini indah? Hal ini dapat dengan bebas diinterpretasikan oleh para pembaca tergantung pada prinsip apa yang ingin kita gunakan.🙂

    annas:

    Sudut pandang in terdiri dari lima hal saat menikmati bento. Kita perlu berterima kasih dengan orang yang telah menyiapkan makanan, melakukan perbuatan dan memiliki pikiran dalam menerima makanan, menyantap makanan tanpa kemarahan, sadarilah makanan ini memberi makan jiwa dan tubuh, serta secara serius terlibat di jalan menuju pencerahan. Hal ini meningkatkan makna dari bento yang mungkin hanya terlihat sebagai makanan biasa. Sudut pandang ini lebih kepada orang yang menikmati makanan bento. Tentu saja cara menikmati bento sangat bermacam-macam. Tidak harus memakannya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bento ini memiliki 5 elemen saat disajikan. Bento ini disajikan dengan sepenuh hati dengan merangsang kelima indera kita, yaitu penglihatan, penciuman, rasa, penciuman, dan sentuhan. Elemen lainnya adalah warna, rasa, dan metode. Makan siang menjadi lebih mengguggah selera dengan menggabungkan paling tidak lima warna, yaitu merah atau oranye, kuning, hijau, hitam (dapat juga ungu atau cokelat), dan putih. Bahan makanan dapat direbus, dikukus, dipanggang, digoreng dan tentu saja diiptakan atau disusun dalam bento. Kelima metode dalam mengolah makanan ini memperkaya keindahan dan keberagaman bento sendiri. Terdapat lima rasa dalam kombinasi bento, yaitu asin, asam, manis, pahit, dan pedas. Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pembuat bento bukan hanya menyajikan makanan biasa, namun dengan komposisi secara visual, rasa, auditori, sensori, maupun penciuman menjadi satu kesatuan elemen untuk dinikmati. Kesesuaian ini menciptakan keseimbangan dan harmonisasi makanan. Si pembuat bento ingin menyajikan bento yang dapat menggugah selera penikmatnya, sehingga penikmat juga merasa senang, selain kenyang.🙂

    Mengenai perbandingan pada porsi makanan tentu saja dapat mempengaruhi selera makan. Seberapa besar pengaruh perbandingan ini tergantung pada masing-masing penikmat. Bagi yang bervegetarian, protein hewani tidak diperlukan dan dapat digantikan dengan protein nabati atau dengan porsi sayuran dan buah yang lebih banyak. Bagi yang sedang diet, porsi karbohidrat dapat dikurangi sesuai dengan kebutuhan kalori penikmat. Perbandingan ini dapat membantu kita dalam menyajikan bento yang dapat diminati oleh kalangan masyarakat secara umum. Bagaimana jika mmengubah menjadi 2: 3: 1 bagi laki-laki? Kecenderungan laki-laki untuk menikmati porsi karbohidrat akan membuat laki-laki merasa porsi bento kurang. Sedangkan, jika wanita disejaikan bento dengan perbandingan 4:1:1, wanita akan merasa kenyang sebelum makan, sehingga tidak menghabiskan makanan. Ketika porsi diubah, maka harmonisasi yang tercipta secara visual, rasa, auditori, sensori, maupun penciuman pun dapat berubah. Keseimbangan dalam makanan menjadi berubah. Tidak ada aturan baku bahwa bento ini harus dengan perbandingan 3:2:1. Namun, jika diikuti, dapat mencapai keseluruhan tujuan dari bento tersebut.

    Semoga jawaban ini dapat membuka pikiran kita untuk terus berdiskusi..🙂

    Comment by valencia93 — March 27, 2013 @ 03:32


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: