there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

Shoe Lacing, Simetri di dalam Fungsionalitas dan Estetika

Filed under: everyday geometry — ayuanastasya @ 23:06

Penggunaan alas kaki bertali, contohnya sepatu kets, sebenarnya sudah lama diperkenalkan oleh bangsa Romawi dengan sandal gladiatornya. Pada sandal gladiator ini, tali yang dijadikan suatu kesatuan dengan si alas kaki, lalu dililitkan ke kaki dengan bentuk silang-silang yang berulang hingga ke pergelangan kaki. Hal ini membuat alas kaki ‘menempeli’ kaki dengan sangat baik, sehingga dapat menjalankan tugas mengalasi kaki dengan baik pula. Barangkali faktor kenapa Romawi seringkali tak terkalahkan saat perang ada pada sandalnya. Mereka bisa fokus berperang tanpa khawatir sandalnya lenyap saat mereka berlari dan sibuk beradu otot. Bentuk persilangan tali ini yang kemudian diadopsi menjadi metode pengikatan tali sepatu yang paling dasar pada sepatu kets.

Image

Sandal Gladiator Bangsa Romawi
Sumber gambar: http://miftahulxiimm1.blogspot.com/2012/08/sejarah-sandal.html

Metode mengikat sepatu ini kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kelebihan yang berbeda-beda secara spesifik, ada yang cenderung mengefisiensi waktu dan tenaga saat memakai atau melepaskannya tali-talinya, ada metode yang membuat jalinan tali sepatu ini menjadi lebih kuat dan tidak gampang lepas, ada metode yang hanya nyaman digunakan untuk kegiatan tertentu, ada metode yang hanya cocok jika digunakan hanya oleh tali yang panjang begitupula sebaliknya. Kemudian ada metode yang memungkinkan penggunanya mengetatkan maupun melonggarkan ikatan tanpa harus membongkar seluruh ikatan, ada metode ikatan yang meminimalisir resiko tersandung akibat tali sepatu, juga ada metode yang menyesuaikan bentuk dan jumlah lubang tali sepatunya sendiri. Sepatu dengan 3, 4, 5, 6, 7, bahkan 8 pasang lubang tali memungkinkan variasi pola tali sepatu yang berbeda.

Metode pengikatan  sepatu ini juga mampu menggambarkan karakter  fashion masing-masing individu. Ada yang bersusah payah dan menghabiskan waktu lama untuk mengeksplorasi bentuk shoe lacing yang unik dan berbeda dari mayoritas pengguna sepatu bertali lainnya, ada yang tidak nyaman menjadi pusat perhatian karena memakai shoe lacing yang berbeda sehingga membiarkan susunan tali sepatunya seperti baru dibeli, pasrah mengikuti bentuk tali dari si pramuniaga toko. Ada pula yang tidak peduli sama sekali, syukur masih pakai sepatu.

Namun apapun alasan dibalik bentuk ikatan tali sepatu yang berbeda-beda ini, setidaknya ada persamaan prinsip ikatan tali sepatu yang digunakan di metode pengikatannya yang berbeda-beda.

Masih ada ratusan cara lain mengikat si tali sepatu ini, dan pada masing-masing jenis ikatan, terlihat adanya persamaan pola persilangan tali mengikuti ritme tertentu yang teratur repetisinya. Selain itu, pada setiap pola, terlihat ada semacam sumbu simetri yang membuat pola ikatan tali di sisi kiri sepatu seakan merefleksikan pola ikatan tali di sisi kanan sepatu.

Image

Beberapa metode pengikatan tali sepatu dan simetri di dalamnya.

Ketiga puluh contoh ikatan tali sepatu di atas dipilih secara acak dari situs web yang saya jadikan rujukan. Saya juga menambahkan garis putus-putus berwarna merah untuk menunjukkan transformasi geometris yang terjadi pada tiap-tiap jenis ikatan tali sepatu. Transformasi yang terjadi pun bermacam-macam, mulai dari repetisi susunan tali, hingga aspek simetri, baik terhadap sumbu melintang (sumbu X) maupun terhadap sumbu membujur (sumbu Y). Namun satu pola yang pasti terjadi pada setiap metode ikatan tali sepatu ini adalah simetris terhadap sumbu membujur (sumbu Y). Hal ini terjadi karena saat mengikat tali sebelah sepatu, kita hampir selalu menggunakan dua tangan untuk mempolakan sebuah tali pada dua sisi lubang tali sepatu yang berbeda sekaligus secara kompak, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Conscious or unconsciously, hal ini menciptakan kesimetrisan geometri tersendiri.

Image

Langkah-langkah mengikat tali sepatu metode Lattice, Ladder, dan Zipper Lacing
sumber: http://www.fieggen.com/shoelace

Selain mampu menghasilkan pola yang berbeda-beda, metode-metode pengikatan tali sepatu baru yang unik-unik ini tetap mengikuti kekompakan penyilangan tali pada tiap-tiap posisi lubang yang sejajar, sehingga tetap tercipta kekuatan layaknya sandal gladiator. Sehingga walau bentuk penyilangan talinya tidak mengikuti pola standar huruf X seperti sandal tersebut, metode repetisi pola penyilangan tali yang diadopsi pada pengikatan tali sepatu ini terbukti mampu menahan sepatu aman pada tempatnya.

Namun pola pengikatan tali sepatu ini juga sebaiknya ditutup dengan simpul, yang memberi kuncian pada panjang tali sepatu yang tersisa agar pengguna tidak  menginjak dan terpeleset tali sepatunya sendiri. Dan sekali lagi, conscious or unconsciously, simpul ini juga mayoritas dibuat simetris.

Image

Metode simpul tali sepatu metode Two Loop Knot dan Turqoise Turtle Knot
Sumber gambar: http://www.fieggen.com/shoelace

Lalu apakah pola-pola ikatan simetris dan repetisi ini akan selalu menjamin sebuah alas kaki yang nyaman, mudah diatur ulang keketatan talinya tanpa harus membongkar keseluruhan ikatannya, serta lebih efisien waktu dan tenaga dalam pemasangan dan pembongkarannya, ataukah untuk memenuhi unsur estetika semata?

 

 

Referensi:

http://www.encyclopedia.com/topic/Shoelace.aspx

http://www.fieggen.com/shoelace/

2 Comments »

  1. sebuah tulisan yang menarik sekali untuh dibaca
    namun di akhir tulisan ini saya tertarik mengenai sebuah simpul tali yang menutup dan mengunci cara mengikat tali sepatu.
    saya ingin bertanya apakah tanpa adanya simpul tali yang berfungsi seperti disebutkan pada tulisan diatas, dapatkah sebuah alas kaki memberikan rasa nyaman bagi penggunanya?
    kemudian juga disebutkan diatas terdapat sumbu x dan sumbu y dalam pola mengikat tali sepatu, namun yang ingin coba saya pertanyakan apakah simpul tali juga berfungsi sebagai sumbu z-nya yah? (mungkin pertanyaan bodoh)

    tulisan ini juga memberikan pemahaman baru kepada saya mengapa banyak sepatu olah raga menggunakan tali untuk mengikatnya.
    terima kasih

    Comment by anugrahfikriyanto — March 29, 2013 @ 16:11

  2. wah terima kasih banyak masukannya😀 membuka pikiran sekali akan kemungkinan simetri di sumbu z.
    Tentu saja bisa, toh pada dasarnya shoe lacing ini dilakukan secara nyata, 3 dimensi. Kalau begitu, maka bisa jadi sumbu z pusat untuk menentukan kesimetrisan si jalinan tali sepatu ini akan ada pada permukaan sepatu yang memiliki lubang-lubang, yang menjadi pembatas antara jalinan tali yang “terlihat” dan jalinan tali yang “tersembunyi”.
    Namun demikian, tidak semua metode memiliki simetri di sumbu z ini. Beberapa metode yang saya lihat memiliki kemungkinan simetri secara refleksi, seperti metode double helix (http://www.fieggen.com/shoelace/doublehelixlacing.htm) dan metode twistie (http://www.fieggen.com/shoelace/twistielacing.htm). Namun simetri pada sumbu z ini juga didapat jika kita mengabaikan tali yang berwarna abu-abu pada diagram, yang merupakan awal mula si tali ini “menempeli” si sepatu.
    Atau metode sawtooth, dimana terdapat simetri namun dengan sedikit rotasi?
    Lalu mengenai simpul tali, ada beberapa fungsi yang ditawarkan. Pertama, untuk menghabiskan panjang tali sepatu yang tersisa, agar meminimalisir kemungkinan tali ini menjuntai ke tanah lalu terinjak kaki.
    Kedua, untuk mengunci ‘shoe lace’ agar tetap ketat di kaki sesuai keketatan yang kita inginkan, meminimalisir kemungkinan ikatannya yang melonggar seiring aktivitas kita. Tapi saya pribadi jika terburu-buru pergi akan membiarkan saja ikatan tali tersebut tanpa simpulan dan disisipkan ke sela-sela sepatu. Pada situs http://www.fieggen.com/shoelace/lacingcomparison.htm disebutkan beberapa metode yang memiliki kriteria “Stronger binding (harder to loosen) AND Less tension on knot (no jamming)”😀 Metode-metode itu memang membuat tali sepatu tidak gampang longgar / lepas, walaupun tanpa simpul, tetapi jadi sangat ribet jika kita harus melepaskan ikatannya.
    metode pengikatan tali sepatu ini banyak eksplorasinya untuk mengetahui kecocokan dengan pakaian, kenyamanan, kekuatannya dan fleksibilitasnya. Mirip-mirip perancangan arsitektur😀 Jadi nyaman atau tidak, mungkin kembali lagi ke pribadi dan prioritas masing-masing individu penggunanya.

    Comment by ayuanastasya — March 31, 2013 @ 08:19


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: