there’s something about geometry + architecture

March 25, 2013

Kecenderungan Manusia Berjalan dalam Pola Melingkar : Adakah Kaitan dengan teori Non-Euclidean?

Filed under: everyday geometry — naditaamalia @ 17:01

Manusia, secara sadar dapat berjalan lurus ketika ia dapat melihat sebuah titik/objek yang akan menjadi tujuan akhir sebagai acuan saat berjalan. Contohnya pada tes yang dilakukan pada sebuah razia untuk membuktikan bahwa seseorang sedang mabuk atau tidak. Ketika seseorang dalam keadaan sadar (tidak dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan terlarang), ia akan dapat berjalan mengikuti sebuah garis lurus. Sebaliknya jika sedang dalam keadaan mabuk maka orang tersebut akan sulit berjalan mengikuti sebuah pola garis lurus. Namun bagaimana halnya ketika manusia dituntut untuk berjalan pada sebuah garis lurus ketika ia berada dalam keadaan sadar namun dengan keadaan mata tertutup? Apakah manusia tetap dapat berjalan lurus?

Sebuah video animasi berdasarkan riset yang dibuat oleh Robert Krulwich dan Benjamin Arthur menyampaikan sebuah fenomena unik mengenai sebuah kecenderungan yang manusia lakukan ketika dituntut berjalan lurus dengan mata tertutup.

Dari video dapat dilihat bahwa ternyata memang ada sebuah fenomena dimana manusia cenderung berjalan dalam pola melingkar saat ia tidak dapat melihat titik acuan ketika sedang berjalan. Mengapa demikian? Hal ini mengingatkan akan teori non-euclidean dimana kaitannya adalah ketika bumi berbentuk bulat, maka ketika 2 titik di permukaan bumi dihubungkan dengan sebuah garis, garis tersebut bukanlah sebuah garis lurus, melainkan geodesic. Menurut teori Einstein, sebuah benda bergerak dalam geodesic, yaitu bentuk terdekat dengan garis lurus pada ruang lengkung. Kondisi dimana jalur yang dilalui manusia saat berjalan berada di atas sebuah permukaan yang tidak datar atau jika ditarik garis membentuk garis lengkung, membuat manusia cenderung berjalan mengikuti pola melingkar.

3

(Sumber:RotatingEarth.gif)

(Edited)

Google Earth Image

(Sumber: bd92b79fea_wide-fd35a32a36b652cbf3121b8bc6c24685ca3ca2e5-s40.jpg)

Ada sebuah gambar dari penelitian Jan Souman, seorang ilmuwan Jerman yang menjelaskan sebuah fenomena lain. Ketika langit berawan dan visibilitas rendah (garis biru), orang yang berjalan (berlabel KS, PS dan RF) tidak mampu untuk tetap lurus dan mulai berpaling. Namun ketika cuaca cerah (garis kuning), orang yang berjalan (berlabel SM) mampu menjaga garis lurus stabil dan agak panjang.

Manusia, ternyata mulai berjalan dengan pola lingkaran ketika kita tidak bisa melihat sebuah titik acuan, seperti puncak gunung, matahari, bulan, atu objek lainnya. Ada sesuatu yang menyebabkan manusia dengan sendirinya bergerak tidak pada jalur yang lurus. Disini cuaca dikatakan sebagai salah satu faktor yang menyebabkan manusia berjalan tidak lurus. Namun kembali muncul pertanyaan, mengapa pola “tidak lurus” yang terjadi adalah pola melingkar? Tampaknya alasan ini kurang kuat untuk menjadi alasan.

Namun ternyata ada beberapa fakta lain yang mungkin dapat menjadi alasan akan kecenderungan manusia berjalan dalam pola melingkar. Salah satunya yaitu mengenai kecenderungan seorang right-handed dan  left-handed, dimana salah satu sisi dari tubuhnya (kanan/kiri) lebih dominan dalam kegiatan yang dilakukan sorang manusia. Atau mungkin ini merupakan refleksi dari kanan dan kiri kita yang menghasilkan tingkat dopamine yang berbeda? Atau sesederhana karena sebagian besar dari kita memiliki kaki berukuran sedikit berbeda antara kanan dan kiri sehingga panjang langkah yang dilakukan juga berbeda? Namun ternyata hipotesa ini dibantah oleh Jan Souman, seorang ilmuwan Jerman yang menulis sebuah makalah tentang kecenderungan manusia untuk berjalan di lingkaran pada tahun 2009. Menurut Jan, ia menguji semua proposisi dan tidak mendapatkan hasil yang diprediksi. Sepertinya, tidak ada penjelasan tunggal untuk fenomena ini. Namun Jan Soulman tidak mengungkapkan bahwa teori Non-Euclidean terkait dengan fenomena ini.

Jadi apakah teori Non-Euclidean lah yang menjadi alasan dibalik semua fenomena ini? Atau memang dibutuhkan penjelasan multi-kausal dari kasus unik ini?

Sumber:

http://www.cell.com/current-biology/abstract/S0960-9822(09)01479-1 (diakses pada 25 Maret 2013 16.00)

http://www.npr.org/blogs/krulwich/2011/06/01/131050832/a-mystery-why-can-t-we-walk-straight (diakses pada 25 Maret 2013 16.00)

http://vimeo.com/17083789  (diakses pada 25 Maret 2013 16.00)

http://www.brainpickings.org/index.php/2011/01/10/npr-why-cant-we-walk-straight/  (diakses pada 25 Maret 2013 16.00)

Hawking & MlodinowThe Grand Design 

2 Comments »

  1. wah, post ini mengingatkan saya pada mitos berjalan dengan mata tertutup di antara 2 pohon beringin yang ada di alun-alun Kraton Yogyakarta. Katanya kalau kita bisa melewatinya dengan baik, alias berjalan lurus, mitosnya siih hidup kita ke depannya lancar-lancar dan lurus-lurus aja😀
    tapi kemudian saat saya melihatnya langsung, luar biasa, tidak ada yang berjalan lurus. bahkan tidak ada yang bisa melewatinya. kebanyakan berjalan melenceng ke kanan, melenceng ke kiri, bahkan ada yang malah berjalan lurus tapi arahnya berputar balik ke tempat awal sambil tetap disemangati oleh teman-temannya “teruus teruus, dikit lagii”. teman yang baik memang harus selalu mendukung di segala situasi :’)
    saya juga mencoba, dan dengan percaya diri berjalan dengan kaki yang diluruskan ke depan sejauh mungkin (supaya tetap lurus), dengan hipotesa yang percaya diri juga: injek aja bagian tanah-tanah, becek-becek, pasti lurus dah. waktu itu malam dan baru selesai hujan.

    kenyataannya setelah 3/4 perjalanan saya yang menurut kakak saya luar biasa lurus, akhirnya saya pola perjalanan saya melenceng ke kiri. depresi karena merasa menginjak rumput, saya kemudian menyerah. gamau usaha lagi.
    juga sewaktu kecil saya belajar berenang, dan lupa bawa kacamata renang. pasti tidak pernah bisa sampai di sisi seberang dengan lurus, selalu melenceng ntah ke kanan atau ke kiri. sampai pelatih renang saya yang sepertinya depresi tiap giliran saya berenang, harus mengingatkan banyak orang tidak bersalah untuk minggir karena destinasi berenang saya yang brutal.
    menurut kesaksian orang-orang yang menertawakan saya dari atas kolam, saya sejak awal memang berenang secara melingkar ke kiri atau ke kanan. jadi lebih parah, seakan dari awal sudah tidak berniat untuk lurus.
    menurut sumber ini sih -> http://theposkamling.com/penjelasan-medis-beberapa-kejadian-mistis-di-masyarakat/ katanya itu terjadi karena fungsi otak kanan dan kiri kita yang gak seimbang. biasanya kita dibantu mata, sehingga bisa mengkalibrasi ulang ‘lurus’ yang dimaksud salah satu otak kita yang mendominasi – dan dalam kasus ini matanya ditutup.
    ini seperti yang Dhela kemukakan dalam faktor right-handed atau left-handed😀
    kalo saya pribadi sih, pola berenang saya melengkung dan melenceng sekaligus, karena saya melakukan perubahan arah di saat saya harus terus berenang. coba kalo saya boleh berhenti setiap otak saya ingin mengkalibrasi ulang arah saya ‘secara melenceng’, terus berenang lagi, pasti zigzag🙂 masuk akal tidak?

    Comment by ayuanastasya — March 29, 2013 @ 09:30

  2. wah post ini mengingatkan saya pada mitos berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin yang ada di alun-alun Kraton Yogyakarta. Jika bisa lurus melewati daerah di antara pohon itu, katanya siih hidupnya lurus dan lancar-lancar aja. Kalau tidak?😛
    Kenyataannya saat saya lihat sendiri, tidak pernah ada yang bisa melewatinya. Jangankan lewat, lurus saja susah. Pasti ada yang melenceng ke kanan, ke kiri, bahkan berbalik arah menuju tempatnya semula.
    Saat saya SD juga ada pengalaman yang cukup menarik. Setiap saya pergi belajar berenang dan lupa membawa kacamata renang, setiap itu pula posisi finish berenang saya melenceng jauh dari posisi finish seharusnya yang lurus. Tanpa kacamata renang, saya tidak bisa membuka mata😀 Setiap itu pula pelatih saya terlihat depresi karena harus mengingatkan hampir separuh pengguna kolam untuk minggir karena destinasi berenang saya yang brutal. Oya, saya juga tidak diizinkan berhenti berenang di tengah jalan, karena harus mengulang dari awal.
    Menurut kesaksian kakak saya yang melihat saya dari tempat duduk tribun di sisi atas kolam renang itu sih, dari awal mula saya berenang saya sudah membentuk pola melengkung ke kanan atau kiri sehingga arah finishnya melenceng. Seakan dari awal niat berenang saya tidak lurus.
    Kenapa apapun yang saya lakukan selalu melenceng? Padahal niatnya sudah saya luruskan! T_T
    Lalu terlihat artikel ini -> http://theposkamling.com/penjelasan-medis-beberapa-kejadian-mistis-di-masyarakat/
    Di sana dijelaskan bahwa arah perjalanan kita yang lurus itu merupakan hasil visuospatial yang diciptakan otak kanan dan kiri kita, yang kemudian dikalibrasi ulang oleh mata kita untuk menentukan ‘lurus’ sesungguhnya. Kalibrasi ulang itu bisa dengan bantuan target penglihatan tertentu yang terletak lurus di depan kita, seperti yang dikemukakan Nadita.
    Lalu bagaimana jika mata tertutup? Berjalanlah dengan mata batin, kata paranormal. Secara neurosains, mata batin yang dimaksud adalah visuospatial yang diciptakan oleh otak kita. Karena adanya fungsi kedua otak yang tidak seimbang -pada beberapa orang akan ada bagian otak yang lebih dominan- maka jalan pun jadi melenceng. Kurang lebih mirip faktor left-handed or right-handed yang juga dikemukakan Nadita di paragraf terakhir.
    Lalu mengapa melingkar? Hipotesa saya di kasus saya sendiri, karena saya melaju tanpa henti dengan mata tertutup. Hasil visuospatial otak saya yang ternyata tidak seimbang mengarahkan saya menuju arah ‘seharusnya’ (yang ternyata melenceng) sambil terus berenang. Jadi dari yang awalnya berniat lurus, pelan-pelan sambil terus berenang dan tanpa bantuan target mata yang lurus, saya mengubah derajat arah berenang saya mengikuti arah yang menurut otak saya benar. Masuk akal bukan kalau akhirnya polanya melingkar?
    Coba kalau saya berhenti setiap otak saya mengarahkan saya menuju arah ‘seharusnya’, lalu kembali melanjutkan berenang, lalu berhenti lagi, berubah arah lagi, berenang lagi. Mungkin polanya akan menjadi zigzag😀

    Comment by ayuanastasya — March 29, 2013 @ 10:45


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: