there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

Prinsip-Prinsip Classic Beauty

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — martinaratna @ 00:41

Sebenarnya post saya kali ini banyak berisi pertanyaan yang baru terpikirkan pada saat kelas geometri minggu lalu, saat pembahasan mengenai ideal cities. 

Yang menjadi trigger bagi saya adalah pernyataan bahwa semua yang jelek tidak boleh ada di kota tersebut. Saat itu juga disebutkan di kelas, bahwa gelandangan dan pemukiman kumuh adalah termasuk kejelekan yang disembunyikan, atau bahkan tidak boleh terlihat di suatu kota. Seketika itu juga saya berpikir, bahwa orang-orang yang cacat juga termasuk dalah kategori “jelek” dan “tersingkirkan”.

Hal ini tentunya membawa saya kembali ke minggu-minggu awal pertemuan kelas geometri, yaitu menyangkut prinsip-prinsip suatu hal yang dianggap beautiful. Dari pembahasan beberapa minggu, saya merasa bahwa prinsip-prinsip tersebut (ritme, simetri, proporsi, komposisi, dsb) hanya bisa dinikmati secara visual.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak dapat melihat / tuna netra? Apakah memang ada kaitan yang jelas pada sejarah masa itu, bahwa mereka yang tuna netra termasuk dalam kategori “ugly”, sehingga desain-desain yang ada tidak memperhatikan mereka sebagai penikmat? Atau bahkan memang kaum tuna netra ini dirasa tidak pantas untuk menikmati desain tersebut?

Selain itu, saya juga mempertanyakan tentang aspek kualitas ruang yang terbentuk. Apakah ini berarti bahwa metode desain yang berprinsip pada classic beauty mendahulukan penampilan / appearance dibandingkan experience & spatial quality pada suatu desain? Ataukah justru jika kita mengikuti prinsip-prinsip classic beauty, kualitas ruang tertentu dengan sendirinya akan terbentuk?

Saya rasa cukup seru untuk memahami classic beauty pada suatu desain, mengingat hal tersebut bisa membantu menjawab berbagai pertanyaan yang terkait dengan beauty itu sendiri. Tentunya saya sangat terbuka dengan pendapat teman-teman terkait pertanyaan yang saya post kali ini.

4 Comments »

  1. Pertanyaan kak martina menarik! Saya jadi tersadar akan indera-indera lain yang dimiliki manusia selain penglihatan. Selama ini kita banyak mengandalkan visual kita untuk menilai sesuatu, padahal sebenarnya kita sebagai manusia memiliki 5 indera. Sense experience dalam suatu ruang selain melalui visual padahal membantu kita untuk menciptakan pengalaman yang membentuk kualitas berbeda dan lebih mudah kita ingat dibanding hanya dengan menggunakan visual. Misal bau yang khas dari suatu ruang, suara yang kita dengar juga membantu kita dalam menangkap sebuah pengalaman ruang. Menurut saya pribadi ketika sebuah ruang tidak hanya menyampaikan pengalaman visual tetapi juga menyampaikan pengalaman yang dapat ditangkap oleh indera manusia lainnya akan membentuk suatu kualitas ruang yang lebih terkomunikasikan dibandingkan yang hanya menggunakan visual. Mengkomunikasikan suatu kualitas ruang kepada user menurut saya kurang cukup jika hanya visual yang diandalkan. Untuk classic beauty sendiri akan panjang jika diperdebatkan, karena standar mengenai keindahan (beauty) itu sendiri tidak absolut, parameter keindahan terus berubah seiring berubahnya konteks, baik konteks waktu, wilayah, dan sebagainya. Terimakasih atas topiknya yang membuka pikiran🙂

    Comment by naditaamalia — March 27, 2013 @ 03:27

  2. Saya juga ingat penjelasan di perkuliahan Geometri tentang suatu kota yang membuat bawah tanah bagi kelompok masyarakat yang dianggap tidak ideal seperti penyamak kulit, pemotong daging, dll. Yang hidup di atas adalah apa yang ideal, masyarakat dengan kelas sosial tinggi. Mereka yang di bawah tanah hanya boleh keluar saat malam hari.
    Mendengar bahwa dulu ada kota seperti ini, saya menjadi kesal. Padahal kelompok orang-orang yang hidup di atas ditunjang oleh apa yang dihasilkan oleh kelompok orang-orang bawah tanah. Sebenarnya mereka menjadi “ideal” karena apa yang dianggap mereka “tidak ideal”. Kejam sekali untuk memaksakan supaya apa yang ideal tidak “dirusak” dengan cara seperti ini. Visual diutamakan di atas segalanya. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin arsitek yang punya tugas merancang ruang bagi manusia malah menjadikan manusia sebagai obyek yang hanya dipertimbangkan visualnya saja. Namun, kesempurnaan pada zaman dahulu memang dipandangan dari kacamata yang sempit seperti itu.
    Syukurlah fakta bahwa sekarang tidak ada lagi kota dengan tipikal seperti ini menunjukkan bahwa peradaban manusia semakin terbuka dengan keunggulan adanya perbedaan di dunia ini, kenyataan bahwa apa yang ideal memang pada akhirnya mustahil dicapai (utopia).

    Comment by shiltafinella — March 29, 2013 @ 17:07

  3. @Nadita: Wah, syukur deh kalau topik ini bisa membuka pikiran kamu hehehe.
    Benar sekali, kita masih punya 5 indera lain lho. Kelima indera ini berfungsi sinergis dalam pembentukan memori & kesan kita terhadap sesuatu. Contoh gampangnya misal lagi nonton film horror. Kalau audionya dimatikan, cuma nonton gambarnya saja, pasti tidak akan dapet thrill nya dong. Kaget2nya juga tidak ada. Sama halnya dalam menikmati hasil rancangan para arsitek. bayangkan kita datang ke suatu taman yang indah, sejuk, banyak bunga2 dan tanaman indah, tapi kita tidak bisa mendengar dan mencium. Experience nya pasti berbeda. Kita tidak bisa mencium wangi bunga, tidak bisa mendengar air mancur yang gemercik. Lalu apa bedanya dengan melihat taman tersebut melalui foto-foto saja?
    Anyway, terima kasih ya sudah merespon pertanyaan ini.🙂

    Comment by martinaratna — March 29, 2013 @ 22:04

  4. @Shilta: Terima kasih atas responnya, Shil!
    Saya setuju bahwa konsep ideal cities yang demikian hanya ada di utopia! Saya tidak bisa membayangkan jika ada di suatu kota yang demikian. Kotanya kok jadi pilih-pilih penduduknya ya. hahaha.. Sementara penduduknya tidak bisa menikmati hak nya sebagai warga kota, (menikmati saja tidak bisa, apalagi menyuarakan kebutuhan-kebutuhannya ya?)
    Selain itu saya jadi terpikir lagi.. Bagaimana dengan orang yang dulunya termasuk dalam kategori beautiful, lalu secara tidak sengaja menjadi ugly? Misal seseorang dari kaum bourjouis, tiba-tiba mengalami kecelakaan, lalu harus menjadi cacat & tidak lagi beautiful seperti dulu. Apakah dia langsung “didepak” dari kehidupan berkota? hmm…

    Comment by martinaratna — March 29, 2013 @ 22:10


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: