there’s something about geometry + architecture

March 25, 2014

Die Baupiloten, grup edukasi arsitektur yang melibatkan anak-anak dalam proses desainnya

Filed under: architecture and other arts,perception,process — nandittafitri @ 01:41

Pada kuliah geometri, kita sempat diberikan materi tentang Classical Ordering Procedure, yaitu suatu metode perancangan yang dilakukan oleh Ecole Des Beaux Arts yang saat itu dipercaya jika mengikuti tahapan desain tersebut, desain yang dibuat akan menjadi desain yang baik. Proses desain yang dilakukan oleh Ecole Des Beaux Arts ini menjadi prosedur desain yang fix dan tidak dapat diubah serta menjadi standar pendidikan arsitektur di masa itu, bahkan di masa sekarang beberapa sekolah atau biro arsitektur di Indonesia atau bahkan di dunia masih menggunakan prosedur tersebut.
Die Baupiloten, merupakan suatu perkumpulan mahasiswa arsitektur yang berbasis di Berlin dan mempunyai spesialisasi dalam merancang ruang untuk anak-anak. Berbeda dengan biro-biro arsitektur profesional, perkumpulan ini merupakan sebuah perkumpulan penelitian yang tujuannya untuk menghasilkan arsitektur yang memiliki komitmen sosial dan mengutamakaninteraksi dan komunikasi. Perkumpulan ini memiliki metode perancangan yang berbeda dengan biro lainnya, yaitu dengan melibatkan anak-anak sebagai klien dan juga menjadi penyumbang ide dalam proses perancangannya. Berikut beberapa karyanya :

 

Dimulai dari gambar anak-anak dan direalisasikan secara arsitektural

Dimulai dari gambar anak-anak dan direalisasikan secara arsitektural

Detail ruang dari imajinasi anakanak yang sudah direalisasikan oleh Baupiloten

Detail ruang dari imajinasi anakanak yang sudah direalisasikan oleh Baupiloten

Keadaan sebelum dan sesudah renovasi ruang yang dilakukan oleh Baupiloten

Keadaan sebelum dan sesudah renovasi ruang yang dilakukan oleh Baupiloten

Workshop desain ruang yang dilakukan anak-anak dan proses desain yang dilakukan oleh mahasiswa arsitektur untuk merealisasikan imajinasi anak-anak

Workshop desain ruang yang dilakukan anak-anak dan proses desain yang dilakukan oleh mahasiswa arsitektur untuk merealisasikan imajinasi anak-anak

Keadaan sebelum dan sesudah renovasi ruang kolaborasi ide anak-anak dan mahasiswa arsitektur

Keadaan sebelum dan sesudah renovasi ruang kolaborasi ide anak-anak dan mahasiswa arsitektur

Keadaan sebelum dan sesudah renovasi ruang kolaborasi ide anak-anak dan mahasiswa arsitektur

Keadaan sesudah renovasi ruang kolaborasi ide anak-anak dan mahasiswa arsitektur

Proses desain keseluruhan, dari workshop model imajinasi sebuah ruang yang dilakukan anak-anak, sampai proses desain yang dilakukan mahasiswa arsitektur untuk membuatnya jadi nyata

Proses desain keseluruhan, dari workshop model imajinasi sebuah ruang yang dilakukan anak-anak, sampai proses desain yang dilakukan mahasiswa arsitektur untuk membuatnya jadi nyata

Hasil ruang yang diproduksi oleh mahasiswa arsitektur Baupiloten dengan anak-anak

Hasil ruang yang diproduksi oleh mahasiswa arsitektur Baupiloten dengan anak-anak

Dari 3 karya di atas, anak-anak dilibatkan sebagai inspirator bagi mahasiswa arsitektur, dimana anak-anak pertama diberikan suatu workshop, baik menggambar atau membuat model tentang sesuatu ruang yang ada di imajinasi mereka. Misalnya pada Erika Mann School, anak-anak memiliki imajinasi di lorong sekolahnya, terdapat sebuah naga besar yang sayapnya sangat besar sehingga seolah mereka bisa bernaung di atas sayap tersebut. Lalu, mahasiswa arsitektur Baupiloten ini akan menerjemahkan imajinasi mereka yang lebih bersifat konseptual menjadi sesuatu bentuk realistis fisiknya, dengan membuat model-model dari program-program ruang yang dibayangkan oleh anak-anak kecil tersebut.

Berikut link video tentang Die Baupiloten dan proses desain dengan melibatkan anak-anak dalam proses desainnya :

Pendekatan proses desain ini menurut saya, tentu merupakan sebuah keuntungan baik bagi para mahasiswa arsitektur sebagai arsitek dan anak-anak kecil sebagai klien dan anak-anak yang sedang dalam masa belajar. Mahasiswa dapat belajar bagaimana merealisasikan suatu imajinasi abstrak dan keinginan seorang klien menjadi suatu objek arsitektural, sedangkan anak-anak dapat belajar mengembangkan imajinasinya yang luas dan juga dapat menikmati ruang belajar yang sesuai dengan inginkan dan tentu proses belajar anak-anak akan semakin maksimal karena ruangan yang imajinatif dan inspiratif tentu akan memaksimalkan proses belajar anak.

Kita tidak bisa memaksakan sebuah proses desain yang kaku tentunya pada saat mendesain suatu ruang untuk anak kecil. Karena, sudut pandang yang kita lihat dengan yang anakkecil lihat tentu berbeda, contoh kecilnya tentu kita tidak bisa menjelaskan suatu potongan 1 : 100 kepada anak kecil untuk menjelaskan tentang cahaya yang masuk atau kualitas ruang yang terbentuk. Jika melihat dari proses desain yang dilakukan Die Baupiloten ini, menurut saya, merupakan contoh pendekatan proses desain yang berbeda dan baik karena melibatkan usernya, yaitu anak-anak yang memang pola pikirnya sangat berbeda dan daya imajinasi yang luar biasa. Tentunya proses desain akan berbeda tergantung konteks dan user yang nanti akan menggunakan desain kita. Jadi bagaimana menurut teman-teman? Apakah dengan pendekatan proses desain Die Baupiloten yang berbeda dengan Classical Ordering Procedures yang dilakukan oleh Ecole Des Beaux Arts, berarti desain yang dihasilkan oleh Baupiloten menjadi desain yang tidak baik? Silahkan berkomentar!

Referensi :

http://www.baupiloten.com/wp-content/uploads/2012/06/070604-Mark-Magazine.pdf

http://news.gestalten.com/motion/die-baupiloten

Kuliah Geometri 5 Maret 2014

4 Comments »

  1. sungguh menarik sekali posting anda tentang proses desain yang melibatkan anak-anak. Namun sebenarnya sejauh apa sih anak anak tersebut berkontribusi pada desain? apakah sekedar memberi inspirasi, perspektif baru pada suatu desain, atau hal lainnya? Karena sejauh saya mengikuti studio perancangan, banyak juga hal teknis yang dipahami oleh para professional.

    Comment by ninditovirnantio — March 26, 2014 @ 16:57

  2. *hanya dipahami oleh para professional. maaf heheh typo

    Comment by ninditovirnantio — March 26, 2014 @ 16:59

  3. Halo nindito,
    Saya coba jawab sesuai yg saya tahu, mungkin kalo ada teman yg bs tambahkan silahkan berkomentar. Jika dilihat sekarang2 ini ttg arsitektur anak, biasanya sang arsitek yg mendesain ruangan untuk memenuhi tumbuh kembang anak. Hal simpelnya, TK diberi cat warna warni krn kita sbg org dewasa melihat anak kecil suka dengan hal yg warna warni dan dari aspek psikologis warna dpt mengembangkan daya visual anak. Tp proses desain seperti itu kan brrt sama seperti proses desain arsitek dgn klien dewasa, misalnya saat arsitek mendesain sebuah masjid, arsitek berusaha memainkan cahaya di dalam ruangan utk membuat org yg solat merasa sendu dan khusyuk. Nah, permasalahannya, kita tdk bisa menyamakan persepsi anak dgn persepsi org dewasa. Belum tentu apa yg kita ingin sampaikan lewat arsitektur diterima oleh sang anak sama dgn apa yg kita pikirkan, krn daya imajinasi anak itu jauh luarrrr biasa dan tidak terbatas. Maka itu dr posting saya, ingin menunjukkan salah satu pendekatan desain untuk anak supaya bisa tepat sasaran secara fungsional dan persepsi, yaitu dgn melibatkan anak menjadi ‘sang arsitek’ yaitu penyumbang ide. Jd jika dibilang sebagai penyumbang ide betul, krn ide dalam membuat arsitektur bs dtg drmn saja. Dan anak2 jg merupakan klien yg hrs kita ‘puaskan’ kebutuhan akan ruangnya, sdgkan kita sbg calon arsitek, hrs menerjemahkan ide itu menjadi bentuk arsitektur yang terbangun tentunya:) mudah2an betul ya dan dpf dimengerti🙂

    Comment by nandittafitri — March 27, 2014 @ 02:03

  4. Metode perancangan yang sangat menarik dan menginspirasi. Saya setuju dengan pernyataan anda bahwa melibatkan anak-anak dalam pendekatan desain mampu menghasilkan desain dengan yang tepat sasaran. Hal ini harus diterapkan kepada setiap klien. Menurut saya, anak-anak adalah klien tersulit karena mereka punya dunia sendiri yang sangat imajinatif dengan bahasa yang rumit pula. Oleh karena itu, kita sebagai calon arsitek harus memiliki kemampuan yang baik untuk berinteraksi dengan mereka dan menerjemahkan dunia ideal mereka ke dalam dunia nyata. Terima kasih postingannya.

    Comment by Heru Junaidi — March 27, 2014 @ 12:04


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: