there’s something about geometry + architecture

May 28, 2013

Kartun dan Persepsi Kita dalam Memandang Diri Sendiri

Filed under: architecture and other arts,perception — thazageorly @ 03:04

Bawang merah bawang putih, jangan dengki dan iri hati.
Cinderella, pertolongan ada bagi mereka yang lembut hatinya.
Pinokio, Jangan berbohong.
Malin kundang, sayangi dan hormatilah orang  tua.
dsb…

Saya besar ditengah semua dongeng-dongeng tersebut. Baik dengan melihat buku-bukunya maupun filmnya. Yang tentu saja ada dalam versi kartun. Kesamaan dari semua dongeng kartun anak-anak tersebut adalah bagaimana makna dikemas secara manis didalamnya. Seperti yang ada pada list diatas, setiap film kartun biasa memberikan suatu pesan moral tertentu didalamnya. Dan saya, sebagai anak kecil bahkan sudah jadi remaja tua seperti sekarang, masih bisa menangkap dan menerima pesan tersebut.

Namun pernahkan kita sungguh-sungguh bertanya mengapa kartun jauh lebih mudah digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dibandingkan dengan cerita realis?

Awalnya saya kira penggambaran secara kartun ini dilakukan karena keterbatasan anak kecil dalam mencerna dan memahami suatu realita dalam sebuah gambaran. Ya, mungkin hal ini salah satunya. Namun ternyata memang ada isu persepsi yang jauh lebih besar melatarbelakangi hal itu.

Hal ini mulai terbentuk dari ketidak mampuan kita untuk memandang diri sendiri. Mata kita digunakan untuk melihat sekitar, lingkungan, lawan bicara. Sehingga Pada saat memandang keluar, kita cenderung melihat dengan detail yang kuat dan tegas. Gambaran yang ada sangat jelas. Sebaliknya kita melihat diri kita sendiri dalam suatu gambar kabur. Gambaran kabur ini menghasilkan bentukan bentukan yang paling dasar dan sederhana. Seperti kartun.

“..but the face you see in your mind is not the same as others see. When two ppeople interact, they usually look directly at one another, seeing their partner’s features in vivid detail. Each one also substains a constant awareness of his or her own face, but this mind-picture is not nearly so vivid. Just a sketchy arrangement. A sense of shape.”  (McCloud, 1993 : 29)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

Maka sebagai timbal baliknya adalah semakin jelas gambaran yang diberi, persepsi kita akan semakin terbentuk dan nyata. Kita semakin mempersepsikannya menjadi satu subjek spesifik. Dia adalah seseorang. Ketika kita melihat dia sebagai subjek lain, maka detail menjadi penting. Kita mulai bertanya “siapa orang ini?” “latar belakangnya seperti apa?” “apakah ini peran yang didesain atau memang kepribadian yang nyata?”, “apakah yang dia ceritakan semuanya benar?”.

 

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

 

Sedangkan dengan kartun, kita tidak merasa perlu untuk bertanya. Semakin sederhana kartun tersebut, semakin sedikit tuntutan detail yang ingin kita ketahui. Karena kesederhanaannya menciptakan persepsi bahwa ia bisa jadi siapa pun, bahkan diri kita sendiri. Ia berubah dari subjek eksternal menjadi subjek internal. Ia menjadi suara kecil yang eksis dibelakang pikiran kita. Ia adalah konsep.

 

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

Mungkin ini alasan dibalik penggunaan kartun sebagai media penyampaian pesan. Karena kartun tidak terasa menggurui. Akan menjadi agak berbeda jika isi kartun tersebut dibawakan oleh sesosok yang (secara visual) jauh lebih realis. Isinya bisa jadi sama, tapi tingkat penerimaan kita menjadi berbeda. Jika pinokio berkata ‘jangan bolos sekolah dan membohongi orang tua’ kita bisa saja berkata ‘iya’ dengan mudah. Sedangkan jika ada sesosok gambaran manusia realis, sebut saja Mario Teguh misalnya, berkata hal yang sama, mungkin reaksi yang muncul akan lebih seperti “siapa dia, kaya ga pernah bolos aja”, dan berbagai komentar semacamnya yang menuntut detail.

“you would have been far too aware of the messenger than to fully receive the message..if who i am matter less, maybe what i say will matter more.” (McCloud, 1993; 37)

Karena kembali lagi kepada teori dari Mccloud, ketika bentuk menjadi detail, kita mulai mempersepsikan objek gambar tersebut sebagai subjek lain yang spesifik. Sedangkan ketika obejk gambar mengabur, kita bisa menerimanya sebagai bagian dari diri sendiri. Pesan yang didapat lebih murni dan tidak terkontaminasi dengan persepsi bawaan mengenai subjek tersebut (baik subjek real ataupun imajiner).

Jadi memang secara tidak sadar kita lebih mudah menerima sesuatu ketika hal itu disampaikan dalam bentuk visual yang lebih sederhana. Dalam bentuk kartun sebagai contohnya.

 

“Cartooning isn’t just a way of drawing, it’s a way of seeing” (McCloud, 1993; 31)

2 Comments »

  1. Saat membaca tulisan ini, saya langsung teringat salah satu teori yang sempat dipelajari pada mata kuliah psikologi arsitektur tetntang kecenderungan manusia untuk menyederhanakan bentuk. Apakah kecenderungan ini juga terjadi saat kita melihat objek gambar yang mengabur (sederhana)? dan apakah hal ini akan mempengaruhi pesan yang hendak disampaikan dari kartun tersebut?
    Selain itu, saya memiliki pemikiran lain bahwa ada juga pesan yang disampaikan kartun tidak bersifat murni dan tidak terkontaminasi dengan persepsi bawaan mengenai subjek tersebut (baik subjek real ataupun imajiner). Latar belakang dari kartun yang sudah diatur sedemikian rupa membuat pembaca seakan menyakini figur dari kartun tersebut sehingga kita secara tidak sadar akan menyakini pesan yang disampaikan dari kartun tersebut terlepas dari bentuk kartun tersebut dibuat sesederhana mungkin. Jadi kesederhanaan visual kartun bukan lagi media untuk mempermudah mencerna pesan yang disampaikan namun juga terdapat media lain yakni persepsi bawaan dari kartun tersebut.

    Comment by kusumaerlina — May 31, 2013 @ 17:18

  2. Bahasan ini sangat menarik. Mungkin ini seperti menggambar sketsa. Untuk menggambarkan sesuatu dalam sketsa, yang diperlukan adalah karakter-karakter penting yang ingin disampaikan saja. Mungkin ini juga yang terjadi dalam pikiran kita. Karena kita sudah mengenali diri kita sendiri dan sering melihat diri kita dalam cermin, sudah pasti kita telah menangkap karakter-karakter penting dari wajah dari diri kita. Oleh karenanya, hanya dengan gambaran sederhana saja, pikiran kita sudah bisa menggambarkan diri kita sendiri. Sedangkan ketika melihat orang lain, kita harus membedakan satu orang dengan orang lain. Oleh karenanya, makin banyak detil yang harus diperhatikan untuk bisa benar-benar menggambarkan orang tertentu di pikiran kita. Ini dugaan saya.

    Comment by adinibrahim — June 1, 2013 @ 00:17


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: