there’s something about geometry + architecture

March 19, 2014

Menuju Keseimbangan, Meninggalkan Simetri

Filed under: Uncategorized — ninditovirnantio @ 10:00

Suatu bentuk yang simetris selama ini dilihat sebagai sesuatu yang indah. Hal ini terlihat dari lukisan dan bangunan di zaman dahulu seperti bangunan Parthenon di zaman Yunani kuno. Namun selama perkembangannya, bentuk simetris tidak lagi dianggap sebagai suatu cara untuk mencapai keindahan tersebut, contoh yang ekstrim adalah Guggenheim Museum di Bilbao, Spanyol.  Seperti yang terlihat dalam gambar, sebelah kiri dan kanan bangunan tidak memiliki kesamaan, apalagi simetris. Oleh karena itu, sebenarnya apakah hubungan simetri dengan keindahan? Apakah yang membuat sesuatu hal terlihat indah?

guggenheim2 partehnon

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memberikan analogi dengan wajah manusia, agar artikel ini menjadi nyaman untuk dibaca semua kalangan, wajah yang dipakai adalah wajah artis terkenal, Brad Pitt. Saya membuat wajah ganteng ini simetris kiri dan kanan.

5078837MM019_brad kanan kiri

Gambar tersebut menunjukkan bahwa meskipun dengan proporsi wajah yang baik, dan muka yang terlihat simetris, bagian sebelah kiri dan kanan ternyata berbeda. Saya berpendapat bahwa wajah brad pitt bisa menjadi tampan karena bagian sebelah kiri dan kanan seimbang. Seimbang yang bagaimana? Untuk mencoba menjawab hal tersebut mungkin dapat dilihat dari contoh museum Guggenheim. Meskipun bagian kiri dan kanan berbeda, dapat dilihat dari bagian kiri yang besar sedikit ornamen yang ada, sedangkan di sebelah kanan bangunan menjadi semakin rumit. Konsep seimbang yang saya maksud seperti hukum alam dimana yang kuat akan diseimbangkan dengan yang lemah, yang besar dengan yang kecil, dan sebagianya.

Oleh karena itu, saya berpendapat untuk mencapai keindahan dalam arsitektur diperlukan keseimbangan yang baik dalam bangunan.

referensi foto:

bilbao : http://bspoke.net/wp-content/uploads/2012/03/guggenheim2.jpg

parthenon : cgadvertising.com

brad pitt : http://www.biography.com/imported/images/Biography/Images/Profiles/P/Brad-Pitt-9441989-2-402.jpg

5 Comments »

  1. Dalam era saat ini, kita pasti tahu bahwa ‘keliaran’ seorang perancang dalam menciptakan bangunan semakin menjadi-jadi. Mungkin terlihat dari semakin maraknya bangunan-bangunan yang sedikit banyak meninggalkan prinsip simetri dan mencoba untuk merealisasikan ketidaksimetrisan melalui pendekatan teknologi dan struktur. Banyak dari mereka yang seakan-akan percaya bahwa ketidak simetrisan itu dapat menjadi sesuatu yang indah.

    Simetris dan seimbang mungkin berbeda biarpun secara kasat mata mereka serupa. Anda mengatakan bahwa kesimetrisan itu belum tentu menjadikan suatu indah. Yang penting dia seimbang. Di sini, saya kembali mempertanyakan apakah sebenarnya sesuatu yang indah itu harus berdasar pada suatu keseimbangan? Apakah keseimbangan ‘besar dikuatkan dengan kecil’ itu bersifat mutlak yang dapat diukur secara dimensi angka? Bagaimana bila dalam suatu arsitektur terlalu banyak menggunakan bentuk yang berbeda dan bila dibandingkan, keseimbangan a+2b+3c=2a+2b+2c itu tidak tercapai? Apakah itu tidak dapat menghasilkan keindahan?

    Terimakasih.

    Comment by amaliaputriayuichlasiaty — March 21, 2014 @ 18:11

  2. Saya setuju dengan pendapat anda bahwa sesuatu yg indah itu perlukan suatu keseimbangan. Bukan hanya dalam hal arsitektur tetapi juga dalam hal lainnya yg anda analogikan dengan wajah ganteng Brad Pitt ♥
    Tetapi yg saya ingin tanyakan kembali itu apakah dari Guggenheim Museum di Bilbao ini indah karena ketidaksimetrisan yg seimbang atau kah ada unsur lain yang mendukung keindahannya. Karena menurut saya pada bentuk museum tersebut terdapat pengkomposisian bentuk yang sedemikian rupa sehingga pada akhirnya membuat museum ini terlihat indah. Ataukah mungkin yang anda maksudkan titik seimbang untuk mencapai keindahan ini tidak hanya dilihat dari titik tengah bangunan seperti wajah yg dilihat keseimbangannya dari garis tengah wajah?

    Comment by geiniagni — March 22, 2014 @ 11:31

  3. Pernahkah kita mendengar sebuah candaan “berat 1kg kapas dan 1 kg besi mana yang lebih berat?” Tentu jawaban seimbang tidak masuk akal bukan? Jika dikaitkan dalam simetri dalam artian komposisi dan tekstur benda, tentu dibenak kita itu tidak akan sama dalam artian tidak simetri. Tetapi jika dilihat dari segi ilmu pasti itu sama. Dua analogi tersebut membuka pandangan kita tentang simetri. Apakah simetri itu muluk merupakan sesuatu yang teratur dan sempurna jika dibandingkan dengan yang lainnya, atau justru simetri bisa dicapai dengan jalan lain. Dari kasus yg dipaparkan diatas, bilbao museum adalah sebuah karya dekontruksi. Tapi apakah dia tidak simetris? Bagaimana sebenarnya pendekatan simetris itu dicapai? Apakah sekedar menarik garis tengah dan membandingkannya sisi kanan dan kiri apakah sama. Apakah bisa dengan cara besi dan kapas tadi bahwa simetri justru bisa capai dengan ketidak simetrisan. Toh dia tetap indah. Contoh lainnya adalah ketika kita merancang sering kali kita berasakan suatu desain tidak seimbang, dan kita sering menambahkan suatu bentuk yg berbeda untuk menyeimbangkannya. Namun jika ditarik garis tengah kanan dan kiri tidak seimbang. Apakah kita bisa menyebutnya simetri? Tapi jika diperhatikan lagi mata kita merasakan itu simetri. Mungkin perlu telaah lebih dalam apakah simetri dicapai dengan satu cara atau banyak cara. Kita tidak tahu kan.

    Comment by ekapradnyanida — March 24, 2014 @ 00:52

  4. Mau nambahin aja dari pandangannya Dito. Pada dasarnya si muka Brad Pitt seimbang karena ada suatu bagian yang menjadi patokan “apanya yang bikin seimbang” itu. Simetris itu bukan berarti gambar yang di-mirror loh. Setau saya, Vitruvius pernah nulis:

    “Symmetry is a proper agreement between the members of the work itself, and relation between the different parts and the whole general scheme, in accordance with a certain part selected as standard … In the case of temples, symmetry may be calculated from the thickness of a column, from a triglyph, or even from a module.” (Vitruvius, p.14)

    Contohnya tadi adalah Parthenon, Vitruvius menyatakan bahwa bisa aja bangunan itu simetris karena ketebalan kolomnya. Berarti simetris itu awalnya dari sebuah modul yang berulang sehingga ada kesamaan dari sisi ke sisi lainnnya. Modul tersebut dijadikan standar yang diambil dari bagian tertentu sehingga ada keterhubungan sisi-sisinya saat modul tersebut berulang. Pada akhirnya, kalo misalnya gambar hanya di-mirror saja, itu justru lebih ‘aneh’ karena kita (si penglihat) melihatnya secara keseluruhan. Nah, inilah yang sebenarnya yang bisa jadi yang mau ditunjukan bapak Frank Gehry ini, yaitu melihat Gunggenheim Museum secara keseruhan, tidak perlu menentukan bagian apanya yang sama.

    Reference: Vitruvius (1960) The Ten Books on Architecture, Trans. from Latin by M. Morgan, New York: Dover Publications.

    Comment by nadiaoktiarsy — March 30, 2014 @ 09:50

  5. saya akan mencoba menanggapi komentar amalia putri,yang sangat menarik. Baru-baru ini saya membaca buku Jay Hambidge tentang dynamic symmetry. Mungkin sebelumnya pengertian saya tentang simetri belum seluas sekarang, terlebih setelah membaca komentar okti yang memberikan banyak pengetahuan dibawah. Didalam buku tersebut dijelaskan tentang perbandingan yang menggunakan angka, dan simetri yang saya maksud sebelumnya menurut jay hambidge(1920) dapat dikategorikan sebagai static symmetry. Sedangkan dynamic symmetry lebih ke perbandingan yang ada di alam yang mengesankan kehidupan dan pergerakan. Hal ini menimbulkan pertanyaan pada diri saya sendiri, simetri, proporsi adalah apa yang dilihat masyarakat secara objektif, semua orang pasti mampu melihat adanya keteraturan, proporsi yang ada didalamnya. Sedangkan keseimbangan bersifat subjektif, sama seperti seorang menanggapi apakah bunga terlihat indah atau tidak. Menjawab pertanyaan geini dan eka yang sangat jeli menanggapi masalah ini, adalah sebuah kesalahan bagi saya untuk menyamakan simetri dan keseimbangan sebagai suatu yang setingkat. Ketika berbicara tentang keseimbangan yang diukur hanya dengan pengindraan mata, tidak ada parameter yang dapat menjadikan hasil perhitungannya objektif. Berbeda dengan mengukur massa ataupun waktu. Mereka masing-masing memiliki satuan hitung yang menjadikannya objektif. Oleh karena itu tidak rasional untuk menyamakan keduanya. Hanya saja, untuk mencapai keindahan, menurut saya diperlukan pendekatan dari kedua sudut pandang tersebut. Simetri (dalam kasus ini dapat berupa dynamic symmetry atau static symmetry) memberikan aturan, template secara garis besar apa yang mau dicapai. Kemudian didukung keseimbangan sebagai naluri ,kemampuan artistik arsitek, seniman, yang mengisi dan melengkapi desain.

    Jay Hambidge. 1920. Element of Dynamic Symmetry.New Haven, conn, Yale university press.

    Comment by ninditovirnantio — March 31, 2014 @ 09:25


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: