there’s something about geometry + architecture

May 31, 2013

Ternyata Kota Harus Punya Banyak Gedung Bertingkat (?)

Filed under: ideal cities — shiltafinella @ 22:09

Berawal dari perkuliahan geometri yang membahas topik ideal cities, timbul pertanyaan dalam benak saya : Bagaimana orang-orang menggambarkan sebuah kota?

Pertanyaan ini muncul karena dalam perkuliahan, sudut pandang mengenai kota ideal yang diambil adalah dari sisi para arsitek dan orang-orang berpengaruh (Jacobs, Le Corbusier, Plato, Adrian Forty, Mies Van Der Rohe, dll). Sebenarnya bagaimana kebanyakan orang menggambarkan sebuah kota? Apakah sama saja?

Sebagai riset sederhana, saya mencari karya-karya seni yang bertemakan “kota”. Saya ingin melihat persepsi apa yang mereka miliki tentang bagaimana gambaran sebuah kota. Berikut penemuan-penemuan saya :

 

“City Series” oleh McNabb & Co

Image

sumber : http://www.mcnabbstudio.com/images/slider/slider5.jpg

 

 

“Splotches” oleh Sol LeWitt

Image

sumber : http://graphics8.nytimes.com/images/2005/04/24/arts/city.sculpture.583.jpg

 

 

Kota dari metal oleh Franco Recchia.

Image

sumber : http://www.magicalurbanism.com/wp-content/uploads/2010/12/B.jpg

 

 

“Pokemon Black and White Castellia City” Digital Drawing

Image

sumber : http://www.nintendojo.com/wp-content/uploads/2011/03/art_blackwhitecastelliacity.jpg

 

 

“Celebration City” oleh J Loren Reedy

Image

sumber : http://images.fineartamerica.com/images-medium-large/celebration-city-j-loren-reedy.jpg

 

 

“Sydney City” oleh Dion Archibald

Image

sumber : http://www.dionarchibald.com/sydney/drawings/sydney-city.jpg

 

 

Nah, ternyata ada kesamaan antara semuanya. Kota adalah deretan gedung-gedung bertingkat. Padahal tidak ada pembuat karya-karya di atas yang saling mengenal atau menyepakati di awal bagaimana seharusnya gambaran sebuah kota. Game terkenal seperti Pokemon pun menggambarkan kotanya dengan banyak gedung bertingkat.

Kenapa bisa terdapat kesamaan pandangan seperti ini? Bisa jadi karena sebuah “kota” dianggap sebagai sistem yang lebih advance dari desa, pinggiran, kampung, dsb. Pusat kota biasanya memang menjadi pusat aktivitas masyarakat di mana gedung-gedung bertingkatlah yang menjadi wadahnya. Mereka mengaitkan kota dengan “sibuk”, “modern“, “padat”. Karena itulah ketika menggambarkan sebuah kota, maka itu harus punya banyak gedung-gedung bertingkat. Sebenarnya saya sendiripun ternyata selama ini memiliki pandangan yang sama. Setiap saya mensketsa kota, pasti harus ada gedung-gedung bertingkatnya.

Apakah teman-teman setuju bahwa Ternyata Kota Harus Punya Banyak Gedung Bertingkat?

11 Comments »

  1. Wah menanggapi yang shilta sampaikan,
    “Ternyata Harus Punya Banyak Gedung Bertingkat?” , berarti “Kota Juga Harus Punya Ribuan Masalah”,
    karena pernyataan tersebut disampaikan pada konteks arsitektur yang IDEAL—–> menurut para arsitektur
    tapi kalau boleh saya berpendapat, apakah para arsitek ini merupakan pengguna ruang pada kota tersebut. Kota yang ideal hanya sebuah utopia, dan bahkan sebuah paradox.
    ada ungkapan yang mengatakan hidup di kota lebih menjanjikan kehidupan, dan hal tersebut yang membuat banyak orang “berduyun-duyun” datang ke kota. namun ternyata adalah sebaliknya kenyataanya.
    Saya setuju dengan lantunan lirik yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar dkk;

    “Haruskah kita pindah ke kota?… Yang penuh tanda tanya? … Lebih baik disini rumah kita sendiri […]”
    -Lirik lagu Rumah Kita

    Comment by anugrahfikriyanto — May 31, 2013 @ 22:43

  2. Kalau menurut saya, sebenarnya sebuah kota tidaklah harus memiliki banyak gedung bertingkat. Mungkin memang ketika kita melihat pada masa kini dimana di kota-kota besar sudah kekurangan lahan untuk pembangunan, maka dibangunlah gedung-gedung bertingkat. Tetapi ketika lahan yang ada sudah memadai, maka kebutuhan akan bangunan bertingkat pun tidak akan menjadi banyak. Mungkin karena konteks yang kita lihat adalah pada zaman sekarang ini dimana jangan sampai ada ruang yang tersisa, maka yang terbayang adalah gedung-gedung bertingkat tersebut. Mungkin kita bisa mencoba melihat yang disebut kota pada zaman dahulu, misalkan saja kota terlarang di Cina, apakah disana ada gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi?

    Comment by adityanugroho23 — May 31, 2013 @ 22:52

  3. Bagi saya, persepsi tentang kota pada masa kini digambarkan sebagai suatu tempat yang dapat memfasilitasi kebutuhan serta kesejahteraan warganya, kota juga berkembang cepat dan kaya akan hal-hal yang bersifat canggih serta modern. Karena hal tersebutlah, tidak heran jika kata “kota” identik dipasangkan dengan gedung-gedung bertingkat, mengingat pada masa kini sebuah gedung dapat menjadi ikon ataupun citra dari suatu wilayah dimana gedung tersebut berada. Mungkin saja khayalan tentang kota di masa lalu pun juga merefleksikan suatu perkembangan baik secara teknologi maupun fasilitas lainnya yang dapat menunjang kebutuhan masyarakatnya. Sehingga penggambaran akan sebuah kota yang maju terlihat semakin baik jika semakin banyak gedung bertingkat untuk mengesankan bahwa kota tersebut modern dan maju secara teknologi. Namun kembali kepada tugas seoarang arsitek yang dapat membentuk sebuah kebiasaan dan memunculkan sebuah persepsi yang berbeda dengan apa yang selama ini orang lain bayangkan, jika memang sebuah kota tidak harus digambarkan dengan banyak gedung-gedung bertingkat, maka kitalah yang harus mencoba membelokkan persepsi sebuah kota yang identi dengan banyak gedung bertingkat.

    Comment by faradikaayu — May 31, 2013 @ 23:53

  4. Menanggapi pernyataan bahwa “Ternyata kota harus punya banyak gedung bertingkat”, pendapat pribadi saya ini akan membuat pergeseran definisi kota. Sebetulnya apa yang membuat sebuah kota dikatakan kota? Apakah dengan gedung bertingkat? Berarti kota yang tidak punya gedung bertingkat tidak dapat dikatakan sebagai kota?
    Menurut saya ada hal yang lebih jauh dari itu dalam karakterisasi sebuah kota, dan mungkin gedung bertingkat hanya salah satu di antaranya (tidak menjadi variabel yang mutlak harus ada dalam sebuah kota).

    Comment by stellaajeng — May 31, 2013 @ 23:57

  5. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada penulis.
    Pertama, definisi dari gedung bertingkat itu sendiri apa? Sebetulnya bangunan yang memiliki dua tingkat sudah dapat dikatakan dengan bangunan bertingkat. Lain halnya dengan high-rise.
    Kedua, definisi banyaknya itu sendiri apa? Lebih dari satu pun sudah dapat dikatakan sebagai banyak.

    Mungkin orang-orang yang membuat karya tersebut sudah memiliki mindset tersendiri terhadap “kota” seperti apa berdasarkan tipologi tertentu.
    Penulis sebetulnya juga dapat mengembangkan pendapat penulis sendiri terhadap karya mereka, sehingga kita dapat melihat jawaban “Apakah kota harus punya banyak gedung bertingkat?”

    Jadi, untuk penulis, apakah kota harus punya banyak gedung bertingkat?

    Comment by farisdeind — June 1, 2013 @ 00:39

  6. @anugrahfikriyanto
    Terimakasih atas komentarnya😀
    Saya juga salah satu korban dari janji manis kota. (orang tua saya kebetulan adalah perantau yg datang ke Jakarta) hahaha~
    Sesuatu yang ideal memang sangat tidak mungkin eksis di dunia nyata ini. Seperti komentar kakak, kota yang dirancang dengan konsep ideal punya ribuan masalah. Ideal hanya bisa kita rancang, hanya ada dalam dunia abstrak pikiran para desainer. Tapi tidak ada yang sanggup menjamin tertuangnya itu ke dalam dunia nyata. Ironis memang..

    Comment by shiltafinella — June 1, 2013 @ 21:01

  7. @ adityanugroho23
    Terimakasih atas komentarnya😀
    Argumen adit memang masuk akal. Tapi coba bebaskan perspektif kita dari penalaran sedalam ini (artinya jangan ingat-ingat topik ideal cities ini dan analisis-analisis seputar alasan ada bangunan bertingkat). Buat gambaran mental dalam pikiran kita tentang “KOTA”.
    Bisa jadi kita sendiri pun membayangkan kawasan dengan banyak gedung bertingkat dalam pikiran kita, hehe..

    Comment by shiltafinella — June 1, 2013 @ 21:12

  8. @ faradikaayu
    Terimakasih atas komentarnya😀
    Saya tertarik dengan komentar faradikaaliascebe bahwa “kitalah yang harus mencoba membelokkan persepsi sebuah kota yang identik dengan banyak gedung bertingkat”.
    Namun saya ingin tahu, kenapa menurut faradika hal ini perlu dilakukan? Lalu bagaimana contoh cara membelokkan persepsi itu?
    Saya bertanya karena saya secara pribadi adalah orang yang suka dengan kebebasan berekspresi. Saya tidak menganggap persepsi masyarakat yang kita bahas di postingan ini sebagai sesuatu yang harus dibelokkan menjadi sesuatu yang lain. Terlebih lagi memang bukan sesuatu yang salah total bahwa kota digambarkan seperti ini. Bagaimana faradika menanggapinya?

    Comment by shiltafinella — June 1, 2013 @ 21:25

  9. @stellaajeng
    Terimakasih atas komentarnya😀
    Nah, sebenarnya ada alasan mengapa karya yang saya tampilkan di post ini adalah seperti yang bisa dilihat di atas. Karya-karya di atas adalah sesuatu yang dikerjakan dengan tangan berdasarkan imajinasi si pembuat. Berbeda dengan fotografi dan lukisan yang meniru objek asli. Saya memang ingin melihat persepsi apa yang mereka miliki tentang bagaimana gambaran sebuah kota, bukan gambaran kota yang SESUAI FAKTA.
    Yang ajengaliasayeng nyatakan memang benar. Ada hal yang lebih jauh dari itu dalam karakterisasi sebuah kota, dan mungkin gedung bertingkat hanya salah satu di antaranya (tidak menjadi variabel yang mutlak harus ada dalam sebuah kota). Itu akan terlihat jelas lewat foto sebuah kota atau lukisan yang meniru pemandangan sebuah kota. Semua variabel akan tergambar.
    Tapi sekali lagi, saya ingin mengajak ajeng untuk membebaskan perspektif kita dari penalaran sedalam ini. Buat gambaran mental dalam pikiran kita tentang “KOTA”. Bisa jadi ajeng sendiri pun membayangkan kawasan dengan banyak gedung bertingkat dalam pikiran. hehe..😀

    Comment by shiltafinella — June 1, 2013 @ 21:38

  10. @farisdeind
    Terimakasih atas komentarnya😀
    Pertanyaan anda banyak sekali yah. haha~ :’)

    Pertama-tama, saya ingin menyampaikan bahwa konteks frasa BANYAK GEDUNG BERTINGKAT yang saya maksudkan di sini seharusnya sudah jelas tergambar dalam contoh-contoh karya yang saya tampilkan. Tidak perlu ada penjelasan kritis lagi soal kata “banyak” dan “bertingkat”. Visualisasi lewat gambar-gambar menurut saya sudah menjelaskan konteks frasa ini dalam pembahasan di postingan ini. Apalagi poin yang dibahas bukanlah pada definisi kritis atas kata per katanya, namun visualisasi atau perwakilannya dalam karya.🙂

    Jika faris bertanya pada saya “apakah kota harus punya banyak gedung bertingkat?”, tentu saya akan jawab TIDAK. Namun jika saya disuruh membuat visualisasi akan gambaran “KOTA, saya akan menghadirkan kota dengan banyak gedung bertingkat. Artinya, sebenarnya saya sadar betul bahwa kota itu kompleks. Seperti yang ajeng kemukakan, banyak variabel yang terkait. Tapi tak bisa dipungkiri, di bawah alam sadar saya, pikiran saya mengarah pada konsep IDEAL ketika membayangkan sebuah kota. Seperti sudah saya jelaskan di atas, “kota” dianggap sebagai sistem yang lebih advance dari desa, pinggiran, kampung, dsb. Pusat kota biasanya memang menjadi pusat aktivitas masyarakat di mana gedung-gedung bertingkatlah yang menjadi wadahnya. Kota dikaitkan dengan “sibuk”, “modern“, “padat”. Karena itulah ketika menggambarkan sebuah kota, maka itu harus punya banyak gedung-gedung bertingkat. Saya seakan-akan punya konsep tentang ideal city di pikiran saya yang mana kita tahu IDEAL = UTOPIA.
    Sekian~😀

    Comment by shiltafinella — June 1, 2013 @ 21:57

  11. saya setuju nih, gedung bertingkat seakan identik dengan kota yang kompleks kegiatannya. Semakin kompleks bentuk dan struktur gedungnya, akan terlihat semakin oke kotanya. Seakan menjadi perlambang status kota tersebut, kota yang maju peradabannya? maju pendidikannya sehingga bisa mendirikan bangunan yang tidak pernah terpikir bisa terbangun? atau perekonomiannya yang super wow hingga mampu mengadakan struktur dan tenaga ahli untuk mendirikan bangunan gedung yang tidak biasa itu?
    saya jadi teringat topik paper saya. Distrik Eixample di Barcelona, Shil. Kota yang gedung-gedungnya tidak berlomba-lomba menjulang ke atas seperti visualisasi kota di gambar-gambar di atas, tapi bangunan-bangunannya diatur dengan aturan rumus tertentu. jadi tetap rapi dan sehat tata kotanya. Tidak menghalangi sinar matahari untuk bangunan lain, tidak perlu jalan berkilo-kilometer untuk menemukan taman kota karena udah ada di tiap blok.. Tidak perlu khawatir tanah yang terus turun karena bebannya ditambah berkali-kali lipat..
    Lalu saya jadi bertanya juga, apa kekompleksan kota itu lantas bisa diatasi dengan keberadaan gedung-gedung bertingkat?

    Comment by ayuanastasya — June 2, 2013 @ 14:33


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: