there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

Menentukan Ukuran Celana dengan Menggunakan Proporsi Leher dan pinggang

Filed under: architecture and other arts — alhafizi @ 04:00
Tags: ,

Image

Dewasa ini sudah begitu banyak literatur dan media yang memaparkan tentang proporsi tubuh manusia dengan geometri dan golden ratio atau golden mean. Namun terbersit pertanyaan di dalam benak kita bagaimana kita memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari?  Mungkin saja kita pernah berniat untuk membeli celana tetapi tidak tersedia tempat mencoba atau fitting room di tempat tersebut, misalnya saja di toko pakaian bekas, garage sale, atau penjual pakaian di tengah atrium mall. lantas kita bingung bagaimanakah menentukan ukuran tanpa mencoba celana yang akan dibeli terlebih kita tidak ingat apa ukuran celana kita saat ini. Ada satu fenomena yang sampai saat ini dipercaya oleh beberapa orang terutama ibu-ibu yang gemar berbelanja pakaian, yaitu membandingkan lingkar pinggang dengan lingkar leher dimana pinggang adalah dua kalinya lingkar leher.

Image

Secara logika sederhana proporsi pinggan dan leher memiliki keterkaitan. Pada orang yang berpinggang kurus leher cenderung kurus dan pada orang yang gemuk leher pun cenderung gemuk. Berikut terdapat gambaran perbandingannya.

Image

Gambar diatas adalah perbandingan leher dan pinggul dari 3 jenis berat badan. Terlihat lingkar leher yang sesuai dengan klasifikasi beratnya.

langit langit indah

Sebenarnya selain fenomena pengukuran tersebut terdapat satu lagi fenomena mengukur celana yang lain, Yaitu dengan membandingkan panjang hasta (dari kepalan tangan hingga siku) sama dengan setengah lingkar pinggang.

Image

Hanya saja ada sedikit masalah penalaran pada metode ini. Mungkin untuk beberapa orang teknik perbandingan hasta ini berfungis.Tetapi, secara logika sederhana relevansi antara panjang hasta dengan lebar pinggul kurang cocok. Karena , bila pinggang melebar dikarenakan penggemukan atau penggunungan lemak lengan tidak lantas menjadi ikut panjang.

Begitulah bagaimana proporsi tubuh kita dapat kita manfaatkan dalam kehidupan sehari hari sebagai sarana pembanding pakaian yang akan kita gunakan. Mungkin kedepannya akan ada teknik-teknik pengukuran dengan metode yang mirip seperti ini untuk berbagai macam outfit seperti sepatu, kaos kaki, kemeja, rok dan lain sebagainya. Apakah memang proporsi tubuh dapat menjadi patokan yang sebenarnya? ataukah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi? atau mungkin bahkan hanya sekedar mitos belaka?

sumber :

http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Obesity-waist_circumference.PNG (diakses 26 Maret 2013)

http://owbegitu.blogspot.com/2011/07/mengukur-celana-tanpa-harus-mencoba.html (diakses 26 Maret 2013)

http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=4318 (diakses 26 Maret 2013)

http://www.goldennumber.net/human-body/ (DIAKSES 27 Maret 2013)

3 Comments »

  1. Cukup menarik bahwa anda mengangkat topik berhubungan dengan aktivitas sehari-hari manusia. Seperti memilih ukuran celana, saya lumayan sering melihat dan mengalami banyak orang yang memilih celana di pusat perbelanjaan seperti cara yang disebutkan di atas (menggunakan panjang hasta tangan). Namun ketika saya mengalami sendiri, saya kurang bisa melihat hubungan antar keduanya. Ketika mencoba ukuran panjang hasta pada pinggang celana, akan ada perbedaan dari segi kerapatan (muat, tapi agak rapat sehingga celana bisa tersangkut, atau muat namun masih ada rongga sehingga celana akan jatuh tanpa dipegang). Hal kecil ini menurut saya cukup signifikan jika mengacu pada ukuran celana.

    Selain itu, ada kecenderungan bentuk tubuh yang berbeda jika dilihat dari jenis kelamin. Wanita akan cenderung memiliki bentuk seperti pear, dengan bagian paha cenderung lebih besar dibanding perut, karena pengaruh hormon esterogen. Sementara pria akan cenderung memiliki bentuk tubuh seperti apel dengan bagian perut yang lebih besar, karena pengaruh hormon testosteron. Selain itu, unsur genetik tak bisa dilupakan dan berpengaruh pula pada bentuk tubuh serta kecenderungan tubuh menyimpan lemak.

    Mungkin, bisa ditambahkan lagi bahasan mengenai kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa mempengaruhi ukuran celana🙂

    Comment by ayupratitha — March 27, 2013 @ 09:21

  2. Saya tertarik untuk mencoba menjawab pertanyaan anda

    “Apakah memang proporsi tubuh dapat menjadi patokan yang sebenarnya?” menurut saya jawabannya adalah ya, bisa.

    Seperti yang sudah kita ketahui bahwa didalam tubuh manusia terdapat berbagai perbandingan golden ratio. Jadi jelas bahwa proporsi tubuh dapat dijadikan sebagai patokan yang valid. Karena proporsi ini sifatnya perbandingan (bukan berupa angka pasti) sehingga berlaku pada tubuh dengan beragam ukuran.

    Tapi dari berbagai data yang saya baca, saya menemukan bahwa angka-angka golden ratio ini hanya diterapkan pada bagian bagian tubuh yang bisa diukur melalui panjang tulang.

    contoh :
    .Panjang dari pangkal lengan ke sikut/ sikut ke ujung jari.
    .Panjang dari ubun-ubun ke dagu/ ubun-ubun ke sambungan kepala leher.
    .Panjang Lutut ke kaki/ perut ke lutut
    .dsb

    Jadi saya menyimpulkan bahwa ketika kita bicara tentang proporsi tubuh manusia, kita sebenarnya sedang membicarakan perbandingan panjang tulang,bukan perbandingan massa otot ataupun kadar lemak. Tulang yang menjadi patokannya.

    Maka ketika akan menggunakan proporsi sebagai patokan, akan valid ketika kita bicara soal panjang atau lebar, bukannya diameter. Hal ini terjadi karena pada ukuran diameter (seperti lingkar pinggang, lingkar lengan, lingkar paha, dsb) tidak mengalami pertumbuhan yang konsisten seperti halnya tulang. Penambahan ataupun pengurangan ukuran diameter ini bisa kita intervensi dengan relatif mudah.

    Jadi untuk mengukur diameter, seperti pada contoh celana yang anda bawa, memang berada diluar ranah jangkau proporsi tubuh sebagai patokan valid (mengacu pada proporsi tubuh merupakan perbandingan rangka).Sebenarnya bisa saja sih, menggunakan proporsi tubuh sebagai patokan untuk mengukur pinggang dll, asal tubuh dalam keadaan normal dan ideal (memiliki indeks massa tubuh dalam batas ideal).

    Comment by thazageorly — March 27, 2013 @ 11:22

  3. Tema yang anda angkat dalam postingan ini menarik sekali menurut saya.

    lalu saya jadi terpikir mengenai cara pengukuran unik lainnya yang juga menggunakan bagian dari anggota tubuh, seperti satuan feet (kaki), jengkal, dan lainnya.
    seperti yang terjadi saat banjir melanda Jakarta beberapa waktu lalu. DI seluruh media pemberitaan menggunakan satuan ukuran tidak baku seperti , “saat ini banjir di bundaran HI sudah mencapai betis orang dewasa” atau “kini air telah surut hingga semata kaki”. Namun lucunya, semua orang yang mendengar berita tersebut langsung tahu dan bisa membayangkan seberapa tinggi kah air tersebut walaupun tidak melihatnya secara langsung. justru dengan memberitahukan ketinggian air dengan satuan sentimeter atau meter akan lebih sulit dibayangkan seberapa tingginya.

    bagaimana menurut anda mengenai hal ini?🙂

    Comment by nuvilailani — March 29, 2013 @ 23:16


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: