there’s something about geometry + architecture

March 23, 2014

PROPORSI DALAM KARYA MUSIK

Filed under: Uncategorized — dindanadira09 @ 11:03

Prinsip Golden ratio ternyata ditemukan pada banyak elemen yang ada dalam kehidupan, seperti yang di katakan oleh seorang filsuf bernama Adolf Zeising,tahun 1856  yaitu:

“that standard proportion which underlies the arrangement of the human form, the construction of the more beautiful animals, the construction of plants, namely in the form of their leafarrangement, the forms of various crystals, the arrangement of the planets, the proportions of architectural and sculptural works recognized as being the most beautiful, the most satisfying chords in musical harmony, as well as many other things in nature and art.”

Berdasarkan artikel Musical Scales Are Based On Fibonacci Numbers, Range dari satu oktaf nada yang terdiri dari 8 nada utama. Nada ke 5 dan ke 3 membuat basic dari semua chord dan didasari oleh keseluruhan nada yang mana 2 nada dari nada dasar merupakan nada pertama dari range tersebut. Contohnya adalah nada yang terdapat pada piano, dalam satu oktaf nada dari C ke C terdapat total 13 tuts nada yang terdiri dari 8 tuts putih dan 5 tuts hitam. Nada dominan merupakan 5 nada mayor yang mana juga termasuk dalam 8 nada dari 13 nada yang menyusun satu oktaf nada. nah, ternyata apabila nada tersebut saling dibandingkan terdapat angka Fibonacci dalam kunci hubungan musikal tersebut  yaitu 8/13 = 0.61538 atau disebut bilangan phi (φ) 

Image

 jika logika golden ratio ditemukan pada pengaturan nada pada alat musik, maka saya akan mencoba mencari hubungan golden ratio terhadap salah satu karya musik klasik dalam Chopin Etudes berdasarkan artikel Piano Mannerisms, Tradition and the Golden Ratio in Chopin and Liszt by Gerard Carter, Keterkaitan golden ratio dengan music juga di kaitkan degan karya-karya music klasik seperti karya Chopin. Banyak karya dari Chopin seperti etudes dan nocturnes konon katanya didasari oleh golden ratio. Berikut adalah daftar 10 daftar musisi yang lahir di abad 19 yang memproduksi rekaman piano dari Chopin Nocturne In F Sharp Mayor Opus 15 No. 2

Image

Golden ratio adalah konstan dengan nilai (1 + ) ÷ 2 = 1.62 atau mendekati dua angka di belakang koma, yakni 0.62 (phi (φ))

Berikut perbandingan chopin opus 10 dan opus 25

Image Keterangan:

Proporsi timing:

  • Kolom 1 menggambarkan waktu habis dari rekapitulasi nada AM
  • Kolom 2 menggambarkan total performing timing AB (from Idil Biret’s recording on Naxos CD of the Chopin Etudes and are in minutes and seconds)
  • Kolom 3 menunjuksn proporsi waktu AM:AB

Proporsi bar:

  • Kolom ke 4 menggambarkan nomer dari bar dari rekapitulasi
  • Kolom ke 5 menggambarkan total nomor dari bar AB
  • Kolom ke 6 menggambarkan proporsi bar AM:AB

(keterangan bar diperoleh dari Henle edition)

 

 Ditemukan:

Average timing proportion 0.60

Average bar proportion 0.64

Average 0.62

Conjugate golden ratio 0.62

 

Dari sample yang ada diatas, yang menjadi pertanyaan adalah apakah sebuah music yang baik memang harus disesuaikan pula dengan prinsip golden ratio yang ada, apakah hal tersebut berpengaruh terhadap kenyamanan orang yang mendengarnya? padahal keindahan terhadap music itu sendiri menurut saya adalah subjektif, tergantung pada selera masing-masing orang baik yang membuat maupun mendengar. Selain itu yang juga membuat saya bertanya-tanya apakah iya Chopin membentuk musiknya dengan perhitungan golden ratio terlebih dahulu atau ternyata komposisi music yang sedemikian itu tercipta secara alami tanpa sadar dari insting seorang pemusik handal seperti Frederic Chopin?

 

reference:

catatan kelas geometri,

http://www.datalogi-sg.dk/comenius/KarditsaStudentsWork/04MusicalScales.pdf

http://www.rodoni.ch/TESTI-PER-PORTALE/Piano-Mannerisms-Tradition.pdf

History of Math: Special Topic: Math as it relates to art and music – Spring 2004, By Aditya Simha

2 Comments »

  1. Dari post diatas saya dapat menarik satu pemahaman bahwa proporsi musik dapat ditentukan dengan perhitungan phi untuk mengetahui apakah mencapai golden ratio(0.62). Namun apakah berlaku juga dengan alat musik yang tidak memiliki urutan tangga nada yang pasti seperti piano, seperti misalnya drum..

    Comment by diahayuwulan — March 23, 2014 @ 23:04

  2. Saya ingin menanggapi komentar Wulan. Menurut saya instrumen perkusi seperti drum justru lebih mudah ‘dibaca’, dan rasionya dapat lebih jelas terlihat. Saya pribadi belum melakukan pengkajian lebih lanjut terkait apakah rasionya sesuai dengan teori-teori yang sempat dibahas di kelas, tetapi notasi perkusi umumnya lebih proporsional dari instrumen melodi, karena instrumen ini merupakan pemegang ritme dan birama yang tentunya memiliki tatanan yang lebih ‘mudah dibaca’ dibandingkan instrumen melodi. Beberapa instrumen perkusi sebenarnya juga memiliki nada-nada yang sama seperti instrumen melodi, tetapi tidak semua nada (umumnya nada chord-chord utama) dan dalam frekuensi yang sangat rendah sehingga terdengar seolah tidak bernada. Mungkin yang lebih menarik adalah mengkaji kenapa nada-nada tertentu itu digunakan sebagai nada instrumen perkusi, apakah ada hubungannya dengan golden ratio ataupun teori lainnya..

    Comment by Annisa Dyah Lazuardini — March 29, 2014 @ 23:29


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: