there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

Sense of Order dalam Gambar Tangan Anak-Anak

Filed under: architecture and other arts — christieayu @ 21:54

Pernahkah Anda melihat gambar tangan anak-anak? Apa pendapat Anda ketika melihatnya? Berantakankah? Anehkah? Lucukah? Indahkah? Kalau saya, saya merasa gambar-gambar tersebut sangat menyenangkan. Sungguh menarik melihat gambar tangan anak-anak. Gambar-gambar tersebut memiliki ragam ekspresi yang sering kali membuat saya tersenyum, mengingat bagaimana dulu saya pun pernah membuat hal yang serupa. Saya mengingat bagaimana dulu saya membuat pemandangan dengan dua gunung bersebelahan dengan matahari di antaranya, lalu ada sawah terbentang, jalanan aspal yang berkelok-kelok, dan burung-burung terbang di udara, terkadang saya tambahkan pula saung pak tani di tengah-tengah sawah tersebut. Kadang, ketika tidak ada kertas atau media apapun untuk menggambar, dinding-dinding rumah sering saya jadikan tempat berkarya alias tempat mencoret-coret.

Menggambar adalah suatu aktivitas mental, bukan hanya aktivitas motorik. Gambar tangan anak-anak yang sering kali terlihat seperti corat-coret belaka ternyata mengandung berbagai makna di dalamnya. Mungkin memang terlihat berantakan, namun gambar-gambar ini sangat kaya akan ekspresi dan emosi. Bahkan dari apa yang terlihat berantakan dan tidak beraturan ini, dapat kita lihat adanya sense of order yang dimiliki oleh si anak yang menggambar. Misalnya dalam gambar manusia, bagaimana si anak menempatkan mata, hidung, dan mulut, rambut, leher, dan badannya, menunjukkan bagaimana kemampuan anak tersebut memahami konsep komposisi, meskipun ia melakukannya tidak secara sadar.

6417678-children-s-drawing-colour-pencils-on-a-white-paper 6417676-children-s-drawing-colour-pencils-on-a-white-paper

  ag1ichildren

Untuk gambar pemandangan misalnya, kemampuan anak dalam memahami jarak dan proporsi 3 dimensi pun dapat terlihat. Dalam proses menggambar ini kemampuan anak untuk merekam suatu objek dan mengkomposisi warna pun mulai dilatih. Kadang imajinasi sang anak pun cukup mengagetkan kita yang melihatnya. Emosi sang anak pun terasa mengalir jujur lewat gambar yang dihasilkannya -saya sangat menyukai bagaimana anak-anak kecil menggambar wajah orang dengan senyum yang sangat mengembang-. Oleh sebab itu, proses menggambar bagi anak-anak perlu dikembangkan karena menggambar adalah proses pembelajaran yang penting dan menunjukkan juga sejauh mana anak-anak belajar.

dessin-dep images

Berdasarkan suatu sumber, ternyata sense of order memang diasah dan dibangun sejak lahir, namun masa keemasannya berlangsung ketika berusia 18 bulan sampai 2 tahun, dan terus berlangsung sampai usia 5 tahun. Montessori berpendapat bahwa pada masa ini manusia memiliki sense of order yang sangat kuat, di mana mereka belajar banyak tentang dunia mereka dan menghimpun segala informasi yang mereka dapatkan tersebut melalui order, yang kemudian muncul ketika mereka menggambar. Jadi jangan pernah remehkan gambar anak-anak. Gambar mereka lahir dari kejujuran akan apa yang mereka ketahui dan rasakan.

childs drawing children_rights_image

Maestro lukis dunia Pablo Picaso pernah berujar, “Kita tidak perlu mengajari seorang anak bagaimana caranya melukis, tetapi pada hakikatnya justru kitalah yang harus belajar atau mengambil pelajaran darinya”. Nah mungkin kita bisa kembali melihat gambar-gambar kita sewaktu kanak-kanak dahulu. Adakah sense of order yang baik dari gambar-gambar tersebut? Adakah yang bisa kita pelajari dari gambar-gambar tersebut? Mungkin gambar-gambar itu bisa menginspirasi kita dalam berarsitektur😀

 

Sumber:

http://www.mpiwg-berlin.mpg.de/en/news/features/feature11. (diakses 27 Maret 2013)

http://gmc-bekasi.blogspot.com/2011/04/mengapa-anak-perlu-belajar-menggambar.html. (diakses 27 Maret 2013)

http://montessorimotherload.wordpress.com/tag/sense-of-order-in-children/. (diakses 27 Maret 2013)

http://www.dailymontessori.com/sensitive-periods/sensitive-period-for-order/. (diakses 27 Maret 2013)

http://www.satulingkar.com/detail/read/8/1819/. (diakses 27 Maret 2013)

http://www.ohio.edu/visualliteracy/JVL_ISSUE_ARCHIVES/JVL22%282%29/JVL22%282%29_pp.107-128.pdf. (diakses 27 Maret 2013)

6 Comments »

  1. saya selalu merasa ada yang special dari gambar berantakan anak-anak, ternyata memang ada makna di dalamnya. sense of order memang dapat dilatih dari kecil. Ingat kegiatan mewarnai saat tk? saya sangat menyukainya dibanding menggambar. mungkin peminatan yang saya lakukan waktu kecil ikut berkembang dalam sense of order saya, dimana sketsa saya cenderung buruk dan pemilihan komposisi warna saya yang lebih terdevelop. tetapi sebagai calon arsitek saya harus mulai lebih giat dalam membangun sense of order dalam menggambar :’D

    Comment by titasarasvati — March 29, 2013 @ 10:35

  2. Jika dilihat lebih lagi, sebenarnya gambar yang baik belum tentu gambar yang bagus dengan tingkat skill yang luar biasa seperti teknik me- render gambar yang banyak dilakukan orang jaman sekarang ini. Skill yang hebat banyak dijadikan standar secara sadar atau tidak sadar oleh orang kebanyakan. Padahal saya pikir, tidak semua gambar yang dihasilkan dengan luar biasa itu bagus. Sebenarnya gambar – gambar yang di gambar oleh anak – anak kecil yang telah anda paparkan diatas yang menurut saya gambar yang baik. Bagaimana gambar itu ter- deliver dengan baik atau saya biasa menyebutnya gambar itu berbicara kepada yang melihatnya akan isi / ide yang ingin disampaikan oleh sang pelukis. Contoh saja ada beberapa arsitek yang memiliki gambar tangan tidak baik tetapi orang mengerti gambar yang ia maksud, yah dapat dikatakan bagaimana gambar itu adalah ‘gambar cerdas’. Selama ini banyak orang berlomba – lomba mempercantik gambar tangan mereka tanpa mereka sadari bahwa mereka tidak ‘menyelipkan’ rasa didalamnya hanya bentuk visual saja. Gambar” semasa kecil inilah yang membuat kita menyadari bahwa rasa yang ingin disampaikan harus terdeliver melalui gambar yang cerdas tanpa basa basi. Saya sebagai mahasiswa arsitektur melihat bahwa sense of order yang dilakukan saat saya kecil lebih jujur dan men – deliver apa yang saya rasakan dan dilihat jika dibandingkan sekarang :”D

    Comment by marinisd — March 29, 2013 @ 11:33

  3. Terimakasih atas postingannya..
    Tulisan ini menjadi refleksi bagi diri saya. Menggambar menjadi hal yang familiar kita lakukan dalam perkuliahan arsitektur.
    Namun, terkadang saya sering meremehkan kekuatan sebuah sketsa.
    Padahal ketika saya kecil, coretan seperti apapun yang saya hadirkan dalam gambar saya selalu memiliki makna. Misalnya ketika menggambar jendela, banyak detail yang bermakna. Ada motif hati di gorden yang meski lebih terlihat seperti polkadot berantakan memaksudkan bahwa yang saya gambar adalah jendela kamar mama yang saya sayangi. Posisi jendela terhadap dinding rumah sesuai dengan logika dan keadaan sesungguhnya rumah saya. Ketika menggambar bunga, saya warnai kelopaknya dengan warna kesukaan masing-masing anggota keluarga saya, dan sebagainya.
    Pertanyaan yang muncul di benak saya sekarang adalah : Masih samakah saya seperti dulu? Apakah tiap goresan di sketsa yang saya buat juga bermakna?
    Atau sketsa saya kalah dengan gambar anak kecil?
    Semoga sense of order kita sebagai mahasiswa arsitektur terus terasah.🙂

    Comment by shiltafinella — March 29, 2013 @ 16:50

  4. Berbicara mengenai gambar anak-anak dan sense of order sebenarnya adalah hal yang menarik.
    Sama halnya ketika kita membicarakan bagaimana anak-anak bersikap dalam kesehariannya. Dua hal tersebut sebenarnya memiliki kaitannya, mengingat anak kecil pasti akan melakukan sesuai dengan apa yang ia lihat dan kemudian diolah di otaknya.
    Dalam hal menggambar, sebenarnya anak kecil mampu menangkap dan merekam objek dalam otak mereka lebih baik dibandingkan orang dewasa. Mengapa? Secara logika, anak kecil dengan otaknya yang masih berkembang tentu saja masih dalam keadaan polos ibarat kanvas seorang pelukis yang siap ditumpahkan berbagai macam cat oleh sang pelukis. Oleh karena itu, anak kecil akan merekam sesuai dengan kenyataan, apa adanya tanpa ada manipulasi. Berbeda dengan orang dewasa yang terkadang lebih ‘mencoba’ untuk kreatif dengan memanipulasi apa yang ada. Ya, menurut saya sekarang ini kata kreatif sendiri sudah menjadi hal yang tidak alami lagi melainkan ada hal manipulatif di dalamnya untuk terlihat kreatif. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada anak kecil.
    Mengenai sense of order dalam gambar mereka? Menurut saya, anak kecil sudah memiliki logika akan sense of order tersebut, namun seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mereka menggunakan sense of order alami mereka berdasarkan kenyataan yang ada.
    Berbicara mengenai keindahan akan sebuah gambar seperti yang dikatakan marinisd, saya setuju bahwa kita tidak bisa mengatakan gambar yang baik adalah gambar yang bagus dan indah. Menurut saya, gambar yang baik adalah gambar yang dapat menyampaikan ‘cerita’ di balik gambar tersebut dibuat.
    Jadi sebenarnya, menurut saya gambar anak kecil adalah gambar yang jujur dan poin jujur inilah yang sebenarnya harus kita pelajari dari gambar anak-anak tersebut.

    Comment by verairawan — March 29, 2013 @ 17:49

  5. Saya tertarik dengan posting mengenai sense of order anak kecil ini, hal ini sering menimbulkan pertanyaan pada diri saya sendiri, kenapa ya justru saya merasa lebih senang dan bahagia untuk menggambar ketika masih kanak-kanak dulu. Dan menggambar sama sekali bukanlah hal yang membosankan (pada waktu itu). Ketika saya refleksikan kembali, yang saya temukan dan pelajari adalah ternyata kebebasan berekspresi yang didukung tanpa tekanan dari apapun dan kejujuran dalam memahami sesuatu (tidak sok tahu, mereka-reka, tapi melihat apa yang ada), serta tujuan sederhana yang hanya merupakan usaha untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, itu sudah dapat memperlihatkan keindahan yang sebenarnya, dan itu akan memberikan kesenangan tersendiri, walaupun menurut saya komposisi yang dihasilkan anak kecil terlihat aneh dan sangat unik (terlepas apakah itu bagus atau tidak). Hmmm, dari sini saya berfikir, sepertinya keindahan tidak dapat diukur dari komposisi dan proporsi yang baik. Mungkin lebih dalam dari sekedar komposisi dan proporsi, lebih jauh dari sekedar yang terlihat secara visual, setuju dengan verairawan, apakah mungkin sebenarnya keindahan dapat muncul dari ketulusan dan kejujuran dalam menyampaikan/ mengkomunikasikan sebuah makna kepada orang lain ataupun diri sendiri.

    Comment by ruthconnie — March 29, 2013 @ 18:53

  6. iya loh, saya sendiri merasa sekarang lebih sedikit berekspresi dan mengeksplorasi dalam menggambar dibandingkan waktu masih kecil dulu, padahal gambar saya seperti coret-coretan (masih ada di salah satu tembok di rumah saya, hehe). ya, menurut saya, perasaan dan logika adalah dua hal yang harus disatukan dalam membuat sebuah gambar yang baik. seperti kata project 2 PA 3 kemarin, passion adalah hal penting dalam sebuah karya. terimakasih komennya🙂

    Comment by christieayu — March 29, 2013 @ 21:13


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: