there’s something about geometry + architecture

June 1, 2013

Abstraksi, Jembatan Keledai dan Kebudayaan Hindu-Bali

Filed under: locality and tradition — wayanjatasya @ 00:23

Akan selalu ada sebuah proses untuk mencapai Pura. Proses ini, secara umum, dibagi menjadi tiga dengan larangan-larangan berbeda di setiap bagiannya. Tiga tahapan ini merupakan simplifikasi dari pembagian dunia; bhur, bwah, dan svah. Akan selalu ada bunga dan dupa mengiringi doa. Bunga sebagai persembahan bagi Empu Bumi sedangkan dupa membuat mereka tetap sadar akan adanya si Empu; yang senantiasa mengawasi kehidupan mereka.

Dua contoh tersebut merupakan ‘jembatan keledai’ masyarakat Hindu-Bali untuk membantu memahami sebuah konsep yang lebih besar, alam dan ketuhanan.

Konsep tentang sesuatu kekuatan besar di balik alam tampak terlalu sulit untuk dimengerti. Mungkin, itu yang kemudian mendorong mereka untuk mengarahkan konsep besar ke hal (informasi) yang umum mereka temui. Ide tersebut berupa sebuah proses abstraksi.

Dalam abstraksi, sebuah konsep berasal dari penggunaan atau klasifikasi konsep yang nyata atau umum diketahui. Untuk menjadikannya abstrak, informasi tentu tidak dalam keadaan utuh. Terjadi proses reduksi atau pengurangan isi informasi sesuai dengan situasi.

Sehingga, kita dapat melihat contoh terakhir menjadi: untuk dapat hidup langgeng di Bumi, tentu perlu menyisihkan sebagian kepunyaan (yang direduksi dalam bentuk bunga) kepada si pemilik. Bila saya lakukan pendekatan pada konsep kita sehari-hari, dapat saya katakan masyarakat Hindu-Bali sedang membayar pajak pada si pemilik tempat. Sama dengan masyarakat kota Jakarta yang membayar pajak pada Pemerintah Derah.

Pernyataan saya tentang ‘jembatan keledai’ tentu merupakan proses abstraksi pemahaman saya terhadap proses ini pada masyarakat Hindu-Bali. Saya mengacu pada ‘jembatan keledai’ yang banyak digunakan dalam menghafal unsur-unsur dalam tabel periodik. Pembaca tentu familier terhadap istihal tersebut sehingga menjadi alasan saya memilih frase ‘jembatan keledai’.

Menariknya, abstraksi akan meninggalkan celah atau ruang bagi penerima informasi untuk mengisi lebih lanjut. Interpretasi yang terjadi tentu berbeda. Sebagian, hal ini dipengaruhi oleh latar pengetahuan akan konsep tersebut.

Terlebih lagi, untuk menjelaskan proses abstraksi, saya menggunakan proses ini untuk mendekatkan pembaca pada konsep yang mungkin masih asing di telinga.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: