there’s something about geometry + architecture

May 19, 2013

Jauh Dekat Tak Sama di Mata

Filed under: architecture and other arts,perception — ditanadyaa @ 00:22

Sebelum mulai membahas judul di atas, yuk sama-sama kita lihat beberapa karya berikut ini😀

3-CONSTELLATIONCY-36Kumi Yashita: sculptures

 

Coba tebak, dua karya tersebut adalah karya 2 dimensi atau 3 dimensi?

Yak, jawabannya adalah 3 dimensi! Mengapa begitu?

Kedua karya tersebut adalah milik Kumi Yamashita, seorang seniman Jepang yang saat ini tinggal di New York. Jika dilihat dari jauh, kedua karya tersebut terlihat bagai lukisan yang memiliki deskripsi tekstur serta gelap terang yang sangat baik; seolah dihasilkan dan disusun pada media yang benar-benar datar secara keseluruhan. Namun, jika dilihat dari dekat, ternyata penampakannya seperti ini:

 

Constellation-por-Kumi-Yamashita-6

 

Karya tersebut dibuat di atas panel kayu dan menggunakan paku serta benang jahit sebagai media seninya. Terlihat jelas bahwa paku dijadikan patok-patok utama sebagai tempat melilitkan benang dan mengait-ngaitkan benang tersebut. Paku yang tersebar menjadi titik-titik yang kemudian dipersepsikan sebagai penyusun bentuk elemen pada karya, seperti mata, hidung, dan garis wajah. Bentuk tersebut tersusun oleh paku sebagai hasil dari law of proximity, yaitu paku-paku yang diletakkan berdekatan akan membentuk elemen yang sama, sementara paku yang diletakkan berjauhan akan membentuk elemen yang berbeda.

Bentuk yang dihasilkan tersebut diperjelas dengan permainan gelap-terang (karena karya ini monokromatik, tidak ada permainan warna yang muncul). Permainan gelap-terang ini muncul akibat law of continuity pada benang yang dililitkan mengikuti paku secara menerus, mengikuti pola paku yang disusun berdekatan. Pola paku yang disusun menjadi acuan kapan benang yang dililitkan cenderung padat dan kapan benang yang dililitkan menjadi lebih renggang. Kerapatan dan kerenggangan lilitan benang menentukan gelap-terangnya karya tersebut.

Selain itu, bisa jadi benang bertindak sesuai dengan law of closure, yaitu lilitan benang berfungsi untuk mengisi kekosongan yang terdapat di antara pola-pola paku yang berjajar sehingga terlihat tertutup sebagai satu kesatuan ‘lukisan’. Jika benang tersebut tidak ada dan karya tersebut hanya terdiri atas paku-paku yang dipolakan, saya rasa karya tersebut tidak akan menjadi seindah ini. Keberadaan benang menjadi penjelas yang menegaskan ‘pesan’ yang sebenarnya ingin seniman sampaikan melalui karya ini.

Jarak pandang ternyata turut andil dalam menikmati karya ini. Ada baiknya kita tanamkan dalam diri: jangan hanya melihat sesuatu dari jarak jauh saja. Coba kenali lebih dekat, maka kita akan menemukan hal yang berbeda😀

 

 

Sumber Referensi:

Yamashita, Kumi. (2011). Constellation – CY. [Online]. Tersedia: http://www.kumiyamashita.com/portfolio/constellation-cy/ [19 Mei 2013]

Yamashita, Kumi. (2012). Constellation. [Online]. Tersedia: http://www.kumiyamashita.com/constellation/ [19 Mei 2013]

Yamashita, Kumi. (2013). Constellation – Mana No. 2. [Online]. Tersedia: http://www.kumiyamashita.com/portfolio/constellation-mana-no-2/ [19 Mei 2013]

http://www.mundoflaneur.com [19 Mei 2013]

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: