there’s something about geometry + architecture

March 14, 2014

Alun-alun, ‘Pakem Vitruvius’ dari Pulau Jawa

Filed under: ideal cities,locality and tradition — rizkidwika @ 16:09

Di perkuliahan yang lalu, kita telah melakukan latihan untuk merancang kota berdasarkan prinsip yang dikemukakan oleh ‘Eyang’ Vitruvius dalam buku yang ditulisnya. Gara-gara latihan tersebut, saya kembali teringat kalau ternyata di Indonesia, khususnya Pulau Jawa juga memiliki aturan tersendiri dalam merancang pusat kotanya.

Faktanya, hampir seluruh kota di Pulau Jawa memiliki titik tengah berupa tanah kosong yang dinamakan alun-alun.  Alun-alun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki definisi tanah lapang yg luas di muka keraton atau di muka tempat kediaman resmi bupati, dsb.  Hal yang unik adalah hampir seluruh alun-alun, terutama pada kota yang sudah ada sejak zaman penjajahan memiliki tipe yang serupa.

Kesamaan ini didapat dari tata letak bangunan di sekitarnya, di mana kantor pemerintahan biasanya terletak di lor/kaler (utara) atau kidul (selatan), masjid berada di sebelah kulon (barat), serta penjara/kantor kepolisian yang letaknya di wetan (timur). Ada yang bilang, kantor pusat pemerintahan harus berorientasi utara-selatan agar mengikuti garis kedudukan kota terhadap alam sekitarnya (gunung dan lautan). Ada juga yang bilang, alasan penjara diletakkan berseberangan dengan masjid agar mereka yang berbuat kesalahan dapat cepat bertaubat. Entahlah, saya tidak berhasil menemukan alasan ilmiah mengapa tata letaknya harus seperti itu.

Nah, dengan bantuan Google Maps, saya mencoba membandingkan citra satelit alun-alun Kabupaten Sumedang, Kudus, Demak, dan Malang untuk mendukung posting picisan saya ini. Berikut hasilnya.

Alun-alun Kab. Kudus. Tidak ditemui "bangunan penegak hukum" di sebelah timur.

Alun-alun Simpang Tujuh Kab. Kudus. Tidak ditemui “bangunan penegak hukum” di sebelah timur.

Zoning Alun-alun Kota Sumedang, Jawa Barat

Zoning Alun-alun Kota Sumedang, Jawa Barat

Alun-alun Kab. Demak. Masjid Demak dan kompleks pemakaman para Sunan berada di sini.

Alun-alun Kab. Demak. Masjid Demak dan kompleks pemakaman para Sunan berada di sini.

Alun-alun Kab Tuban. Bila berjalan terus melalui jalan di sebelah utara sejauh 200 meter, akan bertemu dengan Laut Jawa

Alun-alun Kab Tuban. Bila berjalan terus melalui jalan di sebelah utara sejauh 200 meter, akan bertemu dengan Laut Jawa

Keempat sampel di atas mungkin hanya segelintir dari sekian banyak kota yang menggunakan “pakem” pusat kota ini. Meski terlihat mengikat, alun-alun sebagai identitas kota yang sudah dikenal sejak zaman Majapahit pada saat ini sebenarnya perlahan mulai terlupakan. Bahkan, di beberapa kota seperti Bandung dan Semarang, alun-alun kota lama mereka justru telah bergeser dan kehilangan peran akibat gerusan perkembangan penduduknya. Mungkin, kongkow di lapangan terbuka di zaman sekarang sudah kalah nge-hits dengan gaya hidup masyarakat kekinian, kali, ya?
Rizki Dwika, Interior 2011.
Referensi: Santoso, S. (1984), Konsep Struktur & Bentuk Kota Jawa s/d Abad ke 18.

3 Comments »

  1. Munurut saya, dengan memberikan contoh 4 kabupaten dalam lingkupan pulau Jawa ini masih terlalu kecil untuk memberikan perbandingan. Mungkin bisa diberikan beberapa contoh lain pada kota besar yg bukan hanya terpaku pada ‘keraton’ ataupun ‘kemajapahitannya’ karena mungkin saja dengan menjelaskan zoning ‘alun-alun’ ditemukan hal lain di kota besar tersebut.

    Oh ya, anda memang sudah memberikan pengertian dari alun-alun, tetapi lebih baik lagi jika diberikan sekilas tetang fungsi dari alun-alun itu apa🙂

    Comment by geiniagni — March 22, 2014 @ 11:43

  2. Kalau Geini membaca literatur yang saya baca pula, sebenarnya tata kota di Pulau Jawa bisa dibagi ke dalam beberapa periode,
    yakni pada masa Majapahit dan setelahnya, prakolonial, penjajahan Belanda, serta pascakemerdekaan.
    Kota-kota yang berkembang pada masa Majapahit seperti Trowulan -kemudian hancur seiring keruntuhan kerajaan- telah memiliki pakem yang sama terhadap konsep alun-alun. (Pusat: Jawa Timur)

    Kerajaan penakluk, Demak Bintoro yang sebenarnya juga masih satu garis darah dengan istana Majapahit kemudian mengembangkan syiarnya di kawasan pantura, membangun ‘peradaban’ baru di kawasan dekat pesisir seperti Semarang, Demak, Kudus, Jepara, Pati, Pekalongan, Kendal (Jawa Tengah), Gresik, Lamongan (Jawa Timur), Pesisir Cirebon (Jawa Barat). Mereka kemudian mengembangkan apa yang moyangnya gagas mengenai alun-alun di pusat kota (mewarisi tradisi). Setelah Demak, muncul pula Kerajaan Pajang dan Mataram. Kerajaan Mataram ini kemudian pecah menjadi dua, menjadi cikal bakal Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

    Setelah masuknya Belanda, dikenal konsep pemerintahan yang lebih tertata, dari Gubernur Jenderal, Karesidenan, juga Kawedanan (semacam Kabupaten/kotamadya). Berdasar pada apa yang sudah ‘dianut’ masyarakat sejak lama inilah, pada akhirnya Belanda menggunakan pendekatan yang sama dalam merancang kota-kota yang dibangun pada masa penjajahannya, sehingga akan menjadi kurang tepat jika Geini melihat bahwa pakem ini sebagai keterpakuan yang bisa dilepas dari pengaturan kota di masa sekarang, karena sebenarnya “ke-Vitruviusan” a la Jawa ini merupakan rangkaian panjang dalam pembentukan mindset masyarakat Jawa akan pusat kota yang terus berkembang hingga sekarang.
    Setahu saya, hanya segelintir saja kota di Pulau Jawa yang tidak memiliki alun-alun. Bahkan, kota pascakemerdekaan seperti Bekasi pun memiliki alun-alun, meski pada akhirnya hanya terlihat sebagai sesuatu yang dipaksakan. Coba Geini iseng melihat di Google Maps saja, setidaknya bekas pengaturan alun-alun tersebut masih dapat terlihat dengan jelas, meski filosofinya telah berubah menjadi pusat-pusat komersil baru dikarenakan faktor uang. Namanya juga manusia, hehe.

    Maaf terlalu panjang. Hehe.

    Comment by rizkidwika — March 27, 2014 @ 12:48

  3. https://geometryarchitecture.wordpress.com/2011/03/22/melihat-perkembangan-probolinggo-sebagai-kota-klasik/ Ini salah satu contohnya, hehe🙂

    Comment by rizkidwika — March 27, 2014 @ 12:52


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: