there’s something about geometry + architecture

June 1, 2013

“Jiwa” Musik Blues dalam Arsitektur

Filed under: architecture and other arts — alhafizi @ 19:38

Dalam sejarahnya musiik blues merupakan music yang lahir di daerah selatan America tepatnya di kota missisipi delta.  Karena itulah music blues akustik sampai saat ini disebut dengan delta blues. Blues muncul di sekitar abad ke-18 dalam suasana perbudakan kaum Africa di daerah missisipi. Blues inilah sarana mereka mengobati kesedihan. Bukan untuk mengekspresikan kesedihan. Sampai saat ini masih banyak orang yang menyangka music blues adalah sebuah ekspresi kesedihan dengan dasar term “blue”. Namun intinya dengan blues diharapkan kesedihan akan pergi jauh-jauh.

Ada beberapa fakta menarik mengenaik music blues dan kesakralannya. Konon dahulu sang pionir blues, Robert Johnson, menjual jiwanya untuk mendapatkan keahlian dalam blues baik bernyanyi maupun bermain gitar. Selain itu ada cerita, konon para majikan yang kerap menyiksa kaum budak dinyanyikan beramai-ramai oleh para budak dengan lagu blues sampai meninggal dan tanpa disentuh. Cerita berikut memang belum tentu benar adanya, namun sampai saat ini music blues memang diakui ketajaman soul atau ruh dibalik lagu-lagunya.

Mengapa musik blues sangat melibatkan soul dalam diri sang musisi yang memainknnya? Dalam dasar musik blues hanya dikenal 3 kord dengan pola 1-4-5 dan pentatonik (5 nada). Teknik yang gitar yang dimainkan pun tidak dituntut untuk ribet, hanya seputar hammer, pull of dan bending.

Image

blues minor pentatonik dalam gitar

Image

blues minor pentonik dalam piano

Dengan keterbatasan yang seperti itu tentulah kita tidak bisa mengandalkan apa-apa kecuali sense of rhythm, sense of music dan soul. Kalau soul tidak dilibatkan matilah! Yang terdengar akan hanya not not hambar. Berbeda dengan musik yang tergolong matematikal seperti klasik, jazz atau progressive rock/metal seperti Dream Theatre (bukan Darut Tauhid yak hehe) yang mempertimbangkan banyak aspek teknis seperti pergantian ketukan, penaikan oktaf, progresi kord yang kompleks. Mungkin untuk gitaris bermain dengan sweeping, mengandalkan kecepatan, dan lain sebagainya.

Dengan kord yang hanya tiga dan nada yang hanya lima tersebutlah dituntut dari para musisi blues untuk memiliki soul yang tajam. Soul disini menjadi fokus yang mendominasi. Mungkin bila dianalogikan, orang buta biasanya memiliki indra lain yang bertambah peka. Keterbatasan teknis lah yang menjadikan musik blues baik untuk mengasah kepekaan dan “rasa” dalam bermusik. Karena itulah output musik blues biasanya adalah improvisasi. Tidak ada jaminan yang dimainkan di panggung kemarin akan sama persis dengan hari ini.

Mungkin pembukaan mengenai blues diatas tak sebanding panjangnya dengan pembahasan keterkaitan musik dengan arsitektur berikut ini. Sejauh ini yang saya ketahui karya arsitektur berdasarkan musik selalu dihasilkan melalui eksplorasi teknis dalam musik sebut saja :

Image

Jewish Museum- Daniel Libeskind

Image

Cardiff Opera House – Manfredi Nicoletti

Image

Experience Music Project – Frank Gehry

Karya-karya diatas merupakan beberapa sample dari banyak karya arsitektur yang dihubungkan dengan musik dari segi teknis dan instrumennya. Melihat komposisi dari partitur, dieksplorasi lalu diadaptasi, melihat kesamaan predikatnya dengan term-term dalam arsitektur lalu diadaptasi, bahkan ada yang literaly meletakan wujud instrumen dalam wujud bangunan.

Yang saya ingin sampaikan adalah, musik blues tidak bisa disamakan dengan yang lain. Kali-kali aja nih suatu saat nanti temen-temen dapat proyek membuat suatu bangunan atau ruang yang berkaitan dengan blues, menurut saya agak kurang tepat bila mencoba melihat blues  dari partiturnya, term-nya ataupun instrumennya untuk dieksplorasi dan diadaptasi. Mungkin lebih tepat dapat dari segi pengalaman dari sang musisi saat memainkan blues, dari segi “kejiwaan”-nya, dari segi keterhubungan dengan kesakralannya. Hehe sekedar pendapat dari pengamat dan pemain blues aja sih. Mencoba berpendapat dari paradigma menerjemahkan musik dari segi teknis ke dalam arsitektur. Kenapa? Ya karena blues adalah jiwa.

Referensi :

– musisi.com

http://www.academia.edu/667434/MUTUAL_RELATION_BETWEEN_MUSIC_AND_ARCHITECTURE
-http://wiki.answers.com/Q/Ten_facts_about_blues_music

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: