there’s something about geometry + architecture

May 31, 2013

Pantomim

Filed under: Uncategorized — kusumaerlina @ 16:49

Pada tahun 90an, seni pertunjukan pantonim sedang booming-boomingnya di televisi. Dari asal katanya, pantomim berasal dari kata Yunani “pantomimus” yang berarti meniru segalanya. Dalam KBBI, pantomim adalah pertunjukkan drama tanpa kata-kata yang dimainkan dengan gerak dan ekspresi wajah (biasanya diiringi musik). Cerita yang ditampilkan dalam pantomim biasanya meniru kegiatan yang dilakukan sehari-hari maupun lakon suatu karakter atau tokoh tertentu. Dibawah ini dapat dilihat salah satu contoh pantomim yang diperankan oleh salah satu pantomimer yang berasal dari Indonesia yakni, Septian Dwi Cahyo biasa dikenal dengan Den Bagus di acara Spontan.

http://www.youtube.com/watch?v=kqf4QG69crs&ytsession=oHTu6IVo7olGyeP2CG483fmlIe3uDWgOxlaB5-Iv5-vQoW_anYwlGkeYrDspIKhJcYOG4Nf1DWdKKzUj9Nb2hY4VjPQRBixb8caLIWKUPBc9Y3hudrSRbCxYfE202DW-PzbkS6bTr2j6bgg8ArM5rZTHBCdEo2ppvtku8wUNZ9iePYBfXcrQ2Du3CPtphmWz2fMl6_gUmYnTWwWiV89RYevs5imBHydPmPbR6lDkc_lb9Rdipud1jZpz72ezNQfWq_96DQoGn-nnFxC8emAUXdDSNbej2IJt#

Menurut saya, seni pertunjukan ini sangat menarik karena tanpa mendengarkan dialog atau suara dari pantomimer, kita dapat mengetahui jalan cerita dari drama tersebut. sang pantomimer dapat menyampaikan pesan hanya mengandalkan gerakan-gerakan dan mimik saja sekaligus memberikan pertunjukan yang menghibur. Sering kali pertunjukan ini dianggap mudah, jika ingin menunjukan kondisi sedang menangis, kita dapat meletakan tangan di dekat mata dan seolah-olah mengucek mata. Namun menurut saya, pertunjukan ini lebih sulit dibanding dengan pertunjukan lainnya karena kita harus benar-benar dapat memahami  ‘cerita’ dari suatu kondisi baik secara fisik atau emosi sehingga ketika kita menuangkan ‘cerita’ tersebut kedalam suatu gerakan atau mimik, ‘cerita’ tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan menarik.

Untuk membuktikan hal tersebut saya mencoba melakukan percobaan kecil melalui video pantomim dibawah ini:

http://www.youtube.com/watch?v=pQ6Bk9JZ1ow&feature=youtu.be

Video pantomim mana yang lebih menarik?
Cerita apa yang disampaikan pada video pertama dan kedua? Apakah sama atau berbeda?

Sebenarnya, cerita yang hendak diceritakan dari kedua video tersebut sama yakni tentang “memancing”. Namun kita dapat melihat bahwa gerakan/ilustrasi yang dihasilkan berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi seseorang akan suatu hal maupun daya imajinasinya sangat mempengaruhi gerakan atau mimik apa yang akan kita sampaikan dan bagaimana cerita tesebut dikemas menjadi sesuatu yang menarik. Tertarik untuk mencoba tetapi takut jika ‘ceritanya’ tidak tersampaikan dan membosankan? Menurut saya, cara paling mudah dan sederhana untuk berlatih pantomim adalah dengan lebih peka terhadap kondisi atau kejadian di sekeliling kita karena dari hal-hal sederhana tersebutlah kita dapat menjadikannya insiprasi untuk dapat dikembangkan menjadi lebih menarik namun tetap dapat dimengerti orang lain. Tertarik? Bagaimana menurut teman-teman?

Referensi:

Antox, 2012, Pantonim Bercerita Melalui Mimik, (Online), (http://teaterkiniberseri.org/2012/05/pantomim-bercerita-melalui-mimik/), diakses tanggal 29 Mei 2013
Martinus, Adrian, 2012, Septian Dwi Cahyo: Cinta Pantomim Seumur Hidup (Online), (http://indonesiakreatif.net/article/q-and-a/septian-dwi-cahyo-cinta-pantomim-seumur-hidup/), diakses tanggal 29 Mei 2013

Referensi Video:

Septian Dwi Cahyo – Pantomime “Apel”, http://www.youtube.com/watch?v=kqf4QG69crs

3 Comments »

  1. menurut saya pembahasan mengenai pantomim sangat menarik apalagi dikaitkan dengan bagaimana orang mempersepsikan suatu hal ke gerakan dan bagaimana orang lain mempersepsikan gerakan tersebut. Disini saya ingin bertanya, di dalam tulisan, anda mengatakan bahwa 2 orang menghasilkan gerakan ilustrasi dan mimik wajah yang berbeda padahal objek yang diceritakan sama, disini bagaimana ruang yang tercipta dari 2 persepsi yang berbeda tersebut ?, bisa saja kan dari apa yang terlihat berbeda namun ternyata ruang yang dihasilkan keduanya sama
    terimakasih

    Comment by alfoadrazamdekha — May 31, 2013 @ 18:03

  2. Terima kasih atas pertanyaannya, pada tulisan di atas saya tidak mengatakan bahwa ruang yang dihasilkan bisa berbeda atau sama karena semua itu tergantung bagaimana sudut pandang kita. Saya setuju dengan pendapat anda mengenai ruang yang dihasilkan bisa saja sama meskipun yang terlihat berbeda. Namun, sekali lagi persepsi maupun pengalaman kita yang membuat hal tersebut terlihat berbeda. Sebagai contoh sederhana, pada video kompilasi 4 pantomim di atas, bisa saja ruang dari tempat memancing tersebut sama tetapi perbedaan pengalaman dari para pantomim membuat mereka mendefinisikan ruang memancing yang berbeda-beda. Pada pantomimer pertama dan kedua, pada waktu memancing biasanya mereka menunggu sambil duduk ditempat yang disediakan. Pada pantomimer ketiga, ia bisa menunggu memancing sambil duduk ditepi sedangkan pantomimer 4 memancing sambil berdiri. Jika tidak disebutkan bahkan keempat pantomimer tersebut berada ditempat yang sama mungkin saya bisa beranggapan bahwa pantomimer 1 dan 2 memancing di empang, pantomimer 3 memancing di tepi sungai dan pantomimer 4 memancing sambil berdiri ditengah sungai. Perbedaan ini muncul karena saya memiliki pengalaman akan akvitias tersebut dan mungkin saja pengalaman saya berbeda dengan pengalaman orang lain sehingga cerita (ruang) yang ditangkap orang lain dapat berbeda.
    Kalau menurut anda, bagaimana ruang yang terdefinisikan dari keempat pantomimer tersebut? apakah sama atau berbeda dengan yang saya fikirkan?

    Comment by kusumaerlina — May 31, 2013 @ 19:07

  3. Postan yang menarik dari kusumaerlina.
    Pantomim menurut saya memang sangat berdasarkan persepsi setiap orang dalam memperagakannya, maupun untuk menebak pantomim apa yang sedang mereka lakukan, karena informasi mengenai kegiatan, dalam kasus anda ‘memancing’ berbeda-beda setiap orangnya, sehingga cara mereka me’mantomim’kannya pun berbeda-beda dan begitu pula orang yang menebak kegiatan apa yang sedang mereka lakukan.

    Comment by tanjungandy — May 31, 2013 @ 19:43


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: