there’s something about geometry + architecture

March 29, 2013

Uma : Arsitektur Tradisional Mentawai Conscious atau Unconscious ?

Filed under: locality and tradition,process — anugrahfikriyanto @ 16:28
Uma : Rumah Besar Masyarakat Pedalaman Mentawai

Mentawai merupakan sebuah kepulauan yang terdiri dari beberapa gugus pulau. Pulau-pulau tersebut adalah antara lain, salah satunya adalah Siberut, Sipora dan Pagai. Sebagian masyarakat Mentawai terutama di Pulau Siberut masih merupakan masyarakat tradisional. Hal ini dikarenakan akses yang sulit untuk mencapai kedalam daerah tersebut. Banyak masyarakat di Pulau Siberut, jika masuk kedaerah pedalamannya masih menggunakan cara hidup yang masih tradisional. Termasuk tradisi dalam berarsitektur. Masyarakat asli Mentawai ini  hidup dan tinggal dalam rumah tradisional mereka. Mentawai sendiri mengenal beberapa sebutan rumah dalam keseharian mereka. Salah satunya adalah Uma, rumah besar. Uma dimiliki oleh keluarga besar yang terdiri dari beberapa anggota KSI.

Penulis berkesempatan mengunjungi salah satu daerah di pedalaman Mentawai di Pulau Siberut, yaitu Uggai. Di Uggai penulis melihat secara langsung bagaimana bentuk dari rumah yang disebut oleh masyarakat Mentawai sebagai Uma. Uma merupakan salah satu warisan arsitektur dari masyarakat Mentawai yang dipertahankan hingga saat ini. Ironisnya jumlah Uma di Uggai semakin berkurang akibat mulai masuknya usaha pemerintah.

Pembagian ruang pada Uma secara umum terbagi atas tiga bagian. Yakni bagian depan, tengah dan belakang. Bagian depan pada Uma terdapat sebuah teras yang disebut talaibo. Teras ini berfungsi untuk menyambut tamu yang akan datang Uma. Biasanya jika diadakan pesta keluarga, maka para sanak famili berkumpul diluar sebelum melakukan pesta maupun ritual di dalam Uma. Bagian tengah Uma merupakan wilayah yang terbagi tiga sama besar dan berfungsi untuk melakukan pesta dan ritual. Bagian tengah ini disebut juga tengan-uma. Dan bagian terakhir, bagian belakang Uma terdapat dapur dan disebut batsapo.

Yang menarik adalah tiap-tiap bagian dari Uma ini terpisah atas dua wilayah. Wilayah kiri dan kanan. Kiri dan kanan pada Uma merupakan sesuatu yang sakral dan berhubungan erat dengan konfigurasi pemasangan setiap elemen pada Uma yang berasal dari alam mereka sendiri. Kiri sendiri merupakan tempat bagi tamu dan wanita bagi orang yang berkunjung maupun penghuni Uma. Sedangkan kanan merupakan tempat bagi lelaki dan kepala suku keluarga. Hal ini dikarenakan pada saat pemasangan elemen pada Uma, bagian pangkal dari pohon selalu ditempatkan di kanan dan depan. Sedangkan bagian ujung ditempatkan di bagian kiri dan belakang. Mereka menganggap bahwa Uma mereka merupakan bentuk alam yang “berubah-bentuk” menjadi tempat tinggal mereka.

Menarik jika dibahas lebih lanjut mengenai geomteri dari Uma yang terdapat di Uggai ini. Karena secara sadar atau tidak sadar apakah mereka menggunakan komposisi dari alam, yakni golden section? Karena jika diperhatikan pada gambar denah dibawah, yang digambar ulang oleh Tim Ekskursi Mentawai, menunjukkan adanya kemungkinan tersebut. Jika diperhatikan lebih lanjut juga proporsi yang terdapat pada fasad bangunan juga terlihat, apakah terdapat komposisi golden section? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dilemparkan secara terbuka untuk dijawab secara bersama-sama kepada teman-teman pembaca.

Denah Uma oleh Tim Ekskursi Mentawai

 

Referensi :

Tim Ekskursi Mentawai, Mentawai : Guratan Identitas

http://www.mentawai.org/

3 Comments »

  1. waaah beruntung sekali Bapak Anugrah Fikriyanto dapat melihat langsung rumah adat dan budaya yang ada Mentawai, tidak semua orang dapat kesana dan melihat langsung rumah adat atau “uma” itu sendiri. ditambah lagi era globalisasi dan modernisasi yang berkembang di Indonesia.

    membahas tentang Uma, saya jadi tertarik membahas rumah adat lainnya.. yang jadi timbul pertanyaan baru bagi saya, apakah berarti komposisi dan proporsi rumah adat di lain tempat akan terbangun dengan golden section? karena hampir semua wilayah membangun rumahnya dengan menyesuaikan dengan alamnya. Lalu rumah adat di bangun oleh pohon dan kayu yang ada di hutan, saat membangunnya pun pasti ukuran pohon dan kayu yang digunakan berbeda-beda, dan mereka membangun rumah adat tanpa menggunakan gambar kerja. besar kemungkinan komposisi yang tercipta juga menyesuaikan bahan-bahan yang ada. Apakah ke pengaruh seperti ini juga mempengaruhi komposisi dan proporsi akhir si rumah, dan kaitannya dengan golden sectionnya?

    semoga saja trigger ini mampu memancing jawaban, serta penelitian lebih lanjut kepada rumah-rumah adat di Indonesia, yang semakin lama hilang akibat globalisasi dan modernisasi.

    Comment by satriappamungkas — April 2, 2013 @ 11:47

  2. Terima kasih saudara satria pamungkas, karena memang pengalaman tersendiri dapat menyaksikkan bentuk arsitektur tradisional yang masih dapat bertahan di era sekarang yang serba modern

    Untuk golden section itu menurut saya pribadi ada kemungkinan rumah adat lain yang membangun menggunakan material lokal juga memiliki komposisi golden section. Karena apa yang mereka bangun mengikuti alam mereka, sebagai contoh di mentawai, bagaimana mereka menghargai alam, dan dari alamlah mereka belajar. Yang mereka lakukan menurut saya menghormati alam yang menjadi tempat hidup mereka sehari-hari dengan menduplikasinya kedalam rumah tinggal sesuai pemahaman mereka. Saya rasa juga ada yang lebih merepresentasikan lebih dari gambar kerja, yaitu alam itu sendiri. Kalau boleh berpendapat lagi menurut saya alam itu bagaikan mentor atau sebuah channel di youtube yang dapat memberikan tutorial secara gratis bagaimana untuk dapat hidup berdampingan. Namun tergantung dari kita, masyarakat sekitar atau siapapun sebagai pengguna ruang bijaksana dan mau belajar dari sana.
    Ingat channel yang gratis ini bukan berarti bisa dimanfaatkan sesuka hati, tentunya kita tentu dapat lebih bijaksanakan

    Terakhir saya sangat tertarik apakah pernyataan saya diatas tepat atau tidak mengenai komposisi alam tersebut, dengan mengunjungi rumah adat tradisional lain yang masih ada di Indonesia. Tentu tiap daerah punya karakteristik yang berbeda, karena dimana bumi dipijak disana langit dijunjung. Lain ladang lain pula belalangnya.

    Comment by anugrahfikriyanto — May 31, 2013 @ 22:34

  3. terimakasih untuk informasi denah rumah dan konsep tataruang-nya
    saya pakai sebagai materi pendalaman untuk project ilustrasi, karena hal-hal begini tidak muncul di brief klien

    soal teori golden section, mungkin mereka membuat patokan modul ukuran berdasarkan ukuran bagian tubuh tukang kayu (hasta depa dll)? karena saya kira dari dulunya mereka tidak memakai penggaris > sistem ukuran barat. dan seperti kata teori Corbu dan Leonardo DaVinci, anggota tubuh kita secara luar biasa, telah didesain dengan golden section oleh desainernya🙂

    sekali lagi terimakasih

    ihlas aka sali
    jogja

    Comment by salimagination — August 27, 2013 @ 06:19


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: