there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

Aksonometri sebagai Representasi Arsitektur

Filed under: process — wayanjatasya @ 12:33

“Arsitek tidak membuat bangunan; mereka menggambar untuk bangunan.” Evans (1995)

Proses kreatif dalam arsitektur saat ini menuntut satu set gambar proyeksi untuk menggambarkan ide, keterbangunan, teknologi dan berbagai aspek lain. Pada perkembangannya, gambar-gambar proyeksi dianggap sebagai gambar arsitektural. Mereka dituntut memiliki informasi yang objektif. Kendala kerap ditemui sebab tiap-tiap gambar proyeksi merupakan pecahan informasi dari satu sistem (bangunan atau karya lain) yang lebih besar.

Proyeksi aksonometri memberi ilusi tentang kedalaman (depth) seperti pada perspektif. Hanya saja, terjadi distorsi karena garis-garis tidak hilang pada sebuah atau lebih titik hilang (vanishing point(s)).

Aksonometri berarti ‘terukur sepanjang sumbu (axes). Pada salah satu bentuk proyeksi parallel ini, objek diputar sepanjang salah satu sumbu yang relatif terhadap bidang proyeksi.  Semua garis pada gambar terukur pada skala sama. Berbeda dengan gambar perspektif, ‘yang jauh’ terlihat sama dengan ‘yang dekat’. Oleh karena itu, tampak terjadi distorsi pada gambar.

 Objek seolah-olah hadapkan pada suatu bidang di luar objek kemudian ‘dicetak’ ke bidang tersebut. Seluruh objek tampak ‘diratakan’ pada satu permukaan proyeksi.

Parallel mengacu pada postulat Euclid, pada proyeksi aksonometri, garis-garis yang dibuat parallel akan tetap parallel.

Distorsi adalah konsekuensi pemutaran objek pada sumbu tertentu. Pemutaran objek pada proyeksi aksonometri dilakukan untuk menutupi kekurangan gambar proyeksi yang tidak mampu memberikan kedalaman pada mata.

Satu proyeksi aksonometri dapat dilihat sebagai kumpulan gambar-gambar proyeksi orthografis hingga enam bidang. Tiap-tiap proyeksi parallel terhadap satu koordinat sumbu objek. Proyeksi-proyeksi disusun relatif satu sama lain.

Gabungan gambar-gambar proyeksi ini menyebabkan satu gambar aksonometri lebih unggul dibanding satu gambar proyeksi orthografis yang lain.

 

Objektivitas – Kebangkitan Proyeksi Aksonometri

Proyeksi aksonometri tidak banyak merepresentasikan karya arsitektural hingga abad ke-18. Proyeksi ini lebih banyak digunakan dalam menggambarkan mesin. Namun, revolusi industri membawa manusia pada zaman yang mengagungkan sains dan teknologi.  Tuntutan objektif secara matematis dan scientific sampai pada arsitektur. Proyeksi aksonometri menjadi tenar oleh kemampuannya mengkomunikasikan objek tiga dimensi menjadi dua dimensi. Proyeksi ini tidak kehilangan ketepatan ukuran namun juga tetap mempertahankan kedalaman (walau hanya ilusi semata). Rasional dan presisi.

 

Yang Tidak Representatif

“Karya seni, terlepas dari medium dan cara penyampaian, perlu memperlihatkan esensi keberadaan diri (being) dan kehadiran yang tidak tampak (the invinsible).” Gadamer (1986)

Tampak ada keterkaitan antara bangunan dengan tempat pada frase “keberadaan diri”. Sedangkan yang kerap tidak tampak pada gambar selain lokalitas adalah aspek sosial; meliputi penghuni. Satu dua figure manusia dalam gambar-gambar aksonometri (juga proyeksi ortografis yang lain) sekedar mempermudah merasakan ukuran ruang. Ketepatan dimensi. Objektif.

 


Maka,

Dengan asumsi arsitek tidak hanya melihat bangunan secara teknis, perlukah arsitek bentuk representasi yang lain?

 

Daftar Pustaka

Evans, R. (1995). The Projective Cast. Cambridge: MIT Press

Gadamer, Hans-Georg. (1986). The Relevance of The Beautiful. Cambridge: Cambridge University Press

merriam-webster.com, diunduh pada 24 Maret 2013

Mindeguia, Francisco M. Axonometry Before Auguste Choisy. Catalunya: Universitat Politecnica de Catalunya

Perez-Gomez, Alberto dan Louise Pelletier. Architectural Representation beyond Perspectivism. (tempat): MIT Press on behalf of Perspecta

Weston, Richaed. (2012). ‘Idea no.70 Axonometric Projection’, 101 Ideas that Changed Architecture. London: Laurence King Publishing

2 Comments »

  1. posting yang menarik ,karena disini sebagai mahasiswa arsitektur diminta berfikir kembali mengenai ketepatan penggunaan aksonometri sebagai salah satu media untuk merepresentasikan arsitektur
    namun saya ingin bertanya, anda menulis bahwa “Proyeksi aksonometri ini tidak kehilangan ketepatan ukuran namun juga tetap mempertahankan kedalaman (walau hanya ilusi semata). Rasional dan presisi.”, nah pertanyaan apakah aksonometri yang anda maksud akan sama menghasilkan kedalaman yang hanya ilusi semata terhadap semua media, alat, dan metode yang membentuk aksonometri tersebut ?
    lalu, bagaimana menentukan aspek rasional dan presisi terhadap kedalaman dari gambar aksonometri sedangkan hal tersebut adalah ilusi ?
    terimakasih

    Comment by alfoadrazamdekha — March 27, 2013 @ 21:03

  2. Terima kasih kembali, Alfo.

    Disebut sebagai ‘ilusi’ karena ‘kedalaman’ yang didapat tidak seperti apa yang terlihat di mata atau yang dapat ditangkap oleh kamera. Gambar yang menyerupai tampilan itu adalah perspektif. Hanya saja, sulit mengukur dengan ‘pasti’ sebab ada satu atau lebih titik hilang. Benda yang jauh akan terlihat lebih kecil dibanding benda yang dekat. Tak peduli walaupun ukuran mereka sama. Ini yang menyulitkan arsitek untuk mengukur dengan ‘pasti’.

    Lebih lanjut dalam essay, saya membahas upaya seniman menggunakan proyeksi dan lainnya untuk memberikan ‘pengalaman arsitektur’ yang berbeda. Pelbagai proyeksi orthografis dapat direkayasa sehingga dapat mengurangi kelemahan gambar-gambar tersebut.

    Aspek rasional dan presisi didapat bila arsitek dapat menggambarkan bangunan dengan skala dan ukuran sama dengan yang terbangun. Mengingat gambar ini tenar pada era moderen. Rasional sama dengan perhitungan matematis. Pemaksaan menggunakan ukuran yang tepat ini yang menyebabkan terjadi distorsi pada gambar. Yang kemudian disebut sebagai ilusi kedalaman.

    Comment by wayanjatasya — March 29, 2013 @ 23:16


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: