there’s something about geometry + architecture

March 15, 2014

Ryoan-ji, Taman Jepang Abstrak Terindah

Kalau baca judulnya, pasti pada bingung Ryoan-ji itu apa. Dari bahasanya saja bisa terlihat kalau itu sesuatu yang berasal dari negeri sakura. Ya, Ryoan-ji adalah taman terkenal yang berada di Kyoto, Jepang, didirikan sekitar abad ke-15, yang dipercaya sebagai taman yang memberikan sense of emptiness (Nitschke, 1999). Apasih spesialnya dari taman ini? Sebenarnya ada beberapa hal yang cukup mengejutkan dari latar belakang taman super sederhana dan bagi yang belum mengerti pasti taman ini akan dinilai ‘membosankan’. Jangan salah, Ryoan-ji ini sebenarnya bersangkutan juga dengan arsitektur dan hal tersebut yang membuat taman yang ‘membosankan’ ini menjadi sesuatu yang bisa dipelajari. Jadi inilah taman yang disebut-sebut tadi:

File:Kyoto-Ryoan-Ji MG 4512.jpg

(sumber: Cquest, 2007)

Taman Ryoan-ji ini sebenarnya luas dan terdiri dari kluster taman-taman kecil. Namun, taman karesansui ini menjadi salah satu penyebab meledaknya jumlah turis di Jepang untuk mengunjungi Ryoan-ji ini. Karesansui adalah taman batu Jepang yang digunakan untuk meditasi, dan sansui memiliki arti gunung (san) dan air (sui), sehingga taman ini memiliki konsep dry landscape dimana elemen utama yang digunakan pada taman adalah batu, dengan dasar kepercayaan mereka bahwa gunung (daratan) dan air merupakan hal yang tidak terpisahkan (Nitschke, 1999). Sehingga tidak heran, komponen pada taman ini benar-benar tidak ada tanaman sama sekali, tetapi hanya ada batu besar berlumut dan kerikil. Setting pada taman ini merupakan imitasi dari gunung yang disimbolkan dengan batu besar, dan laut yang disimbolkan dengan kerikil.

File:RyoanJi-Dry garden.jpg

(sumber: Stephane D’Alu, 2004)

Kalau melihat batu-batu di atas, sebenarnya batu-batu ini terlihat tidak wajar. Bukan karena ada makhluk mistis, tapi batu-batu tersebut tidak asal disusun begitu saja. Loraine Kuck (1980) menganalisa bagaimana tersusunnya batu-batu tersebut (terutama batu besar) dan dari sketch (gambar bagian atas) diproyeksikan menjadi denah (gambar bagian bawah). Yang terlihat dari gambar adalah setiap peletakan batu memiliki garis yang berpotongan.

(sumber: Loraine Kuck, 1980)

Kemudian saya mencoba melipat dan membagi dua gambar tersebut, hasilnya taman batu tersebut tidak simetri. Batu yang disusun tidak simetri berdasarkan jumlah batu yang diletakan.

simetri

“…symmetric means something like well-proportioned, well-balanced, and symmetry denotes that sort of concordance of several parts by which they integrate into a whole. Beauty is bound up with symmetry.” (Hermann Wegl, 1952)

Apabila Wegl berpendapat bahwa ada keindahan ada kesimetrisan, namun hal ini bertolak belakang dengan kenyataan bagaimana penyusunan batu memiliki keindahan tersendiri pada taman batu di Ryoan-ji. Taman batu tersebut terbukti asimetris dilihat dari seberapa banyak garis potong peletakan yang sejajar apabila dibandingkan pada sisi kiri dan kanan. Sisi kiri mempunyai titik potong sejajar yang lebih sedikit daripada sisi kanan. Namun yang menjadikan penyusunan batu menjadi well-proportioned dan well-balanced adalah sisi yang memiliki jumlah potong sejajar yang sedikit atau yang berarti jumlah batunya sedikit, maka ukuran batu tersebut akan lebih besar daripada sisi yang memiliki jumlah batu yang lebih banyak.

Begitu pula dengan penyusunan salah satu cluster batu tersebut. Penyusunan batu-batu tersebut masih bertolakbelakang dengan pendapat-pendapat bahwa simetris sudah pasti indah dan enak dipandang.

https://24.media.tumblr.com/46fd0b5958a21d8c4d092f80b5c720c1/tumblr_n2h8wwoF3n1qjsckmo1_500.jpg

Dari diagram jungkat-jungkit yang seimbang memiliki M (massa) yang sama yang menandakan bahwa ada kesamaan jarak benda (D) dari sisi kanan dan kiri. Namun penyusunan batu tersebut masih asimetris seperti pada diagram di atas. Semakin besar dan tinggi batu tersebut, maka diletakan paling belakang, lebih pendek dan kecil batu tersebut maka diletakan di depan sebelah batu paling besar, semakin panjang dan pendek batu tersebut diletakan paling depan. Hal ini membuktikan bahwa asimetris sebenarnya bisa diseimbangkan juga. Penyeimbangan asimetris dilihat dari bagaimana detail elemen yang disusun dan diusahakan mengisi bagian-bagian yang dianggap kurang seimbang.

“Symmetry signifies rest and binding, asymmetry motion and loosening, the one order and law, the other arbitrariness and accident, the one formal rigidity and constraint, the other life, play and freedom.” (Dagobert Frey, 1949)

Frey menyatakan bahwa simetris memiliki keteraturan sehingga terlihat lebih formal, sedangkan asimetris tidak teratur sehingga terlihat bebas. Hal tersebut selaras dengan tujuan dari taman batu di Ryoan-ji ini dibangun, yang digunakan untuk meditasi sekaligus mengembalikan diri seseorang terbebas dari keterikatan hidup. Ejima Yoshimichi (2002) menyatakan bahwa Ryoan-ji memiliki pattern yang bebas sehingga secara tidak sadar akan ada persepsi yang diciptakan dari pikiran seseorang yang sedang berada di sana. Ryoan-ji kini menjadi taman yang benar-benar memberikan adanya sense of emptiness yang dapat melepas penat dari banyaknya aktivitas sehari-hari yang dianggap formal atau kaku.

Jadi, masih bilang taman ini membosankan karena tidak memberikan efek apa-apa?

————–

Referensi:

  1. Weyl, Hermann. (1952). Symmetry. Princeton. NJ: Princeton University Press.
  2. Nitschke, Gunter. (1999). Japanese Gardens: Right Angle and Natural Form. Taschen publishers, Paris.
  3. Tada, Kimie. (2008). Japanese Gardens: Tranquility, Simplicity, Harmony. Tuttle Publishing.
  4. Kuck, Loraine E. (1980). The World of the Japanese Garden: From Chinese Origins to Modern Landscape Art. Weatherhill.
  5. Frey, Dagobert. (1949). Zum Problem der Symmetrie in der bildenden Kunst: Studium Generale.
  6. http://news.bbc.co.uk/2/hi/technology/2283398.stm

4 Comments »

  1. nice article

    Comment by Aziz Rashid — March 16, 2014 @ 12:59

  2. Materi yang cukup bagus. Sangat menjelaskan bagaimana kita memahami proporsi dengan cara lain. Bukankah desain itu sesuatu yang kreatif dan bebas? Menurut saya sih begitu. Pada penjelasan diatas cara ini bisa diterapkan dalam mendisain dimana kita tidak terpaku pada satu pakem simetris, melainkan kita menciptakan simetri dari pakem kita sendiri dalam melakukan desain. Tapi yang saya belum jelas disini adalah. Apakah peletakan titik batu, bagaimana cara dia menyusun ukuran, jarak antar batu itu mempengaruhi keindahan juga. Apakah bisa itu dibedah secara teori apakah hanya intuisi si perancang? Mungkin okti bisa membantu menjelaskan.

    Comment by ekapradnyanida — March 24, 2014 @ 01:10

  3. Saat saya melihat foto dari taman ini sejujurnya yang membuat saya tertarik bukanlah karena peletakan batu yang disebut simetris, tapi perasaan kosong yang ditimbulkan dari jarak batu tersebut yang berarti berhubungan dengan persepsi. Ingin bertanya saja, apakah benar sesuatu yang simetris itu merupakan sesuatu yang indah? Karena menurut saya yang terpenting adalah persepsi apa yang ingin kita munculkan dari sebuah desain, sehingga user akan merasakan apa yang arsitek ingin sampaikan melalui desainnya

    Comment by nandittafitri — March 25, 2014 @ 02:01

  4. @ekapradnyanida:
    sebenernya saya sendiri masih mencari-cari bagaimana si perancang tersebut meletakan batu, apakah berdasarkan ukuran atau tidak. Namun, si perancang taman, yang belum diketahui siapa ini, mengukur melalui jarak dimana akan dilihat view yang paling dianggap berasa kualitas “emptiness”-nya. Caranya, dia duduk di bagian rumah dari taman tersebut, lalu melihat taman seolah-olah lukisan. (contohnya: http://www.roedergallery.com/graphics/ryoanji_garden.jpg) Ya, seperti halnya pelukis, mereka belum tentu menetapkan proporsi secara ilmiah kayak dikotak-kotakkan dahulu kemudian ditentukan perbandingan ukurannya.

    @nandittafitri:
    ya menurut saya bisa saja benar sesuatu yang simetris itu belum tentu indah. tapi kembali lagi dari efek kualitas apa yang ingin ditunjukan sehingga menghasilkan persepsi, bukan? kalau misalnya ingin membuat kualitas yang formal dan rigid, bisa saja yang simetris menjadi lebih indah dibandingkan yang asimetris. namun, untuk taman karesansui ryoan-ji ini bertujuan untuk memberikan suasana dan kualitas yang kosong. sehingga si perancang taman membuat bagaimana peletakan batu-batuan tidak beratur.

    Comment by nadiaoktiarsy — March 30, 2014 @ 07:50


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: