there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

Unconscious Beauty: Ombre Hair

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — yohanasilitonga @ 11:23
Tags: , , ,

Melihat fenomena gaya rambut yang sedang in akhir-akhir ini saat sedang mempelajari geometri membuat saya berfikir, mengapa gaya rambut seperti itu bisa sangat disukai orang ya? Padahal tidak simetris, terlihat tidak rapi, dan boro-boro bicara mengenai golden section disana. Tentu ada sesuatu yang membuat gaya rambut ini menarik, yang membuatnya indah tanpa mengenal prinsip-prinsip mengenai keindahan yang sering kita dengar.

Ombre1 Hal yang sangat saya sadari ialah: Kontemporer; tidak ikut aturan, beda, itu bagus. Kini orang-orang selalu berusaha untuk menjadi berbeda dengan yang lain, tidak ingin disamakan, ingin terlihat unik, ingin menjadi pencetus, terutama anak muda. Keinginan untuk tampil berbeda dan lebih baik dari yang lainnya membuat seseorang mencoba-coba tanpa menghiraukan apa yang lumrah di sekitarnya.

Gaya rambut Ombre dimana dilakukan pewarnaan bergradasi di bagian bawah rambut merupakan salah satu gaya yang saya coba, tanpa pergi ke salon karena takut hasilnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Memangnya apa yang saya inginkan? Saya ingin gradasinya tepat, tidak terlihat freak, warnanya tidak norak, proporsinya dengan rambut saya tepat, dsb. Apa yang saya lakukan sama sekali tidak melibatkan pemikiran mengenai golden section atau teori lainnya, yang saya lakukan hanya sekadar meraba-raba, mengira-ngira apakah sudah cukup perbedaan gradasi yang saya buat, apakah tidak terlalu naik, dsb. Secara tidak saya sadari saya telah melakukan pengukuran proporsi demi mencapai proporsi ideal dan keindahan.

Dengan pencarian ke berbagai sumber di internet saya menyukai jenis ombre ketika ia memiliki perbandingan 1/8 dengan keseluruhan panjang rambut, sehingga benar-benar hanya pada bagian ujung rambut saja terjadi gradasi. Sehingga ketika melakukan bleaching rambut saya terus berusaha bagaimana caranya agar terbentuk 1/8 bagian rambut yang sangat terang di bagian bawah.

Ombre4

BleachProgress

Dimulai dengan bleach ½ bagian rambut, lalu ¼ bagian rambut, lalu 1/8 bagian rambut. Demikian saya memperoleh warna yang saya harapkan.

Mencoba menghubung-hubungkan dengan golden ratio dan fibonacci numbers, saya melakukan pengukuran kecil-kecilan..

zi zu za ze

Saya menemukan bahwa gaya rambut ombre tidak perlu dihubungkan dengan prinsip-prinsip proporsi sempurna seperti golden ratio, fibonacci numbers. Keindahan dapat diperoleh melalui perasaan, sehingga keindahan yang terbentuk merupakan unconscious beauty, meski tidak ada salahnya juga jika melakukan ombre dengan menggunakan prinsip-prinsip tadi. Segalanya kembali lagi kepada selera masing-masing🙂

4 Comments »

  1. Topik yang dibahas menurut saya sangat menarik, tidak terpikirkan oleh saya bahwa dalam pengecatan rambut yang umumnya saya tahu, yaitu dilakukan keseluruhan rambut, atau sebagian saja seperti teknik highlight, namun teknik ombre pun dapat dilakukan dengan teori golden ratio, walaupun balik lagi ke empunya rambut, selera masing-masing mau sebanyak bagian apa yang ingin di ombre. Tapi apakah ada pengaruhnya dari bagian rambut yang di cat dengan teknik ombre ini berdampak kepada tampilan proporsi wajah kita, kadang makeover rambut dapat membuat tampilan kita jadi lebih baik atau malah sebaliknya.

    Comment by sitifitriyanti — March 27, 2013 @ 18:12

  2. Menurut saya penelaahan anda tentang rambut ombre yang sekarang sedang marak cukup menarik. Anda mencoba untuk “bersentuhan” langsung dengan gaya tersebut, terlebih lagi dengan melakukan proses bleaching itu sendiri. Namun saat saya sampai pada bahasan pengukuran kecil-kecilan yang anda lakukan, dan memberikan masing-masing 3 komentar pada 4 foto rambut wanita yang ada diatas, saya merasa kurang setuju pada komentar nomor 3 yang menyatakan semua rambut tersebut “indah”. Unsur keindahan adalah bersifat subjektif sehingga pada saat saya melihat beberapa foto rambut wanita tersebut tidak semua yang anda katakan indah juga saya pikir indah. sehingga dari pernyataan anda tersebut, kesan yang saya tangkap adalah anda memaksakan orang lain mengakui bahwa keempat rambut tersebut indah dengan segala argumen yang anda jabarkan. walaupun sebenarnya saya juga tidak menganggap salah pernyataan anda tentang tidak perlunya gaya rambut ombre dihubungkan dengan prinsip-prinsip proporsi sempurna seperti golden ratio, fibonacci numbers. namun bagaimana bila kita mengacu konsep indah pada salah satu quotes yang pernah saya dengar di kelas geometri beberapa pekan lalu “beauty depends on exact proportion”? :))

    Comment by letalestari — March 27, 2013 @ 18:21

  3. sitifitriyanti:
    wah saya juga baru terpikirkan, mungkin saja akan ada dampaknya pada penampilan wajah kita, mengingat model rambut saja sangat berpengaruh, mungkin penggunaan warna dan proporsi pewarnaan rambut juga dapat memberi pengaruh seperti pemberian shade yang berbeda kepada wajah.

    letalestari:
    masukan yang baik sekali😀 saya melakukan pengukuran ‘indah’ itu memang sangat subjektif hanya sesuai dengan selera saya, tapi memang tidak menutup kemungkinan orang lain tidak sependapat dengan saya.
    terima kasih juga sudah mengingatkan: beauty depends on exact proportion, saya menjadi teringat mengenai tidak ada keindahan tanpa proporsi yang baik (saya lupa kalimat lengkap yg sebenarnya). Saya juga setuju mengenai proporsi yang baik akan memberikan keindahan, mungkin saya hanya ingin menekankan pada si golden ratio itu saja hehe, karena saya merasa golden ratio seakan sangat di’dewa’kan ketika berbicara mengenai proporsi.
    ada satu quote juga yang saya suka mengenai beauty dan proportion:
    “There is no exquisite beauty… without some strangeness in the proportion.” – Edgar Allan Poe
    Tidak bisa dipungkiri bahwa proporsi sangat mempengaruhi beauty, tapi proporsi yang bagaimana..🙂

    Comment by yohanasilitonga — March 28, 2013 @ 09:03

  4. Pembahasan yang menarik karena berkaitan dengan apa yang sedang in saat ini😀
    Namun yang menarik perhatian saya justru di bagian
    “Secara tidak saya sadari saya telah melakukan pengukuran proporsi demi mencapai proporsi ideal dan keindahan.” dan
    “Saya menemukan bahwa gaya rambut ombre tidak perlu dihubungkan dengan prinsip-prinsip proporsi sempurna seperti golden ratio, fibonacci numbers. Keindahan dapat diperoleh melalui perasaan, sehingga keindahan yang terbentuk merupakan unconscious beauty, meski tidak ada salahnya juga jika melakukan ombre dengan menggunakan prinsip-prinsip tadi.”.
    Saya jadi teringat di pembahasan di kelas Geometri mengenai ketika seseorang mengandalkan ‘insting’ dan perasaannya untuk membuat sesuatu terlihat indah. Ketika keindahan dan proporsionalitas selalu dikaitkan dengan golden ratio, apakah berarti seseorang secara tidak sadar berusaha untuk mendekati si golden ratio tersebut? Apakah setiap orang memiliki “subconscious golden ratio” ataukah memang hanya sekedar selera?
    Dan saya pun masih belum bisa menjawab pertanyaan saya sendiri.

    Comment by stellaajeng — March 28, 2013 @ 15:24


RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: