there’s something about geometry + architecture

June 1, 2013

rambutku mahkotaku?

Filed under: everyday geometry — verairawan @ 20:30

“ngapain sih lo pegang-pegang rambut gue?” ucap yani kepada ira yang sedang mengacak-acak rambut temannya itu. “nanti kalo berantakan gimana? Kan gue udah susah-susah ke salon buat ngerapiin!” ujar yani lagi.

Sepintas percakapan tadi mungkin sering kita temui. Tapi bukankah respons yani terhadap ira itu berlebihan? Kenapa yani merasa terganggu ketika rambutnya diacak-acak oleh ira? Itu kan hanya rambut. Apakah sepenting itu?

Banyak yang berpendapat “Rambutku, Mahkotaku”. Mereka merasa seakan tidak ada bagian tubuh lain yang lebih penting daripada rambut. Kita sering melihat beberapa selebritis kelas dunia yang rela mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk perawatan rambut mereka. Bahkan atlet sekaliber David Beckham dan Cristiano Ronaldo pun memperhatikan penampilan rambut mereka di dalam dan luar lapangan.

 

Persepsi orang (atau lebih tepatnya tingkat perhatian orang) terhadap model rambut inilah yang menggelitik pikiran saya untuk mengetahui apa sih yang sebenarnya menyebabkan kita menata rambut? Apakah hanya untuk sekedar kerapihan semata? Ingin terlihat cantik/tampan? Ingin seperti idolanya? Ataukah sebagai pembuktian diri? Atau malah kita sebenarnya tidak butuh rambut?

Saya sendiri lebih menyukai potongan rambut yang pendek. Selain terlihat lebih segar, rambut yang pendek juga membuat sirkulasi udara ke kulit kepala lebih baik sehingga tidak terasa panas. Namun, saya (sebagai wanita) juga ingin memiliki rambut panjang yang halus lebat dan berkilau seperti wanita-wanita yang menjadi model iklan shampo di televisi.

Lain halnya dengan teman saya, dia lebih menyukai rambut keriting yang menjuntai seperti per karena dianggap lucu dan rambutnya bisa dimainkan.

Ada lagi yang berpendapat bahwa rambut panjang itu mengganggu (dia adalah perempuan yang juga sebagai atlet beladiri), jadi dia tidak pernah membiarkan rambutnya panjang karena akan memudahkan lawan untuk menjambaknya dan akhirnya dia kalah.

Beda lagi dengan teman saya yang satu ini. Dia bahkan tidak menyukai rambut. Dia lebih suka jika kepalanya dipelontos dan botak licin daripada harus memiliki rambut di kepala sama sekali.

Banyak hal menarik dari persepsi manusia akan rambut. Ada yang mengubah rambutnya demi kenyamanan. Ada pula yang menata rambut agar bisa dijadikan mainan. belum kita melihat yang merubah penampilan rambut demi terlihat mirip dengan idolanya. Ada lagi yang bahkan tidak membiarkan satupun rambut di kepalanya karena tidak suka. Ada juga yang mengganti model rambut karena ada model rambut lain yang populer di sebuah majalah.

Ada faktor-faktor yang mempengaruhi potongan rambut seorang manusia. Kepribadian, mode, kepraktisan, idola, dll. membuat banyak persepsi bagaimana manusia memperlakukan rambutnya.

Karena setiap manusia memiliki hak penuh untuk mengatur bagaimana gaya rambutnya, jadikanlah rambutmu sesuai yang kamu mau. Buatlah mahkotamu sendiri.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: